Saya menggunakan judul di atas karena penerjemah dan penyunting otomatis harus membaca novel tersebut jika merupakan materi kerjanya.

“Duh, novel romance… bukannya itu buku dewasa semacam Harlequin?” demikian pendapat yang sering terlontar. Entah bagaimana asal mulanya, roman dikaitkan langsung dengan Harlequin yang sebenarnya bukan genre, mungkin lebih tepat disebut merek. Saya sepakat dengan seorang pria yang terjun di penerjemahan buku roman (selanjutnya disebut RM, atas permintaan beliau), bahwa sesungguhnya genre ini amat luas dan tidak bisa diidentikkan dengan buku tertentu saja. Hampir semua karya fiksi mengandung unsur percintaan (definisi sederhana untuk roman), yang membedakan hanya porsinya.

Merujuk Wikipedia, roman adalah genre sastra yang berkembang dalam kultur Barat, khususnya di negeri-negeri berbahasa Inggris. Fokus utamanya adalah hubungan cinta dua orang yang berakhir dengan kebahagiaan. Definisi ini diamini dalam situs Romance Writers of America, badan yang mengurus jejaring dan advokasi para penulis roman.

Kategori besar ini dipecah-pecah lagi sebagai berikut:

RWA menambahkan sub kategori Novels with Strong Romantic Elements, salah satunya berjudul The Lost Recipe for Happiness (Barbara O’Neal), yang menyabet RITA Awards tahun 2010.

Dari daftar di atas saja, sudah terlihat bahwa roman tidak lantas senada dengan kisah renyah yang hanya bertutur tentang manisnya cinta dan seolah kehidupan tidak mengandung masalah. Seperti halnya genre lain, roman dapat dibaurkan dengan elemen yang menjadikannya kaya dan relatif menantang untuk disimak.

RM mengaku belum berminat membaca Harlequin, antara lain karena faktor sampul, barangkali seperti yang terlihat di web ini. Oleh sebab itu, ia tidak bisa membandingkan buku-buku terjemahan yang pernah digarapnya dengan Harlequin, khususnya menyoal adegan panas. Ia memaparkan, “Saya hanya bisa mengatakan kalau saya pernah menerjemahkan chicklit (kategori novel dewasa) yang berisi adegan hubungan intim yang lumayan mendetail. Malah jadi seperti laporan pandangan mata untuk adegan hubungan intim, lengkap dengan penyebutan organ-organ tubuh yang terkait.”

Aspek lain yang ‘dicurigai’ membuat masyarakat memandang sebelah mata buku roman adalah bahasanya yang kelewat ringan. Sebagai pembaca yang cukup aktif, RM berargumen bahwa justru bahasa yang cair, dalam arti bukan gaul, adalah unsur penting dalam genre buku apa pun supaya nikmat dikonsumsi. Ia sendiri berusaha menerjemahkan dengan gaya selentur mungkin, kendati karya pertamanya diubah menjadi buku gaul oleh penyunting.

Menyangkut tenggat, RM biasa menuntaskan buku setebal 300-350 halaman dalam tempo maksimal dua bulan. Tambahan waktu diajukan tatkala ia harus keluar kota untuk urusan pekerjaan. Masih seputar teknis, berikut keterangannya jika menghadapi cerita berisi adegan ranjang.

“Saat memberikan proyek terjemahan kepada saya, pihak penerbit hanya memberi pesan agar kalimat-kalimatnya saya buat pendek-pendek, dengan bahasa yang tidak kaku. Dan sampai sejauh ini, saya belum pernah diminta untuk merevisi terjemahan saya. Jadi, sang editor sepertinya baik-baik saja, haha…

Mengenai adegan panas, berdasarkan pengalaman, saya akan melihat jumlah dulu. Jika sedikit akan saya perhalus (tidak sevulgar aslinya). Tetapi jika memang adegan panasnya banyak (dalam novel dewasa), saya mengikuti aslinya saja. Setelah itu, kebijakan editor saja apakah akan diperhalus atau dibiarkan.”

Nama-nama pengarang luar yang bisa jadi familier bagi penggemar novel romance terjemahan mencakup antara lain Nora Roberts, Julie Garwood, Lisa Kleypas, Johanna Lindsey, dan Sandra Brown. Di tautan top 100 romance authors ini, bahkan Margaret Mitchell dan Jane Austen tertera pula.

