mizanstore.com

Penulis: Marah Rusli

Penyunting: Melvi Yendra

Penerbit: Qanita

Cetakan: III, Oktober 2013

Tebal: 544 halaman

 

Beginilah kira-kira kesan membaca novel terakhir Marah Rusli di mata seorang perempuan Sunda.

Kisah cinta Hamli dan Din Wati memiliki daya pikat khusus karena ini romansa orang berkeluarga. Cinta sejati baru terbukti setelah diuji, sangat mungkin hanya beberapa jenak setelah mengucap ikrar saling setia dan seterusnya. Sedari awal Hamli dan Din Wati sudah menghadapi tantangan, antara lain status Hamli yang masih “murid sekolah”.

Sebagaimana orang tua-tua berkata, “Jodo mah jorok.” Bisa saja kita menikah dengan tetangga sebelah, teman sekolah yang pernah berseteru, atau orang yang baru dikenal minggu lalu. Pertentangan yang paling menonjol dan menciptakan badai maraton dalam rumah tangga Hamli adalah latar belakang etnis, khususnya adat, yang sangat berbeda.

Novel ini teramat kaya. Saya baru tahu, misalnya, Marah itu gelar. Mungkin pernah baca di keterangan penulis buku Siti Nurbaya, tapi sudah puluhan tahun silam dan saya lupa. Kemudian ada larangan bagi pasutri sah sekalipun di Padang, tidak boleh berdekat-dekat. Bicara hanya ketika berduaan, itu pun jangan sampai kedengaran orang lain.

Secara proporsional tergambar bahwa kedua belah pihak, keluarga Sunda dan Padang, saling berprasangka. Saya teringat lagi omongan-omongan sebagian kalangan zaman dulu, “Jangan nikah sama orang Minang, biasanya di kampung sudah punya calon istri.” Mengenai poligami, rasanya tidak dibahas waktu itu. Saling mencurigai dalam perjalanan Hamli dan Din Wati membuat saya geli ketika Din Wati dikira nyai Belanda hanya karena bertitel “Nyi Radin”.

Walaupun berlatar masa lalu, menurut saya masih relevan dengan kehidupan zaman sekarang. Adat atau bukan, mengundang banyak orang selalu jadi alasan untuk pernikahan yang meriah. Itu satu contoh.

Kembali pada prasangka tadi, sistem matrilineal di negeri Padang mengesankan laki-laki duduk di posisi paling enak. Tidak perlu membiayai istri, anak-anak, bahkan dijemput oleh calon istri. Secara jernih Hamli menepis anggapan itu dan berargumen, kurang-lebih, di mana letak bahagianya laki-laki yang selalu dianggap orang asing dan seolah difungsikan untuk menghasilkan keturunan belaka? Seperti ayah Siti Nurbaya, Hamli bersikukuh bahwa beristri banyak tidak perlu dilumrahkan, apalagi sekadar karena dirinya berdarah biru.

Keberhasilan novel ini utamanya membuat saya larut dan lupa bahwa nama-nama di dalamnya disamarkan. Menyangkut itu pula, saya jadi bertanya-tanya akan pemilihan nama samaran yang ditentukan penulis sebab sebagian besar relatif familier. Mungkin penyelubungan tersebut ditempuh dengan pembedaan ejaan, misalnya Jaya Kesuma, sebab setahu saya ejaan Sunda “Kusuma” atau bahkan “Kusumah”.

Keistimewaannya, Memang Jodoh seperti yang dikemukakan cucu pengarang di muka, “sambil mengenang kembali bahasa Indonesia dalam tatanan lama yang baik dan benar.” Bagaikan angin sejuk setelah otak berbenturan terus dengan bahasa Indonesia tulis yang terpapar gaya dan struktur terjemahan.

Saya acung jempol atas perjuangan tak henti-henti Hamli dan Din Wati yang terus didera pertentangan dan serangan kanan-kiri. Din Wati yang tabah, Hamli yang konsisten pada prinsipnya. Kiranya layaklah novel ini dibaca oleh mereka yang rindu menikah, khususnya anak-anak muda yang dibetot hasrat untuk itu.

Unsur yang tak kalah menawan adalah segi-segi mistisnya. Seru dan menggiring kenangan tersendiri:) Pendek kata, Memang Jodoh mengobati kerinduan saya akan fiksi bernapas lokal yang kental dan enak dibaca. Sejak 3 tahun belakangan, baru kali ini saya menamatkan novel tebal dalam dua hari.

