Ki-ka: Reita, Lisa, Lulu, Mei, saya, dan Uci Kalau sudah sering mengobrol dan berdiskusi, memang tidak mudah mencari pertanyaan yang "tepat" dan relatif "baru" untuk diajukan. Karena itu, saya butuh waktu untuk merumuskannya. Ini dia cerita Lulu Fitri Rahman, penerjemah dengan karya terbaru Bikepacker (Kaifa), mengenai penyuntingan dan penerjemahan. 1. Penerjemah seperti apa yang disukai editor/penerbit? Sebenarnya ini sangat subjektif. Tapi menurutku, semua editor pasti menyukai penerjemah yang bisa menerjemahkan teks secara akurat dengan menggunakan bahasa Indonesia yang luwes, memenuhi tenggat pengumpulan, serta bersedia diajak berkomunikasi atau bertukar pikiran. Intinya, editor dan penerjemah itu sebenarnya mitra, jadi kalau bisa saling meringankan pekerjaan. 2. Menurut Lulu, mengapa penerbit tidak memberitahu apabila ada pelamar/peserta seleksi terjemahan yang tidak lolos? Kalau aku ingat pengalaman dulu, mungkin tidak sempat saja :p. Setelah kembali menjadi penerjemah purnawaktu, aku baru menyadari mungkin ada baiknya penerjemah dikabari untuk mendapat kepastian. 3. Apakah bisa terlihat dari hasil tes, penerjemah yang lebih cocok menggarap fantasi atau drama misalnya? Atau lebih pas menggarap nonfiksi? Indikatornya dari mana? Ada yang bilang bisa. Tapi menurutku pribadi, semua naskah itu sama-sama menyampaikan cerita, baik nonfiksi maupun fiksi, jadi perlu diperlakukan sama dan menuntut kemampuan yang sama. Setahuku, biasanya editor memberikan bahan tes untuk buku yang akan dikerjakan atau yang setipe dengan itu. Jadi penilaian lebih dititikberatkan pada kemampuan si penerjemah memahami tugas di hadapannya, terlepas dari genrenya. 4. Berapa lama tenggat ideal mengerjakan satu buku terjemahan? Tak bisa dipukul rata, tergantung materi dan ketebalan buku. Penerjemahan klasik bisa menyita waktu lebih banyak misalnya. Lebih baik penerjemah tidak dipaksa dan memaksa diri bekerja cepat-cepat, karena khawatir hasilnya tidak maksimal. 5. Apa yang membuat seorang penerjemah tidak dipekerjakan lagi? Banyak. Tapi buatku pribadi, yang paling menyebalkan adalah mandeknya komunikasi dengan si penerjemah. Mundur dari tenggat menurutku wajar, asal jangan sampai sulit dihubungi dan harus dikejar-kejar. Soalnya, proses produksi buku akan tersendat-sendat gara-gara masalah ini. Kedua, terjemahan yang tidak akurat. IMHO, keliru menerjemahkan atau salah ketik sedikit itu bukan dosa besar. Tapi jika setiap kalimat diterjemahkan dengan ngawur, tentu perlu dipertanyakan sejauh mana penerjemah memahami teksnya. Ketiga, mungkin memang penerbit sedang kehabisan naskah untuk diterjemahkan :D. Jadi bukan karena pekerjaan si penerjemah yang buruk. 6. Adakah penerjemah yang mampu menggarap berbagai genre sama baiknya? Kira-kira apa penyebabnya? Prinsipku, setiap pekerjaan yang datang perlu diperlakukan dengan sama seriusnya. Genre itu sebenarnya masalah minat. Jika si penerjemah mendapat naskah yang disenanginya, insya Allah hasilnya lebih baik. 7. Kemampuan nonteknis apa saja yang perlu dimiliki penerjemah? Apa ya? Mungkin nggak beda dengan kemampuan yang diperlukan dalam profesi lainnya. Tapi yang utama menurutku memiliki integritas, komitmen, kreativitas, serta kemampuan untuk memasarkan diri, berkomunikasi, dan bernegosiasi. 8. Penerjemah seperti apa yang dapat "keistimewaan" menentukan deadline sendiri atau memilih buku yang akan dikerjakan? Tentu penerjemah yang sudah dipercaya editornya. Tapi untuk mendapatkan kepercayaan ini, mungkin cukup panjang jalan yang harus ditempuh, dan aku sendiri masih berusaha menggapai taraf "keistimewaan" tersebut. :)

