Ini tidak hanya berlaku pada jebakan mawar dan cara mengatasinya. Di terjemahan yang supermulus dan benar pun (baca: tidak menjebak), pasti ada kekeliruan kecil yang perlu dicermati. Katakanlah typo barang satu-dua, atau ejaan yang berbeda dengan selingkung penerbit. Ini kekurangan “sepele” belaka, tapi jadi sangat mencolok di naskah yang sudah bagus secara keseluruhan. Terkesan mencari-cari kesalahan, namun sejatinya menyunting memang harus sering “curiga”. Baik ketika menghadapi terjemahan orang lain maupun hasil terjemahan sendiri.

Saya pernah mengalami ketika menyunting terjemahan yang bersih dari jebakan, tapi ternyata jadi “tercemar sedikit” oleh keteledoran saya. Waktu itu saya mengerjakannya di Netbook dan kerap salah pencet karena jari saya kurang pas di keyboard kecil yang rapat satu sama lain, sehingga ada kata yang “terkoreksi” padahal tidak perlu. Misalnya “pucat” jadi “puxat”. Saya kaget menemukan itu di buku yang sudah dicetak, lalu mengecek di berkas… memang dari saya salahnya. Benar-benar ceroboh dan “keenakan” mengandalkan korektor naskah.

Akhirnya, saya coba langkah yang sudah lama dianjurkan Mas Agus. Membaca naskah dengan panduan di tangan, sambil “mematikan rasa”. Mulanya terasa aneh, seperti mengabaikan cerita. Tapi harus saya akui, berlarut-larut dalam emosi dari cerita yang saya baca itulah yang sering menghambat dan menjadikan kerja lebih lama dari seharusnya. Saya baca satu bab dulu, untuk melihat sejauh mana tingkat kemulusan terjemahan serta kekeliruan yang sering terulang. Yang terakhir ini kiat dari relasi proofreader.

Lebih mudah lagi jika penerjemahnya sudah “dikenal”, dalam arti saya pernah menyunting hasil kerjanya beberapa kali. Sebut saja kesalahan kecilnya adalah terlalu sering menggunakan “saat” untuk terjemahan “when”. Jadi saya gunakan fitur Find Next untuk memvariasikannya. Memang tetap riweuh bila naskahnya tebal, tapi kiat ini bukan menghapus hambatan teknis secara total. Bagaimanapun kerja yang menuntut kecermatan akan detail berarti harus mau repot.

Sudah tiga kali saya menggunakan langkah ini, dan memang terasa manfaatnya. Memang di kali terakhir, cerita dibaca ulang walau tidak perlu serinci naskah lokal. Lagi-lagi, di sinilah kelebihan menyunting terjemahan. Karyanya sudah jadi, tidak perlu ada revisi atau pengecekan logika yang makan waktu.

Faedah yang saya rasakan? Sangat manjur untuk naskah fiksi yang penuh adegan sadis dengan deskripsi detail sekali, juga ketika menghadapi cerita yang tidak terlalu saya sukai.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)