 

mizanstore.com Penulis: Marah Rusli Penyunting: Melvi Yendra Penerbit: Qanita Cetakan: III, Oktober 2013 Tebal: 544 halaman   Beginilah kira-kira kesan membaca novel terakhir Marah Rusli di mata seorang perempuan Sunda. Kisah cinta Hamli dan Din Wati memiliki daya pikat khusus karena ini romansa orang berkeluarga. Cinta sejati baru terbukti setelah diuji, sangat mungkin hanya beberapa jenak setelah mengucap ikrar saling setia dan seterusnya. Sedari awal Hamli dan Din Wati sudah menghadapi tantangan, antara lain status Hamli yang masih "murid sekolah". Sebagaimana orang tua-tua berkata, "Jodo mah jorok." Bisa saja kita menikah dengan tetangga sebelah, teman sekolah yang pernah berseteru, atau orang yang baru dikenal minggu lalu. Pertentangan yang paling menonjol dan menciptakan badai maraton dalam rumah tangga Hamli adalah latar belakang etnis, khususnya adat, yang sangat berbeda. Novel ini teramat kaya. Saya baru tahu, misalnya, Marah itu gelar. Mungkin pernah baca di keterangan penulis buku Siti Nurbaya, tapi sudah puluhan tahun silam dan saya lupa. Kemudian ada larangan bagi pasutri sah sekalipun di Padang, tidak boleh berdekat-dekat. Bicara hanya ketika berduaan, itu pun jangan sampai kedengaran orang lain. Secara proporsional tergambar bahwa kedua belah pihak, keluarga Sunda dan Padang, saling berprasangka. Saya teringat lagi omongan-omongan sebagian kalangan zaman dulu, "Jangan nikah sama orang Minang, biasanya di kampung sudah punya calon istri." Mengenai poligami, rasanya tidak dibahas waktu itu. Saling mencurigai dalam perjalanan Hamli dan Din Wati membuat saya geli ketika Din Wati dikira nyai Belanda hanya karena bertitel "Nyi Radin". Walaupun berlatar masa lalu, menurut saya masih relevan dengan kehidupan zaman sekarang. Adat atau bukan, mengundang banyak orang selalu jadi alasan untuk pernikahan yang meriah. Itu satu contoh. Kembali pada prasangka tadi, sistem matrilineal di negeri Padang mengesankan laki-laki duduk di posisi paling enak. Tidak perlu membiayai istri, anak-anak, bahkan dijemput oleh calon istri. Secara jernih Hamli menepis anggapan itu dan berargumen, kurang-lebih, di mana letak bahagianya laki-laki yang selalu dianggap orang asing dan seolah difungsikan untuk menghasilkan keturunan belaka? Seperti ayah Siti Nurbaya, Hamli bersikukuh bahwa beristri banyak tidak perlu dilumrahkan, apalagi sekadar karena dirinya berdarah biru. Keberhasilan novel ini utamanya membuat saya larut dan lupa bahwa nama-nama di dalamnya disamarkan. Menyangkut itu pula, saya jadi bertanya-tanya akan pemilihan nama samaran yang ditentukan penulis sebab sebagian besar relatif familier. Mungkin penyelubungan tersebut ditempuh dengan pembedaan ejaan, misalnya Jaya Kesuma, sebab setahu saya ejaan Sunda "Kusuma" atau bahkan "Kusumah". Keistimewaannya, Memang Jodoh seperti yang dikemukakan cucu pengarang di muka, "sambil mengenang kembali bahasa Indonesia dalam tatanan lama yang baik dan benar." Bagaikan angin sejuk setelah otak berbenturan terus dengan bahasa Indonesia tulis yang terpapar gaya dan struktur terjemahan. Saya acung jempol atas perjuangan tak henti-henti Hamli dan Din Wati yang terus didera pertentangan dan serangan kanan-kiri. Din Wati yang tabah, Hamli yang konsisten pada prinsipnya. Kiranya layaklah novel ini dibaca oleh mereka yang rindu menikah, khususnya anak-anak muda yang dibetot hasrat untuk itu. Unsur yang tak kalah menawan adalah segi-segi mistisnya. Seru dan menggiring kenangan tersendiri:) Pendek kata, Memang Jodoh mengobati kerinduan saya akan fiksi bernapas…

Kesan Rinurbad

Cerita
Plot
Karakter

Buku Bagus

Saat ulasan ini diperbarui, bukunya masih di tangan saudara saya. Katanya, "Sejak awal saja sudah kagum sekali pada Marah Rusli."

User Rating: 4.95 ( 1 votes)
99

Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)