Beberapa klien, baik penerbit maupun penulis, berbaik hati mempersilakan kami menentukan tenggat menyunting. Untuk itu mereka memperlihatkan naskah lebih dulu agar dapat kami baca. Tingkat kesulitan, yang berpengaruh pada seberapa banyak merombak/menulis ulang/menerjemahkan ulang/memoles, biasanya terlihat dari beberapa bagian naskah. Tentu saja tenggat tersebut bisa dinegosiasikan kembali, tergantung jadwal terbit dan sebagainya.

Menilai tingkat kesulitan tadi tidak dapat disamakan dengan menilai kemenarikan cerita sewaktu membaca buku, misalnya. Ada penerbit yang menyoroti sepuluh halaman pertama naskah, seperti uraian Donna Widjajanto di blognya. Untuk naskah yang akan diedit, baik lokal maupun terjemahan, tidak bisa buru-buru. Melihat bab awal, lalu menembak “Ah, nggak sampai sebulan juga kelar” bisa berbahaya. Belum lama ini saya bilang pada suami, “Coba loncat ke bab tengahnya. Atau menjelang akhir.” Dia melakukan itu dan berkata sambil menepuk jidat, “Oh iya!”

Naskah tipis tidak menjamin dapat cepat diselesaikan. Ini becermin dari pengalaman sendiri sewaktu menerjemahkan. Kadang-kadang penulis memberi kejutan berupa puisi atau unsur-unsur lain yang perlu diriset mendalam di bagian tengah. Hampir selalu ada alasan yang mengharuskan penyunting kembali ke bab awal, misalnya mengecek konsistensi nama, adegan tertentu, atau lokasi. Suatu kali saya pernah menyunting naskah yang direvisi dulu oleh penulisnya. Semula POV-nya orang pertama, diubah menjadi orang ketiga. Di beberapa alinea, ternyata masih tercecer orang pertama yang belum diselaraskan.

Singkatnya, membaca dari tengah merupakan semacam tindak pencegahan agar tidak menyesal atau mengomel-ngomel di tengah jalan. Bukan tugas penyunting untuk mencari tahu kenapa terjemahan atau tulisannya bisa begini atau begitu, menduga-duga akan sangat memakan waktu. Lebih baik dibuat sederhana saja, langsung dikerjakan:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

One Response to “ Membaca dari Tengah ”

  1. gravatar Brahm Reply
    September 7th, 2013

    Hm… ujung-ujungnya, tetap harus baca semuanya dulu dong 😛

Leave a Reply

  • (not be published)