lost

 

Sekian tahun lampau, saya pernah membaca perihal sampah elektronik di sebuah majalah wanita. Yang termasuk sampah jenis ini adalah SIM Card (sekalipun masa itu nomor perdana belum semurah meriah sekarang) dan e-mail spam. Pernah pula seorang kontak FB membahas dampak berbahaya buangan berupa barang elektronik, khususnya perangkat ponsel dan kawan-kawan, yang tidak terlalu disadari orang. Rasanya wajar saja bila saat ditanya dalam pembahasan Hari Bumi di suatu jejaring sosial, saya menjawab bahwa langkah yang saya tempuh sejauh ini adalah cukup punya satu ponsel. Itu pun belum memenuhi standar kesehatan yang dianjurkan dokter mata saya, yakni layar monokrom dan huruf serbabesar.

Google adalah tempat berpaling andalan ketika membutuhkan informasi tertentu. Bukan rahasia lagi bahwa kini akibat beberapa program yang mensyaratkan traffic tinggi, banyak terjadi spamdexing. Halaman pertama Google penuh situs daftar link belaka, bukan kelengkapan informasi yang sebenarnya sehingga membuang waktu kita. Beberapa bulan ke belakang, situs semacam ini dapat diblokir dengan skrip tertentu. Namun ketika saya coba lagi, tidak berhasil. Bahkan situs berisi tautan “bohong” itu meningkat terus jumlahnya, sampai halaman ke-3 dan ke-4 kadang. Terutama jika mencari dengan keyword “cara” atau “tips”. Jadilah yang dapat dilakukan hanya menghafal baik-baik jenis nama situs dengan konten kecohan tersebut, dan mnyortir sendiri. Biasanya malah blog gratisan yang isinya “betulan”.

Saya belajar dari cara seorang kenalan ketika menampilkan informasi dalam postingan artikel di blognya. Kerap kali untuk mencantumkan sumber, kita mengambil dari Twitter atau FB berikut capture obrolan/komentar-komentarnya. Kenalan tersebut mengakali spam dengan menghapus/memblok hitam atau warna lain id-id yang tertera di capture percakapan yang ditampilkannya. Tindakan sehat yang sangat santun bagi saya, di zaman serbaprovokatif ini.

Dulu, komentar dianggap penting. Kini, komentar acap kali menjadi “sampah” dan mengusik kenyamanan membaca. Bukan satu-dua kali, komentar sampai ratusan memanjang ke bawah padahal isi tulisan hanya dua alinea. Atau ditujukan pada video Youtube berdurasi tak sampai semenit. Menurut saya, salah satu pemicu komentar jenis “kebun cabe” ini adalah penyebaran artikel kontroversial atau berita semacamnya.

“Lho, kan kalau sudah di dunia maya, berarti milik publik?” ada yang berkilah begitu. Mari kita sadari bahwa kita bagian dari pemegang kendali berkembangnya informasi (yang kadang-kadang hoax itu). Mengklik Like artikel yang otomatis tembus ke FB, contohnya, bisa menggemparkan suasana pagi beberapa orang. Kalau sudah begitu, tak boleh marah jika terjadi perang komentar di akun kita sendiri. Memang gampang solusinya, tinggal hapus. Namun kericuhan telanjur timbul dan bisa berkepanjangan.

Menahan diri berkomentar yang “tidak perlu” bukan hanya sehat secara emosional, juga mengurangi sampah di internet. Saya teringat wejangan Femmy Syahrani, fitur edit dalam komunikasi tertulis harus dimaksimalkan layaknya tombol Mute di remote televisi. Berhubung saya pernah beberapa kali “kebablasan” dan kena batunya (percayalah, batunya kerikil atau bata, sakiiit), saya merenungkan bahwa itu kerap terjadi ketika saya menjawab atau posting lewat HP. Layar lebih sempit, tulisan lebih kecil, baca hanya sekilas, makin besarlah potensi kesalahpahaman. Seperti ber-e-mail, ternyata ada baiknya membaca dulu tulisan sendiri daripada tergesa-gesa memencet Send. Kalau sampai menyesal, celaka dua belas (atau istilah Mas Agus, ciloko tuno susilo). Ucapan lisan saja bisa menyebabkan luka menahun dan terngiang terus, apalagi yang tertulis dan dapat dicatat dengan mudah. Memang lidah keyboard/keypad tak bertulang.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)