User Rating: Be the first one !
0
Ki-ka: Reita, Lisa, Lulu, Mei, saya, dan Uci

Ki-ka: Reita, Lisa, Lulu, Mei, saya, dan Uci

Kalau sudah sering mengobrol dan berdiskusi, memang tidak mudah mencari pertanyaan yang “tepat” dan relatif “baru” untuk diajukan. Karena itu, saya butuh waktu untuk merumuskannya. Ini dia cerita Lulu Fitri Rahman, penerjemah dengan karya terbaru Bikepacker (Kaifa), mengenai penyuntingan dan penerjemahan.
1. Penerjemah seperti apa yang disukai editor/penerbit?
Sebenarnya ini sangat subjektif. Tapi menurutku, semua editor pasti menyukai penerjemah yang bisa menerjemahkan teks secara akurat dengan menggunakan bahasa Indonesia yang luwes, memenuhi tenggat pengumpulan, serta bersedia diajak berkomunikasi atau bertukar pikiran. Intinya, editor dan penerjemah itu sebenarnya mitra, jadi kalau bisa saling meringankan pekerjaan.
2. Menurut Lulu, mengapa penerbit tidak memberitahu apabila ada pelamar/peserta seleksi terjemahan yang tidak lolos?
Kalau aku ingat pengalaman dulu, mungkin tidak sempat saja :p. Setelah kembali menjadi penerjemah purnawaktu, aku baru menyadari mungkin ada baiknya penerjemah dikabari untuk mendapat kepastian.
3. Apakah bisa terlihat dari hasil tes, penerjemah yang lebih cocok menggarap fantasi atau drama misalnya? Atau lebih pas menggarap nonfiksi? Indikatornya dari mana?
Ada yang bilang bisa. Tapi menurutku pribadi, semua naskah itu sama-sama menyampaikan cerita, baik nonfiksi maupun fiksi, jadi perlu diperlakukan sama dan menuntut kemampuan yang sama. Setahuku, biasanya editor memberikan bahan tes untuk buku yang akan dikerjakan atau yang setipe dengan itu. Jadi penilaian lebih dititikberatkan pada kemampuan si penerjemah memahami tugas di hadapannya, terlepas dari genrenya.
4. Berapa lama tenggat ideal mengerjakan satu buku terjemahan?
Tak bisa dipukul rata, tergantung materi dan ketebalan buku. Penerjemahan klasik bisa menyita waktu lebih banyak misalnya. Lebih baik penerjemah tidak dipaksa dan memaksa diri bekerja cepat-cepat, karena khawatir hasilnya tidak maksimal.
5. Apa yang membuat seorang penerjemah tidak dipekerjakan lagi?
Banyak. Tapi buatku pribadi, yang paling menyebalkan adalah mandeknya komunikasi dengan si penerjemah. Mundur dari tenggat menurutku wajar, asal jangan sampai sulit dihubungi dan harus dikejar-kejar. Soalnya, proses produksi buku akan tersendat-sendat gara-gara masalah ini.
Kedua, terjemahan yang tidak akurat. IMHO, keliru menerjemahkan atau salah ketik sedikit itu bukan dosa besar. Tapi jika setiap kalimat diterjemahkan dengan ngawur, tentu perlu dipertanyakan sejauh mana penerjemah memahami teksnya.
Ketiga, mungkin memang penerbit sedang kehabisan naskah untuk diterjemahkan :D. Jadi bukan karena pekerjaan si penerjemah yang buruk.
6. Adakah penerjemah yang mampu menggarap berbagai genre sama baiknya? Kira-kira apa penyebabnya?
Prinsipku, setiap pekerjaan yang datang perlu diperlakukan dengan sama seriusnya. Genre itu sebenarnya masalah minat. Jika si penerjemah mendapat naskah yang disenanginya, insya Allah hasilnya lebih baik.
7. Kemampuan nonteknis apa saja yang perlu dimiliki penerjemah?
Apa ya? Mungkin nggak beda dengan kemampuan yang diperlukan dalam profesi lainnya. Tapi yang utama menurutku memiliki integritas, komitmen, kreativitas, serta kemampuan untuk memasarkan diri, berkomunikasi, dan bernegosiasi.
8. Penerjemah seperti apa yang dapat “keistimewaan” menentukan deadline sendiri atau memilih buku yang akan dikerjakan?
Tentu penerjemah yang sudah dipercaya editornya. Tapi untuk mendapatkan kepercayaan ini, mungkin cukup panjang jalan yang harus ditempuh, dan aku sendiri masih berusaha menggapai taraf “keistimewaan” tersebut. 🙂

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)