Ini pertanyaan seorang kolega penerjemah dan editor lepas yang sudah lama saya renungkan jawabannya. Waktu itu pun telah saya tanggapi, namun kadang apa yang kita nyatakan berubah relevansinya tergantung situasi dan kondisi.

Seorang relasi editor in house mengatakan, akun medsos di masa sekarang ini penting untuk mempromosikan karya. Ia tidak memungkiri bahwa distraksi yang timbul perlu penanganan khusus. Misalnya seorang senior yang sangat saya kagumi memilih membatasi kontak FB-nya menjadi puluhan orang saja. Editor in house ini sendiri tidak sempat memperbarui status di medsos, bahkan butuh waktu untuk merespons tag. Ia mengaku menahan diri untuk tidak ‘nyetatus’ karena sering tergoda (berlama-lama) membaca komentar.

Sementara editor in house yang lain beropini bahwa itu tidak mutlak perlu. Ada kalanya medsos memang memperluas jejaring (terkait lalu lintas order, meminjam istilah teman saya), namun intinya tugas seorang freelancer adalah bekerja sebaik mungkin. Dunia bisnis (penerbitan dalam hal ini) sempit, kinerja seseorang akan menyebar secara mulut ke mulut. Bila performanya bagus, order akan datang lagi dan lagi.

Bagaimana dengan jawaban saya sendiri? Dulu dan sekarang saya berkeyakinan, itu tidak wajib. Kawan saya yang bertanya itu punya akun FB, namun sebatas memajang karya bila sempat dan koneksi memungkinkan, serta membalas PM dari klien. Selebihnya komunikasi tetap lewat e-mail dan telepon. Chat via YM pun beliau tidak pernah. Wajar memang, sebab di masa kini kita dituntut pandai-pandai memilah skala prioritas dan mengelola waktu (serta energi) secara efektif. Saya pun sepakat dengan postingan Ken Terate ini, banyaknya akun malah membuat pening dan repot. Salah satu pasti terbengkalai. Pikir punya pikir, saya bekerja bukan demi mengejar popularitas, melainkan kepuasan batin. Tidak masalah bila selama beraktivitas jadi semacam pertapa.

Dilematisnya lagi, sering kali kontak di medsos bukan semata relasi. Kita juga ‘bertemu’ teman lama (teman sekolah misalnya) dan saudara yang tinggal berjauhan. Mengingat promosi cenderung menyempitkan interaksi, selalu ada kemungkinan teman malas membaca/komentar karena postingan kita berbau promosi yang bidangnya tidak bersentuhan atau mereka pahami, timbul keraguan untuk aktif. Ada kalanya kita membuat akun pun untuk menulis-nulis yang ‘tidak penting’ dalam arti relatif personal sedangkan kontak/follower berekspektasi lain. Singkatnya, ada kecemasan bahwa postingan bernada promosi itu ‘mengganggu’ sebagian orang.

Menyangkut branding, blog menurut saya masih merupakan media paling ampuh. Tentunya, hak masing-masing oranglah untuk menulis apa yang dikehendakinya di blog. Ada penerjemah kampiun yang tidak punya blog sama sekali karena tak punya waktu senggang memperbaruinya, ada yang memilih tidak mencantumkan profesi di profil medsos, ada juga pekerja buku yang menggunakan e-mail pun hanya terkait pekerjaan dan itu berarti tidak setiap hari. Sulit bagi saya untuk tidak kagum pada penerjemah yang tidak punya akun medsos namun karyanya keluar terus dan rata-rata dalam kualitas yang relatif baik.

Punya akun medsos dan blog memang berarti membagi konsentrasi. Suatu tahun, seorang kolega pekerja buku mengungkapkan bahwa keaktifannya di jesos tertentu berbanding lurus dengan sumber pendapatan terbanyak yang dihasilkan. Bila klien lebih sering mengordernya lewat FB, dia kerap mengecek FB dan PM. Saat suatu waktu order banyak datang dari YM, YM sajalah yang diaktifkannya.

Seorang pekerja buku lain disarankan menambah jejaring dengan membuka akun Linkedin, tentu menilik potensi melebarkan sayap juga di sana. Namun dia merasa tidak perlu karena tanpa itu pun, kesibukannya sudah cukup tinggi dan dia harus pintar-pintar agar punya waktu main dengan anak. Jadi kalau tak mengandalkan catatan, saya sendiri berusaha mengingat-ingat. Teman editor yang ini cepat jawab kalau di-PM, misalnya. Sedangkan teman yang lain lebih mudah dihubungi lewat e-mail.

