Postingan Nui yang dimulai dengan ketidakmutlakan latar belakang akademis untuk menjadi penerjemah membuat saya ingin mengingat-ingat mata kuliah yang “relevan” dengan profesi penerjemah. Kalau menyunting sih, tidak terlalu memang. Dulu ada anggapan kuat bahwa editor haruslah lulusan Editing, waktu itu program D3 jurusan Sastra Indonesia.

Sebagaimana semua aktivitas yang berkaitan dengan tulis-menulis, mata kuliah bahasa Indonesia sangat berkontribusi. Anak kalimat, induk kalimat, kalimat majemuk, tidak habis-habisnya dibahas karena kelak terbukti memang perlu. Yang paling saya ingat adalah tugas akhir semester dari Ibu Dosen yaitu mencari kesalahan ketik/eja di skripsi. Sedangkan oleh dosennya, Mas Agus ditugaskan mencari kesalahan itu di media cetak. Karena masa itu, awal tahun 90-an, menemukan kesalahan tersebut relatif tidak mudah, dia mencari di majalah bulanan terkemuka terbitan tahun 80-an.

Oh ya, sebelum melanjutkan, ada yang perlu saya sampaikan. Lain dengan Nui yang mengantongi gelar master atau teman-teman lain yang rampung tepat waktu, saya bukan mahasiswa teladan atau berprestasi cemerlang. Saya menempuh kuliah 14 semester, bahkan harus mengajukan dua kali permohonan perpanjangan studi karena masuk tahun 1994 dan lulus sidang akhir di awal tahun 2002.

Sudah tentu praktik-praktik dan latihan semasa kuliah lebih dapat diterapkan ketika menerjemahkan dan menyunting bahasa Prancis. Memasuki Bahasa Prancis Modern V (kalau tak salah) di semester V, kami diharuskan bisa membaca buku teks dan langsung menerjemahkannya secara lisan. Sebelum itu, tugas-tugas membuat saya teringat para Mam’zelle di seri St. Clare dan Malory Towers. Memang berat, walaupun setidaknya dosen kami tidak sebentar-sebentar berkata, “Méchante fille!” atau “C’est abominable!” seperti di kedua seri itu. Ketika saya mendapat tugas tambahan (alias hukuman) membaca buku pilihan dosen dan mengulasnya secara lisan karena nilai suatu mata kuliah yang kurang memuaskan, saya ngos-ngosan dan terpikir, begitulah Darrell Rivers dan kawan-kawan menghafal sajak Prancis menjelang ujian:))

Jadi jangan bayangkan saya rakus membaca buku ketika kuliah. Saya ke perpustakaan untuk membaca yang ditugaskan dosen saja. Sehari-hari saya pilih baca majalah yang santai sampai kena tegur dosen (yang sempat jadi teman main semasa sama-sama jadi mahasiswa), “Coba ya ditingkatkan bacaannya!” Karena itulah, saya belum ingin dan belum pede menerjemahkan buku-buku sastra berbahasa Prancis yang terkenal, apalagi yang pernah dibahas di bangku kuliah seperti Les Misérables. Sengsara betulan membacanya dulu, ibarat buku sastra lama Tak Putus Dirundung Malang:p

Keuntungan kami adalah diajar tenaga penutur asli, lupa dulu istilahnya apa. Relatif terbiasa dengan pengucapan, jadi kebanggaan tersendiri ketika bisa melafalkan R Prancis di semester dua, dan yaah… lumayan manggut-manggut menyimak lirik lagu Celine Dion. Hanya saja saya belum mampu membedakan dialek. Tapi semua bekal itu berguna sekali untuk… menonton film Prancis semacam Les Choristes:))

Orang bilang bahasa Prancis itu romantis (dan mungkin bisa dipakai merayu?). Harus diakui saya yang pemalu ini terbantu dalam pergaulan, karena ditanya cowok-cowok… tentang sepakbola. Minimal cara membaca nama pemain bola yang benar. Atau jadi referensi teman-teman yang modis mengenai cara baca merek-merek kosmetik dan tas dari Prancis. Mereka tidak tahu bahwa di mata kuliah Sejarah Kebudayaan Prancis II, saya mabuk menghafal gastronomi dan hasil-hasil bumi Prancis sambil membaca peta buta. Nilainya? Ya pas-pasan, deh.

Tentu saja ada mata kuliah Teori Terjemahan, Pengantar Teori Terjemahan, dan Terjemahan Prancis-Indonesia. Saya masih ingat para pengajarnya, salah satunya sudah berpulang ke rahmatullah. Ada juga yang materinya bikin keringat dingin sampai saya berdoa dapat C saja tidak apa-apa, asalkan tidak perlu mengulang. Saya mengambil spesialisasi Linguistik di semester ketujuh. Entah apakah yang ambil Sastra (sehingga telaah skripsinya berupa roman, drama, dan puisi) memperoleh pelajaran terjemahan secara khusus atau tidak.

