… sebaiknya tidak hanya dilakukan sebelum diserahkan kepada editor, tetapi juga saat buku sudah terbit dan kita memperoleh complimentary copy. Memang saat membaca, pasti timbul ketidakpuasan kendati kita sadar bahwa tak ada yang sempurna. Namun selain dapat menghindari kekeliruan (atau kekurangtelitian sendiri) di kemudian hari saat bekerja sama lagi dengan penerbit yang sama, membaca buku tersebut dapat membantu kita mencermati selingkung. Kadang hal ini sudah disampaikan editor sebelum proses penggarapan, tapi tidak jarang penerjemah baru mengetahui belakangan. Biasanya karena perubahan konsep selingkung atau usulan dari tim editor/proofreader.

Misalnya, ada penerbit yang leluasa merombak isi buku dikarenakan deskripsinya sangat panjang. Editor sendiri yang meringkas dan memangkas, dalam porsi terbilang besar. Kemudian sebisa mungkin segala sesuatu diindonesiakan, meski saya pribadi berpendapat ini sulit diwujudkan. Mom diterjemahkan Mama, Dad menjadi Papa, sebagai contoh. Pengindonesiaan ini pernah saya temukan dalam buku anak-anak, kendati berkesan tidak konsisten dengan sebagian besar nama dan lokasi yang masih mengikuti buku aslinya.

Aspek lain yang saya temukan ketika membaca bukti terbit ialah teknik sensor para editor yang bermacam-macam. Tentu sesuai kebijakan yang diterapkan. Ada yang sama sekali melarang adegan ciuman sehingga menghaluskannya menjadi cium pipi atau berpelukan saja, ada yang memperkenankan itu sejauh memang dibutuhkan cerita karena memotong ‘semena-mena’ akan mengganggu dan menciptakan kebingungan pembaca. Maka apabila selama diskusi dalam penerjemahan, saya sudah menandai bagian-bagian yang perlu disensor, saya langsung mencari di bukunya dan membahas kembali apabila sensornya masih terasa ‘jeglek’. Idealnya, pembaca tidak mengendus bahwa ada elemen yang ‘hilang’ dari situ. Ini berlaku juga pada sensor atau penghalusan kata-kata yang relatif kasar atau kekerasan yang kelewat eksplisit.

Temuan-temuan yang lebih menarik ialah kadar ketaatan penerbit (dan selingkungnya) terhadap KBBI. Walau saya mengerti, dan tidak semua penerbit/editor menerapkan ini, saya belum hafal seluruh isi atau kata yang diubah dalam kamus tersebut. Baru-baru ini saya mendapati bahwa yang baku adalah ‘lavendel’ bukan ‘lavender’. Kemudian ‘mug’ yang saya terjemahkan ‘muk’ sesuai bacaan tahun-tahun lalu ternyata sudah dibakukan menjadi ‘mok’.

Tidak hanya itu, ternyata ada penerbit yang menghapuskan kata ‘bulan’ atau ‘hari’ dalam terjemahan. Contohnya, saya sering menulis ‘pada bulan Oktober’ diganti ‘pada Oktober’.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)