“.. lebih baik menjadi perawan tua yang bahagia daripada menjadi istri yang sengsara, atau gadis murahan, yang keranjingan mencari suami ..” (h. 212)

Sangat besar kemungkinan bahwa perkataan Nyonya March ini merupakan argumentasi dasar Louisa May Alcott atas pilihannya sendiri untuk tetap melajang, sebagaimana tertera dalam profil di pembukaan novel. Kendati gadis-gadis keluarga March telah beranjak dewasa dan mulai mengenal lawan jenis, tidak berarti mereka lepas kendali.

Membayangkan keindahan romansa merupakan hal yang wajar terkait kesukaan mereka membaca. Namun begitu mereka menutup buku, khususnya bagi Jo—yang tidak lain tidak bukan adalah representasi Alcott, kisah cinta yang berbunga-bunga kurang menarik seandainya mereka dipaksa menjadi orang lain. Alih-alih membiarkan putri-putrinya bergaul dengan pria tidak sopan meskipun berkelimpahan, Marmee lebih suka membiarkan mereka dalam “kotak perhiasannya”.

Membesarkan empat orang anak perempuan dengan karakter berlainan selagi suami membaktikan diri di medan perang sungguh tidak mudah. Hebatnya, Marmee tidak pernah mengeluh. Dengan semangat dan cinta kasih yang besar terhadap sesama, ia mengajak keempat putrinya memberikan sarapan mereka kepada tetangga yang kekurangan sebagai hadiah Natal. Wanita ini menggunakan siasat yang cerdik saat mereka berkeinginan menghabiskan liburan dengan bermalas-malasan. Langkah yang patut menjadi inspirasi dalam pola asuh sehat.

“Bekerja itu sehat, dan ada banyak pekerjaan untuk setiap orang; pekerjaan itu membuat kita terhindar dari kebosanan dan kesalahan, bagus untuk kesehatan dan semangat, juga memberi kita perasaan berdaya dan kemandirian yang lebih baik daripada uang atau baju.” (hal. 252)

Ini bukan kali perdana saya membaca karya klasik terjemahan, meskipun ini pertama kalinya saya mengonsumsi secara utuh Little Women [dalam arti bukan saduran]. Semangat yang ditiupkan Louisa May Alcott sama kokohnya dengan yang saya temukan dalam kisah senada mengenai kepala keluarga dalam novel berbobot Geraldine Brooks, Kapten March. Deskripsi kuat karakter Marmee yang mengakui sejujur-jujurnya kepada Jo bahwa ia pun seorang pemarah yang harus menempuh waktu lama, berkat bimbingan sang suami yang sabar, guna meredam temperamennya sungguh memesona. Sebagai orangtua, Marmee tidak menuding, menggurui, apalagi menguliahi berlebihan sambil menempatkan diri sebagai “manusia suci”. Tak pelak, selain Jo sang penulis yang tomboy, Marmee adalah personifikasi wanita tegar yang saya favoritkan. Ketika meresapi cerita yang meluncur pada pergaulan anak-anak March, mata saya digenangi sungai mendapati Amy dihukum sangat keras oleh gurunya karena menyimpan asinan limau. Penghayatan terjemahan yang lebur membuat saya ikut merasa pedih oleh pukulan di tangan gadis cilik itu, menyeret deras pada memori masa kecil [saya juga pernah dipukul guru di depan kelas karena tidak membawa buku PR]. Beth, yang pemalu dan menciut apabila diajak bicara oleh orang asing, membuktikan keteguhan hatinya dengan menunaikan amanat sang ibu agar tetap memerhatikan keluarga Hummel. Kepiluan menikam saat bayi malang yang sakit campak meninggal di pelukan Beth hadir sempurna, mencengkeram urat-urat mata sehingga ingin membalik halaman lagi dan lagi.

Satu daya pikat lain, yang membuat novel ini kian berkilau, adalah permainan kreativitas putri-putri March saat berkemah dan bertemu teman-teman Laurie dari Inggris. Pergesekan budaya menjadikan suasana panas, namun mereka tetap beradu potensi dengan praktik cerita estafet secara lisan. Jadilah bukan sekadar permainan yang menghasilkan tantangan, melainkan betotan imajinasi yang sambar-menyambar dan mengayakan.

“.. Aturlah waktunya untuk bekerja dan bermain, buatlah agar setiap hari itu berguna dan menyenangkan, buktikan bahwa kalian mengerti nilai waktu dengan memanfaatkannya sebaik-baiknya. Dengan demikian masa muda kalian akan menyenangkan, di masa tua nanti tidak akan banyak penyesalan, dan kehidupan menjadi keberhasilan yang mengesankan, meskipun kita miskin.” [hal. 253]

Empat bintang untuk penulisnya, empat bintang untuk penerjemahnya. Karya yang sangat cemerlang sebagai referensi praktisi penerjemahan, terkhusus buku-buku fiksi klasik.

Detail Buku
Judul: LITTLE WOMEN
Penulis: Louisa May Alcott
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Serambi
Cetakan: II, November 2009
Tebal: 489 halaman

Ulasan ini juga dimuat di blog Serambi (Gita Cerita Utama)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)