Entah di mata kuliah yang mana, dosen memberi kami materi selembar kertas berisi dua alinea saja untuk diterjemahkan. Kok dikit amat? Percaya atau tidak, mengalihbahasakan satu alinea bisa memakan waktu setengah semester. Meskipun kamusnya sama, pendapat dan pilihan kata tiap mahasiswa bisa jadi berlainan. Belum lagi diselaraskan dosen, ditanya kenapa pilih itu, merangkai kalimat yang dimengerti, dan seterusnya. Waktu itu materinya mengenai barong dan rangda.

Sampai kini, kamus yang diperoleh susah-payah 20 tahun silam itu masih ada. Lengkap dengan coretan stabilo dan tulisan tangan yang menurut Mas Andityas Prabantoro, manajer redaksi Mizan, “semacam vandalisme”.

Salah satu materi kuliah yang seru adalah pembahasan komik. Tapi jangan kira mempelajarinya seasyik menerjemahkannya, apalagi ketika komik tersebut jadi subjek skripsi. Tanpa mengurangi rasa hormat pada penerjemah ke bahasa Prancis, saya pening membaca komik Mafalda di perpustakaan. Saya senang dapat membaca Tintin dan Asterix dalam bahasa aslinya, namun harus mengakui kepiawaian Ibu Rahartati Bambang Haryo karena versi Indonesianya jauh lebih kocak. Lumrah rasanya bila saat-saat keringat dingin terulang ketika saya menantang diri sendiri menerjemahkan komik Prancis. Meminjam istilah anak gaul masa kini, “Waktu Indonesia bagian mimpi buruk zaman kuliah muncul lagi.”

Mata kuliah terberat, meskipun masih bersifat umum, adalah Filsafat. Dalam hal ini, saya merasa senasib dengan mahasiswa jurusan sosial. Dasar-dasar Filsafat pun saya harus mengulang. Ketika Bapak bertanya, saya jawab, “Pak, sastra itu humaniora, bukan sosial dan filsafat itu bukan hafalan.” Di zaman saya, ada teman mahasiswa hukum kampus lain yang tidak bisa wisuda dulu meskipun sudah lulus sidang akhir. Kenapa? Dia belum lulus filsafat.

Pada dasarnya semua yang dipelajari, diajarkan, dibaca, dan pernah ditekuni/dilakukan saya yakin membantu pekerjaan baik langsung maupun tidak. Bisa dalam waktu dekat, bisa juga sekian tahun kemudian secara tak terduga. Para dosen sudah berjasa kendati dulu saya belum bercita-cita jadi penerjemah buku. Sudah sepatutnya saya bersyukur mampu melampaui tahun-tahun yang keras itu dan memanfaatkan ilmu sebaik mungkin dengan cara sendiri, apalagi orangtua banting tulang membiayai:D


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

6 Responses to “ Mata Kuliah yang Terpakai ”

    • gravatar Rini Nurul Reply
      February 18th, 2014

      Semoga terlaksana suatu hari nanti, Fem:)

  1. gravatar lulu Reply
    February 18th, 2014

    Pada dasarnya semua yang dipelajari, diajarkan, dibaca, dan pernah ditekuni/dilakukan saya yakin membantu pekerjaan baik langsung maupun tidak. –> like this yo! Setuju banget, karena aku pun “menyimpang” hehe… Salah satu yang kupelajari dari arsitektur adalah berpikir detail, yang kupikir cukup penting dalam menerjemahkan.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      February 18th, 2014

      Ya, dan mungkin bisa lebih paham waktu ketemu deskripsi bangunan dalam naskah, Lul:)

  2. gravatar Aini Reply
    February 18th, 2014

    Filsafat itu kuliah wajib, Mbak? Belajarnya apa aja?
    Kalau di kampusku dulu, filsafat itu mata kuliah pilihan … itu juga bukan filsafat “saja” melainkan Filsafat Ilmu. Isi kuliahnya yang kuingat cuma semua ilmu itu dasarnya dari filsafat karena manusia itu berpikir. Semacam itulah. Hehehehe 😛 Aku kenal Dunia Sophie gara-gara bikin tugas buat mata kuliah ini 😀 Novel itu jauh lebih menarik daripada kuliah :))

    • gravatar Rini Nurul Reply
      February 18th, 2014

      Iya wajib, Nui. Ada mata kuliah Dasar-dasar Filsafat I, II, dan Sejarah Pemikiran Modern. Yang dipelajari filsafat mulai dari dasar, filsafat negara, hukum, agama, dll. Jadi landasan penting karena buku sastra Prancis banyak mengandung filsafat. Mungkin kalau nggak ada mata kuliah itu, aku nggak akan ngerti baca Little Prince:)

Leave a Reply

  • (not be published)