Penulis: Surianto Rustan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2012

Tebal: 180 halaman

Harga: Rp70.000,00

 

Kerja sambil bersungut-sungut karena kondisi kerja yang tidak enak, maka tidak akan jadi berkah bagi hidupku dan keluargaku.

 

 

Untuk menyederhanakan, memang ini buku motivasi. Saya pribadi tersentak oleh judulnya yang berani dan tema yang berbeda dari buku beliau yang sudah-sudah. Namun mengingat penulisnya orang kreatif, saya meyakini ada keberbedaan dalam buku terbarunya ini.

Pada prinsipnya, motivasi mengandung unsur yang mirip alias beda-beda tipis. Suguhan penulis bersumber dari pengalaman pribadi dan di salah satu halaman, dia menegaskan bahwa dirinya bukan motivator, cenayang, psikolog, sejarawan, filsuf, dan sejenisnya. Menurut penulis, apa yang dia paparkan memang cocok bagi diri sendiri namun belum tentu untuk orang lain.

Jadilah kalimat-kalimat yang jika dibukutebalkan akan terasa seperti pengulangan hadir secara segar. Ada latar foto, permainan teks, dan ramuan kreatif lainnya yang memesona mata. Ini disebut penulis “format gado-gado”. Sedikit perbedaan yang dinyatakannya, dendam tidak mengapa asalkan bisa diubah menjadi mesin pemanas semangat dan berkarya. Ini senada dengan buku seorang pelaku kreatif lain yang saya terjemahkan, bahwa amarah bisa disalurkan untuk memecut diri sendiri menjadi lebih baik.

Yang sangat menohok adalah di bawah ini:

Menyalahkan orang lain

yang pernah mengatai,

menuduh, menyakiti hati,

itu sah-sah saja.

Itu juga mekanisme

alami manusia,

sama seperti tempurung.

Tapi, kalau cuma berhenti

di “menyalahkan orang lain”

apa gunanya?

Tidak akan

membuat mereka

tutup mulut.

Dengan cerdik, penulis mengibaratkan hidup dan risiko selaku satu paket dengan sepasang sepatu. Tak bisa dipakai hanya sebelah.

Favorit saya lainnya:

[sws_green_box box_size=”100″] Fokus itu

  • selalu berpikiran positif
  • tidak mengurusi masalah orang lain
  • tidak menggunjingkan orang lain
  • tidak memedulikan gunjingan terhadap diri kita [/sws_green_box]

Seumpama hidup adalah mendaki gunung, penulis mengestimasi usia rata-rata manusia 70 tahun. Manusia tidak bisa di puncak terus walaupun betah. Ketika saatnya turun, ya harus turun. Berarti puncak tersebut di usia 35 tahun, dan usia saya sekarang 36 tahun, jadi… (saya teruskan dalam hati)

Saya sependapat dengan salah satu testimoni buku ini:

Membaca dan melihat pikiran Surianto itu asyik tapi berbahaya! Ada brutalitas di balik ungkapannya yang lugu; hal biasa dinilai kembali jadi perenungan yang dalam. Pada akhirnya (mudah-mudahan) Anda mendapatkan nilai-nilai terang yang menginspirasi.
— Eka Sofyan Rizal; Dosen & Desainer Grafis

 

Anehnya, “brutalitas” itu tidak membuat saya pesimistis. Merenung dan merasa diingatkan, lebih tepat.

Menyela dan menertawakan orang lain,

anak kecil pun bisa melakukannya

Tapi, menyela dan menertawakan diri sendiri?

Cuma bisa dilakukan oleh yang berjiwa dewasa

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Mari Berhitung Sisa Hidupmu ”

  1. gravatar Nunik Utami Reply
    July 11th, 2013

    Kutipannya dalam-dalam banget. Dan, aku jadi merenung lagi setelah baca konsep hidup yang mendaki gunung itu.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      July 12th, 2013

      Pas banget ya:)

Leave a Reply

  • (not be published)