Sumber: flixster

Menonton ini, saya teringat Guzaarish. Meski pesannya sama, ada sejumlah komponen yang berbeda. Misalnya sang pasien adalah seorang ayah berusia sekitar 60 tahun, Robert (Richard Jenkins). Dia lelah menjalani operasi dua kali sehari dalam waktu-waktu terakhir dan berkeinginan melepaskan mesin penopang hidupnya setelah 12 tahun dirawat karena kanker ganas.

Ada beberapa pelajaran dari film drama keluarga ini:

Cara orang menunjukkan perasaannya berbeda-beda. Suami pernah bilang, “Kadang lebih baik tidak saling tegur sapa atau jarang berjumpa, yang penting tidak bertengkar.” Saya pribadi beranggapan, “Marah belum tentu karena benci” dan “Tidak disapa atau diajak bicara belum tentu karena ada ganjalan”. Tidak semua orang suka memperlihatkan perasaan, tidak jarang mereka malah bingung dan salah tafsir. Dibutuhkan usaha untuk meyakinkan seseorang bahwa kita menyayanginya dan peduli padanya.

Isi saat-saat terakhir dengan kenangan indah. Seperti kata Robert, “The only gifts that last are memories.” Dalam hati saya, “Meski sering kali ingatan itu tergerus banyak hal.” Bila waktu pulang ke rumah abadi sudah dekat, alangkah baiknya memanfaatkan kebersamaan dengan kata-kata yang menyenangkan, tawa, dan boleh juga saling berterus terang. Saya tidak akan membuat Anda bosan dengan pengulangan (saya sendiri sering jemu) “Jangan sampai menyesal”, “Ucapkan perasaan saat ini juga”, dan sebagainya. Nyatanya, kita memang sering menyesal. Akan selalu ada penyesalan.

Walau dalam kesulitan, kita masih bisa membuat orang lain gembira. Saya terkesan sekali oleh karakter Meredith, pasien remaja yang kena kanker mematikan dan kerap kali tampak ceria. Dia bisa marah pada hidup, bisa memikirkan hal-hal yang belum sempat dilakukannya. Di rumah sakit itu, Meredith bisa berbagi dengan Jonathan (Garrett Hedlund) dan keluarganya. Gadis ini dan teman-temannya di bangsal kanker bilang, “We’re old enough to die.”

Selalu ada waktu untuk yang pertama. Setelah sekian tahun tak berjumpa, boleh jadi suasana sangat canggung. Tapi ada saatnya sesama saudara bisa bicara dengan tenang, ayah-anak saling memaafkan, bahkan anak melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikir sebelumnya.

Setiap keputusan mengandung risiko dan pasti ada pertentangan. Bukan hanya keinginan Robert untuk berhenti mengonsumsi obat dan mencabut mesin penopang hidup,

Spoiler Inside SelectShow
.

Kita bisa belajar memahami alasan seseorang, apalagi jika dia sudah lama merasakan dan menghadapi segala sesuatunya. Belajar menghormati keinginan orang yang kita sayangi. Robert berkata, “I want to say goodbye.” Di sini, saya teringat film My Sister’s Keeper. Sesungguhnya manusia memang egois, menangis karena tidak tahu harus menjalani hidup setelah yang disayangi berpulang, sedangkan yang ditangisi sebenarnya telah ikhlas mengakhiri perjalanan di dunia.

Sebagai penutup, Garrett Hedlund benar-benar memikat hati saya. Juga suara empuknya di lagu ini. Sungguh mengharukan.

Sumber: flixster Menonton ini, saya teringat Guzaarish. Meski pesannya sama, ada sejumlah komponen yang berbeda. Misalnya sang pasien adalah seorang ayah berusia sekitar 60 tahun, Robert (Richard Jenkins). Dia lelah menjalani operasi dua kali sehari dalam waktu-waktu terakhir dan berkeinginan melepaskan mesin penopang hidupnya setelah 12 tahun dirawat karena kanker ganas. Ada beberapa pelajaran dari film drama keluarga ini: Cara orang menunjukkan perasaannya berbeda-beda. Suami pernah bilang, "Kadang lebih baik tidak saling tegur sapa atau jarang berjumpa, yang penting tidak bertengkar." Saya pribadi beranggapan, "Marah belum tentu karena benci" dan "Tidak disapa atau diajak bicara belum tentu karena ada ganjalan". Tidak semua orang suka memperlihatkan perasaan, tidak jarang mereka malah bingung dan salah tafsir. Dibutuhkan usaha untuk meyakinkan seseorang bahwa kita menyayanginya dan peduli padanya. Isi saat-saat terakhir dengan kenangan indah. Seperti kata Robert, "The only gifts that last are memories." Dalam hati saya, "Meski sering kali ingatan itu tergerus banyak hal." Bila waktu pulang ke rumah abadi sudah dekat, alangkah baiknya memanfaatkan kebersamaan dengan kata-kata yang menyenangkan, tawa, dan boleh juga saling berterus terang. Saya tidak akan membuat Anda bosan dengan pengulangan (saya sendiri sering jemu) "Jangan sampai menyesal", "Ucapkan perasaan saat ini juga", dan sebagainya. Nyatanya, kita memang sering menyesal. Akan selalu ada penyesalan. Walau dalam kesulitan, kita masih bisa membuat orang lain gembira. Saya terkesan sekali oleh karakter Meredith, pasien remaja yang kena kanker mematikan dan kerap kali tampak ceria. Dia bisa marah pada hidup, bisa memikirkan hal-hal yang belum sempat dilakukannya. Di rumah sakit itu, Meredith bisa berbagi dengan Jonathan (Garrett Hedlund) dan keluarganya. Gadis ini dan teman-temannya di bangsal kanker bilang, "We're old enough to die." Selalu ada waktu untuk yang pertama. Setelah sekian tahun tak berjumpa, boleh jadi suasana sangat canggung. Tapi ada saatnya sesama saudara bisa bicara dengan tenang, ayah-anak saling memaafkan, bahkan anak melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikir sebelumnya. Setiap keputusan mengandung risiko dan pasti ada pertentangan. Bukan hanya keinginan Robert untuk berhenti mengonsumsi obat dan mencabut mesin penopang hidup,
Spoiler Inside SelectShow
. Kita bisa belajar memahami alasan seseorang, apalagi jika dia sudah lama merasakan dan menghadapi segala sesuatunya. Belajar menghormati keinginan orang yang kita sayangi. Robert berkata, "I want to say goodbye." Di sini, saya teringat film My Sister's Keeper. Sesungguhnya manusia memang egois, menangis karena tidak tahu harus menjalani hidup setelah yang disayangi berpulang, sedangkan yang ditangisi sebenarnya telah ikhlas mengakhiri perjalanan di dunia. Sebagai penutup, Garrett Hedlund benar-benar memikat hati saya. Juga suara empuknya di lagu ini. Sungguh mengharukan. http://youtu.be/FrY7fXBMOhA

Kesan Rinurbad

Cerita - 10
Musik - 9.8
Akting - 9.8

9.9

Film bagus

Buat saya, menonton ini jadi semacam terapi.

User Rating: Be the first one !
10

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)