Desainer cover: Anne Mariane

 

Bila ditanya mengenai keberbedaan novel India yang diterbitkan M-Pop, lini drama Matahati, ini dibandingkan yang sudah ada, saya akan menjawab:
1. Penulisnya lelaki, tapi novelnya termasuk genre drama. Semi pop, karena bersetting perkotaan.
2. Penulisnya muslim.
3. Karakter utamanya lelaki.
4. Banyak pesan terkandung dalam cerita yang bermuatan budaya, tradisi dan romansa. Misalnya dalam petikan ini:
“God makes sure that whatever good we do doesn’t go unrewarded.”

“If love and virtue in the household reign, This is life of the perfect grace and gain.”

“But nobody ever said that being a man is easy.”

“”Aruna, sometimes in life you have to be selfish.”

Menerjemahkan novel Mr. Zama amat nikmat, terlepas dari tuturannya yang rinci dan kadang ada mislijk karakter, terima kasih kepada editor saya yang selalu terbuka untuk diskusi: Lulu Rahman.

Terlalu banyak yang mengesankan dalam pengerjaan buku ini, mulai dari penerjemahan yang memakan waktu satu bulan saja saking leburnya saya dalam cerita (total satu setengah bulan tapi tersela merevisi terjemahan lain, sepengetahuan editor tentu saja), kisahnya yang saya banget (baca: India dan menyentuh), penulisnya yang ramah sekali saat dikontak lewat e-mail, kemampuan beliau yang mengagumkan karena tidak banyak pengarang yang ‘berani’ menulis drama romansa, sampai pertanyaan para pembaca yang sampai hari ini menyayangkan sekuelnya tidak diterbitkan/diterjemahkan lagi.

Banyak nasihat saya raup dari novel ini, di antaranya:

“Tambang adalah tempat kerja yang berat dan aku mengira akan mendapati mandor yang sedang membentak-bentak pekerja. Ternyata mandor itu seorang pria santun berkacamata bundar yang duduk di kantor sementara para pekerja membanting tulang di bawah terik matahari. Aku terkejut dan bertanya bagaimana dia bisa mengarahkan orang-orangnya bekerja sedemikian rupa. Mandor itu bilang, dia membayar mereka dengan harga satuan. Pemotong batu, operator gergaji, petugas angkut… semua pekerja mendapat jumlah tertentu per hasil yang dicapai. Mereka yang mengatur sendiri dan jika ada yang bermalas-malasan, mereka juga yang mengeluarkannya karena orang itu akan memengaruhi semua pihak.”

Kemudian ucapan Rehman menanggapi ketidaksukaan orangtua akan pekerjaan yang dipilihnya:

“Abba boleh saja tidak suka, tapi yang kulakukan ini penting. Bila Abba tidak setuju, aku minta maaf. Aku tidak bisa berbuat apa-apa soal itu.”

Saya pun senang sekali sikap Mr. Ali yang melindungi istri dan memperlakukan asistennya, Aruna, seperti anak sendiri. Terlihat dalam dialog ini:

Mrs. Ali keluar dari rumah. Dia berujar, “Sebelum kau datang, dia membentak-bentak Aruna. Dia bahkan meneriaki aku, menyebut kita tukang tipu.”

“Oh,” Mr. Ali tersentak. “Seharusnya kau beritahu aku. Akan kusuruh dia minta maaf pada kalian berdua.”

Saking sukanya novel ini, saya sengaja membeli lanjutannya.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)