Sebenarnya Stephen King tidak melulu menulis horor murni, dalam arti yang berbau hantu dan kegaiban. Salah satu film adaptasi bukunya, Dreamcatcher, menyiratkan unsur alien. Hanya saja kekhasan King adalah kesadisan. Darah, mayat bergelimpangan, bahkan sejak halaman-halaman awal seperti novel sangat tebal yang ditulisnya sejak tahun 1978 ini.

Ketika ditawari ikut mengecek proof naskah terjemahannya, saya tidak berpikir dua kali untuk mengiakan. Dari 200-an halaman terakhir yang saya baca, sangat eksplisit bahwa genrenya condong ke fiksi ilmiah. Tentu saja tidak ketinggalan ciri unik King, bahasa yang “memabukkan” dalam kreativitasnya. Kadang ada sisipan kalimat berhuruf kapital, dan di satu bagian di Buku Satu, King menyebut-nyebut Shawshank.

Membaca proof-nya jadi tantangan tersendiri karena huruf yang tercetak kecil-kecil. Saya menggunakan penggaris setiap kali membaca ulang, di samping mencatat manual. Keputusan editor penanggung jawablah untuk memilah koreksian yang dipakai atau tidak, diselaraskan dengan ratusan halaman sebelumnya. Khusus proof yang ini, saya mendapat tenggat lebih panjang. Sesuka-sukanya saya pada horor, tak urung saya harus berhenti sejenak di bagian deskripsi mayat dan tembak-tembakan yang rinci. Setelah membaca sekian halaman yang ditargetkan di satu pagi, sepanjang hari saya mengistirahatkan mata.

Tak lama setelah naskah disetorkan, seri televisi Under The Dome tayang. Saya sempat menyimak kehebohan komentar mengenai casting-nya, yang kemudian ditanggapi sang penulis.

Listen, I’ve always been a situational writer. My idea of what to do with a plot is to shoot it before it can breed.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)