Lokasi: Saung Legit

Istilah ini saya pinjam dari Jeng Dhewiberta Hardjono, editor fiksi Bentang. Dalam sebuah diskusi, ia mengatakan bahwa yang tepat adalah manajemen energi, bukan waktu (yang tak pernah berkesudahan alias tak nemu juga jurus efektifnya). Dengan kata lain, percuma berusaha disiplin waktu tanpa mengelola energi dan mengenali tubuh sendiri.

Menyangkut perkara itu, saya baru tahu tiga hal:

1. Saya lebih konsentrasi bekerja pada pagi hari (atau subuh, kalau bisa) dan sore/sesudah Maghrib. Yang pertama lebih sering, karena benar-benar masih segar. Bukan sekadar hening.

2. Stamina berpikir saya melemah sewaktu haid hari-hari pertama. Biasanya saya libur total pada hari-hari ini dan lebih banyak rebahan, atau bekerja sebentar sekali.

3. Istirahat berarti bukan hanya fisiknya, tapi juga otaknya. Oleh sebab itu, saya tidak suka membawa-bawa netbook sewaktu makan di luar, misalnya, supaya perangkat kerja bisa istirahat juga. Sewaktu tidur siang pun, ponsel saya matikan. Minimal di-silent.

Ternyata, urusan libur pun perlu dikelola dengan bijaksana karena relevan dengan kesehatan pula. Memang jeda dibutuhkan agar tidak jenuh dan badan mau tak mau digerakkan serta tidak kaku. Berdasarkan pengalaman, (ikut-ikutan) libur di saat akhir pekan tidak selalu menyegarkan. Jujur saja, bila hendak bepergian esok harinya, apalagi kalau sudah lama tidak keluar rumah, saya mengurangi kerja. Biasanya setengah hari saja agar tidur cukup dan keesokannya segar menempuh perjalanan yang lumayan jauh (baca: ke kota Bandung atau menjenguk saudara).

Walau sudah disiasati demikian, kemacetan akhir pekan membuat badan tetap lelah. Sampai rumah, tepar bahkan pegal-pegal hingga besoknya juga. Lebih kerap lagi, ada kewajiban sosial pada akhir pekan yang cukup dimaklumi demi ‘keseragaman’ jadwal semisal rapat RT, kerja bakti dan kondangan. Maka jalan-jalannya harus dipersingkat agar tidak terlambat.

Tanpa mengurangi rasa hormat pada para pengundang dan yang menyelenggarakan hajatan, kondangan bukan kegiatan refreshing.

Singkatnya, jeda ringan seperti ke ATM dan belanja bulanan pun jauh lebih terasa menyehatkan di hari kerja (waspadai cuti bersama, kalau sering lupa tengok kalender).

Mengapa ada foto makanan tersisip di sini? Menurut saya, ini bagian dari manajemen energi tadi. Menginjak rem kala menghadapi makanan enak (yang biasanya dijadikan imbalan kerja keras, apalagi lembur) bukan hanya berlaku di waktu Lebaran. Makan banyak gorengan, minum es tanpa mengacuhkan takaran, gurih-gurih berlebihan setelah badan digenjot bekerja, hasilnya… bukan seru, tapi pusing dan tidak enak badan.

Memang sakit adalah pertanda badan minta libur, tapi jika tiap libur jadi sakit dan bukannya segar atau langsung siap bekerja kembali (baca: malah molor cutinya), berarti ada yang salah. Harapan saya, dengan cara ini badan tidak teraniaya lagi.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Manajemen Energi ”

  1. gravatar Retnadi Reply
    December 20th, 2011

    wah menarik istilahnya πŸ™‚ pagi memang waktu yg pas buat kerja dgn konsentrasi tinggi. kapan2 aku posting serupa ah πŸ˜€ makasih mb rin πŸ™‚

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 20th, 2011

      Sama-sama, No. Ditunggu ya postingannya:D

Leave a Reply

  • (not be published)