Kalau Anda googling dengan kata kunci “spouse freelancer”, bermunculanlah cerita wanita bersuamikan pekerja lepas atau sebaliknya. Jarang, bahkan sulit, menemukan pasangan yang sama-sama bukan orang kantoran. Atau lebih persisnya, sama-sama sering di rumah alias tidak perlu keluar untuk bekerja.

Sewaktu Mas Agus menghadapi tenggat merapat, saya teringat wawancara majalah Femina lama dengan beberapa istri seniman. Salah satu narsum, istri seorang pelukis, bercerita bahwa menjelang pameran suasana hati suaminya harus sangat dijaga. Kalau bisa, bunyi jarum jatuh pun jangan sampai terdengar. Terkait pekerjaan, Mas Agus bukan seniman-seniman amat. Tapi pribadinya justru tak kalah sensitif lantaran menekuni kegiatan pengerik kaca (itu istilah dia), pernah main teater, dan sejenisnya. Ketika memasak pun dia tidak suka diganggu telepon, kecuali darurat.

Setelah menilik pengalaman yang lalu-lalu, saya putuskan menerapkan strategi baru. Idealnya ketika suami sibuk, saya cuti dulu supaya konsentrasi mengurus rumah tangga dan tidak ambruk kecapekan. Bila satu butuh bantuan, yang satunya tidak kelewat pusing membagi waktu. Namun karena ini kondisi ideal, alangkah baiknya menyisihkan dana untuk sekian lama. Itu jurus khas orang cuti, memang. Tak bisa dimungkiri keuangan yang jadi penyebab. Bila honor istri terlambat cair misalnya, honor suami jadi payung penyelamat. Kalau dua-duanya telat, apa boleh buat:))

Karena satu dan lain hal, keadaan belum memungkinkan untuk cuti sekian bulan. Masih ada pekerjaan yang harus dituntaskan namun siasatnya, tenggat relatif panjang. Langsung bisa bernapaskah saya? Tunggu dulu:D

Belakangan kami kerja satu meja di ruangan yang paling tidak dingin di rumah ini. Kadang oper-operan tugas, Mas Agus kerja saya mencuci di belakang, dan saya atur waktu untuk pekerjaan sendiri agar tetap diangsur dengan konsentrasi penuh. Apa daya, ada faktor X bernama pemadaman bergilir. Sekarang seringnya gangguan mendadak, bukan jadwal pemadaman yang biasa kami atasi dengan ngungsi ke kota sebelah. Saya tidak mau menyalahkan PLN, hanya lumayan stres jika padam pagi-pagi sekali atau di tengah kerja. Khususnya ketika Mas Agus sudah di-SMS berkali-kali.

Saat listrik menyala lagi, kami seperti orang asing yang siap “meledak” jika tersenggol. Mengumpulkan mood yang terputus, nyureng melototi layar laptop, dan diam seribu bahasa. Demi kedamaian dunia persilatan, saya pindah ke kamar. Mejanya jauh lebih sempit, saya tidak bisa mengajak monitor besar masuk kemari. Hawanya lebih dingin, di samping itu membawa pekerjaan ke tempat beristirahat sebenarnya pantangan buat saya. Namun tak mengapa, ketegangan bisa dikendurkan. Dalam situasi tertentu, pasangan mirip baris kalimat di Word. Perlu spasi ganda atau Condensed Font sekadar untuk meregang:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Masa-masa Genting ”

  1. gravatar lulu Reply
    January 25th, 2014

    Itu dia, Rin. Aku juga pinginnya punya kamar kerja sendiri, karena sejauh ini aku kerja di kamar tidur dengan kasur yang begitu menggoda di sebelahku hehe… Makanya tadi aku tanya di WA, “Rini kerja sebelahan sama apa?” Kadang kasur itu a big no no buat freelance ya :p

    • gravatar Rini Nurul Reply
      January 25th, 2014

      Kasurnya di belakangku sih, Lul. Tapi kamarku memang redup dan bawaannya mau goleran mulu:))

Leave a Reply

  • (not be published)