Baru-baru ini saya main ke blog seorang penerjemah dan editor berpengalaman. Tampaknya dia “mengkhususkan diri” di blog yang selalu diperbarui. Bahkan tak ada foto diri yang dipajang, ukuran terkecil sekalipun. Jelas, ini masalah pilihan. Sampai sekarang Mas Agus tidak tertarik punya akun media sosial, apalagi menggunakan smartphone. Dia hanya senyum-senyum kalau klien minta pin BB atau id Whatsapp. Tanpa semua itu, ponselnya sering krang-kring di musim deadline termasuk akhir pekan. Saya akui, kadang menjelaskan lewat pembicaraan telepon (lisan) lebih efektif daripada menulis panjang-panjang. Sebaliknya, berbicara di telepon termasuk kelemahan saya.

  1. Omong-omong berjejaring, teman lain bertanya apakah efektif berkontak dengan semua editor in house yang punya media sosial. Saya tidak terlalu paham, tepatnya belum pernah bertanya pada kolega yang dikenal, apakah mereka senang “ditemui dan diikuti” di semua akun media sosial yang dimiliki. Namun menurut saya pribadi, kontak di media sosial ini kurang efektif karena:
  2. Belakangan, para editor in house semakin jarang mengecek media sosial. Kalaupun sempat, hanya sebentar.
  3. Mereka lebih menyukai komunikasi japri via e-mail, telepon, bahkan SMS dan Yahoo Messenger. Wajar saja sebab mengontak di FB harus jadi teman dulu, sehingga terasa merepotkan.
  4. Karena jarangnya mengecek jesos, ada beberapa editor yang tidak sempat memperbarui profil/biodata. Jadinya sulit “melacak” mana editor yang bekerja di penerbit A dan B, misalnya. Banyak juga yang membuka akun jesos untuk keperluan pribadi, sehingga sengaja tidak mencantumkan informasi kerja. Biasanya pemilik akun seperti ini juga lebih selektif menerima kontak.
  5. Yang ini pengalaman saya sendiri. Saya pernah menyangka bahwa pendekatan bisa dilakukan perlahan lewat jesos. Ternyata baru sebentar berteman, editor tersebut sudah mengundurkan diri dan banting setir ke bidang lain. Rasanya rikuh untuk mencari tahu cara menembus penerbit tempatnya bekerja dulu, meski hanya dengan “mengintipi” obrolan di postingan. Ini terjadi bukan sekali, maka saya bertambah yakin. Apalagi saya pernah dapat tawaran dari editor yang sama sekali tidak punya akun jesos. Tahu dari mana dong?
  6. Blog-lah yang masih sangat “manjur”. Menurut beberapa editor kolega saya, mereka menilai kompetensi saya dari blog ini dan Catatan Penerjemahan.

Terkait promosi, medsos untuk saya utamanya mempromosikan tautan-tautan setelah menulis di sini. Ruang Twitter kerap kelewat terbatas sedangkan saya tidak suka menyingkat-nyingkat, bahkan mengabarkan temuan link blog yang bermanfaat pun terasa lebih ‘memuaskan’ di FB dan Linkedin. Seperti saran Mas Agus yang masih saya upayakan, “Blog itu rumah kita, sedangkan medsos itu pos ronda. Kalau terlalu sering meronda, ya masuk angin.”


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

8 Responses to “ Wajibkah Penerjemah/Editor Lepas Memiliki Akun Medsos? ”

  1. gravatar lulu Reply
    January 14th, 2012

    Tulisan yg inspiratif, rin. Dan keren banget kalimat penutup dari mas Agus. Like it! Aku pun ga terlalu gaul di medsos, tapi ga memungkiri kepentingannya, terutama untuk menjalin pertemanan baru dan keperluan promosi :p

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 14th, 2012

      Makasih banyak, Lul, atas nama Mas Agus pula. Juga untuk masukannya:)

  2. gravatar Uci Reply
    January 14th, 2012

    Tertunduk malu karena keseringan ronda, rumah sendiri malah terbengkalai 😛

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 14th, 2012

      Uci kan aktivitas daratnya banyak:)

  3. gravatar nurcha Reply
    January 14th, 2012

    hehehe… perumpamaan yang bagus … kalo ke sosmed, aku paling sering mampir ke olshop benang… melihat benang2 yang lucu-lucu … hehehe

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      January 15th, 2012

      Tiap orang punya alasan, Nung. Yang betah-betah di medsos tentu siap juga dengan konsekuensinya, dan sebaliknya:)

  4. gravatar Kresna Luginawati Reply
    March 14th, 2012

    Mba Rini, saya paling suka bagian ini, “Blog itu rumah kita, sedangkan sosmed itu pos ronda. Kalau terlalu sering meronda, ya masuk angin.”. Perumpaan yang bagus :). Blog saya sudah “bersarang dan berdebu” karena terlalu lama ditinggalkan meronda.

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      March 14th, 2012

      Terima kasih, Mbak Kresna. Yuk, ngeblog lagi. Kabar-kabari saya ya kalo sudah diperbarui. Saya suka sekali blogwalking:)

Leave a Reply

  • (not be published)