Genre romance dilabeli ‘buku bacaan kaum wanita’, penulisnya pun hampir semua wanita (kalau Kim Dong-hwa boleh diklasifikasikan dalam kategori ini). Menariknya, RM mengaku tidak alergi membaca buku apa pun, termasuk romance. Ia menganalogikannya dengan kaum pria yang malu-malu mau menyatakan suka boyband. Sang penerjemah tidak melihat alasan untuk itu, sebab bagaimanapun ia membaca gratis, malah dibayar kemudian. RM juga tidak sependapat jika roman dicap sebagai peruntukan orang dewasa belaka.

“Tapi mungkin bisa dipilah-pilah dalam beberapa kategori, seperti roman remaja dan roman dewasa. Meskipun ketika buku-buku tersebut sudah masuk ke toko buku, tidak ada jaminan roman dewasa tidak akan jatuh ke tangan pembaca yang masih remaja. Atau bagaimana kalau genre roman itu dihilangkan saja, toh sebagian besar buku berisi cerita percintaan, bukan?”

Ternyata begitu beraneka area fiksi roman yang belum saya ketahui (dan baca). Sejauh ini, beberapa yang bisa merebut hati saya, tanpa menilik subgenrenya, adalah Resep Perkawinan Sempurna, Angel’s Cake, Mandala, dan Mistress of Spices. Biro Jodoh Untuk Kaum Elite dan Pollyanna Grows Up pun tergolong roman. Jadi agaknya menjenguk buku jenis ini seru juga.:)

Dari sudut pandang editor dan sependek pengalaman kami menyunting secara generalis, sampai sekarang penerjemah roman yang berkinerja bagus masih lebih sering kami temukan ketimbang genre lainnya. Padahal bahasa buku roman itu sulit-sulit juga.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

10 Responses to “ Membaca Novel Roman, Jangan Bergidik Dulu ”

  1. gravatar Dina Begum Reply
    March 17th, 2011

    Menurutku membaca (dan menerjemahkan) buku roman boleh jadi merupakan selingan mengasyikkan. Memang siiih, kalau engga hobi-hobi banget ga bakalan betah baca lebih dari 1 buku roman dalam waktu 2 bulan ;).
    Aku pernah juga penasaran dan membulatkan tekad membaca novel bergambar cap bibir kecil di sampulnya dan menyimpulkan bahwa satu buku ‘gituan’ sudah cukup untuk seumur hidup. (Jangan bilang aku pengecut hehehe) Sangat jauh berbeda dengan novel-novel karya para pengarang yang disebutkan di atas.
    Salah satu penulis novel kesayanganku, Ken Follet, juga menurutku masuk ke dalam kategori roman, dan kisahnya sangat indah, cerdas dan sama sekali engga ‘menye-menye’.
    Jadi, benar, jangan bergidik dulu baca novel roman – Anda mungkin akan menyukainya.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      March 17th, 2011

      Cap bibir? *berpikir*
      Iya Mbak, takkan tahu kalau belum coba. Aku sendiri pernah baca Nora Roberts dan beberapa Harlequin, kemudian sejumlah novel romance. Di lain pihak, menerjemahkannya pun tetap membutuhkan kreativitas tertentu. Aku suka historical romance namun belum lolos juga tesnya:D

  2. gravatar Aini Reply
    March 17th, 2011

    Bener juga, ya. Selama ini kalau denger kata “buku roman” pasti mikirnya langsung Harlequin dan adegan-adegan begitu. Padahal gak selalu begitu, ya? wkwkkw.

    Makasi, Mbak. Tulisannya mencerahkan sekali 🙂

    • gravatar Rini Nurul Reply
      March 17th, 2011

      Sama-sama, Nui:)

  3. gravatar esti Reply
    March 17th, 2011

    Anne of The Island, Anne’s House of Dream, Pride and Prejudice, Emma itu kan roman juga hehehe

    • gravatar Rini Nurul Reply
      March 17th, 2011

      Benar, Pride dan Emma roman banget. 😀

  4. gravatar Nad Reply
    March 17th, 2011

    Membaca beberapa novel roman tertentu kadang bisa membuatku ikut berbunga-bunga. Ehem.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      March 29th, 2011

      Ya, betul, Nad:D

  5. gravatar Fairly Reply
    March 29th, 2011

    Terima kasih, Rini, posting-nya benar-benar melegakan hati! 🙂
    Aku pribadi dari dulu pingin banget nerjemahin roman, terutama yang his-rom dan time-travel romance. Tapi ya itu, ternyata meskipun suka, tapi belum tentu jodoh ya… Jadi, paling nggak untuk saat ini, bacaan jenis ini dijadikan selingan di kala mumet menerjemahkan sains-pop/YA aja dulu deh…

    • gravatar Rini Nurul Reply
      March 29th, 2011

      Sama-sama, Mbak Fairly. Semoga suatu saat bisa terwujud:)

Leave a Reply

  • (not be published)