Sewaktu menerjemahkan, saya biasa memecah file per bab. Secara psikologis, ini membantu untuk meminimalisir tekanan akibat terobsesi volume (pinjam istilah Nur Aini) dan menghitung-hitung halaman. Secara teknis, menghindari hang karena ukuran dokumen yang terlalu besar. Pernah juga saya dan seorang teman mengalami, ukuran file yang tidak dipecah ini menjadikannya error dan bahkan tidak bisa dibuka. Lupa sih, persisnya, karena makro atau apa.

Sembari bekerja, saya menyiapkan ‘versi lain’ yang sudah digabungkan juga. Ini memudahkan, misalnya, ketika saya harus mengoreksi satu kata/nama. Tinggal Ctrl+F atau Ctrl+H bila memungkinkan. Belum lagi ada klien penerbit yang minta dikirimi file yang disatukan itu untuk mempercepat penghitungan karakter.

Namun sesungguhnya untuk menyunting, yang ideal adalah bab-bab terpisah. Arahan ini belum lama saya peroleh dari seorang editor penanggung jawab. Beliau minta saya memecah seluruh file terjemahan. Mengapa ini merepotkan? Bayangkan bila naskah yang diterjemahkan sangat tebal. Seperti yang saya sunting tahun lalu, buku aslinya hampir 1000 halaman dengan ukuran font 8-9 dan satu spasi saja. Terjemahannya sudah pasti bengkak sampai 1,5 kalinya. Mengingat saya jarang mematikan Track Changes (selalu menampilkan Final Showing Markup), tentu saja akan semakin berat tampilan file-nya.

Teknologi merupakan salah satu fasilitas pendukung kerja. Scan yang bisa menghasilkan (konversi) file Word, contohnya. Saya sendiri pernah menempuh itu, untuk naskah yang relatif tipis, katakanlah 200-an halaman. Tetap saja ini kerja dua kali, sebab harus merapikan hasil scan yang kadang terpotong sedikit (biasanya di bawah atau huruf terujung). Asal scan dan konversi mengakibatkan masalah ‘sepele’ tapi memusingkan seperti ini.

Masih soal teknologi, saya tak menampik perlunya kamus offline (dalam arti software) kendati tak bisa dikatakan superlengkap sebagai referensi. Sering-sering mengakses internet adakalanya jadi bumerang, maka yang offline ini menjadi perlu. Apalagi jika koneksi tidak stabil. Kembali, software tersebut tidak bisa diandalkan seratus persen. Menurut saya, yang cetak tetap dibutuhkan. Contohnya, sewaktu mati listrik. Dan, amit-amit, sewaktu komputer bermasalah/harus format ulang/kena virus ganas. Bukan menakut-nakuti, tapi saya pernah mengalami dan seperti orang bengong berhari-hari karena bekerja hanya meraba-raba.

Semoga curhat ini ada manfaatnya.

 

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)