Kita tidak bisa menilai hasil kerja sendiri, itu jelas. Dalam bidang yang berunsur subjektivitas tinggi ini, komentar pembaca (yang ahli sekalipun) tidak bisa dijadikan tumpuan satu-satunya. Apa pasal? Pembaca sangat beragam dan tidak semuanya mampu memberikan penilaian berimbang serta membangun. Kalaupun ada yang bisa, tidak semuanya pula memiliki keluangan waktu untuk menuliskannya di tempat yang diakses khalayak (baca: internet). Ini termasuk saya.

Meminta evaluasi adalah bagian dari introspeksi serta upaya peningkatan kinerja, oleh sebab itu saya tidak segan-segan menyarankannya pada pelaku profesi penerjemahan buku ini. Terutama ketika bekerja sama dengan lebih dari satu penerbit, menuntut ekstra cermat beradaptasi dengan selingkung yang berlainan. Bahkan cara kerja editor di satu bendera penerbitan saja belum tentu sama.

Pertanyaan bisa dilontarkan di media komunikasi apa pun, mulai dari email, mention twitter dan komentar/PM FB. Rata-rata editor tidak keberatan memberikan tinjauan singkat, meski memang tidak semua bisa melakukannya segera terkait kesibukan masing-masing. Saya biasanya menghindari bertanya tatkala status YM editor terlihat sedang repot (atau sakit), hari-hari rapat rutin (jika saya tahu jadwalnya), menulis komentar tidak ‘nyambung’ alias OOT di postingan yang tidak berkaitan (lebih disarankan japri), atau sewaktu akhir pekan. Ada yang bisa menyempatkan menulis email dan memberi lampiran rinci, ada juga yang hanya berupa komentar semisal, “Lumayan juga, tidak perlu edit digital.”

Bukan berarti penyunting ‘kebal’ kritikan. Kadang-kadang pembaca langsung mengirimkan komentar mendetail ke email penerbit yang tercantum di buku dan editor kecipratan protes. Biasanya editor menghubungi saya dan bertanya kalau-kalau email tersebut perlu ditembuskan. Saya tidak keberatan, namun meminta agar komentar pribadi yang pedas (contoh: Ngantuk ya? Sudah lihat belum apa anehnya? Saya tertawa dulu ya, ha ha ha) dihilangkan sehingga saya tinggal berfokus pada masukan-masukannya.

Sejauh ini, mayoritas penyunting yang menyelia terjemahan saya memberikan masukan dan komentar yang ‘bersohibi’ (pinjam istilah Mas Agus) serta tidak menuding semena-mena. Ada juga sih, klien yang tidak pernah saya tanyai. Saya pede saja. Selama order masih berjalan, berarti tidak ada masalah. Ini ke-GR-an yang bisa jadi benar, bisa juga salah. Mohon tidak ditiru:)

Bukan hanya menyoal terjemahan, suntingan dan koreksi pruf juga acap kali diperiksa ulang. Dengan kata lain, pihak internal penerbit pun memonitor hasil untuk menentukan kecocokan dan perlunya kerja sama dilanjutkan atau tidak.

Bocoran:

Penilaian tidak selalu dilakukan serta-merta, terutama jika buku yang kita terjemahkan baru terbit beberapa bulan atau tahun kemudian. Jadi bisa saja editor mengetahui kualitas kerja kita nanti, bahkan dari penyunting lepas yang dipercaya menangani hasil terjemahan itu atau proofreader.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

7 Responses to “ Meminta Evaluasi dari Editor (In House) ”

  1. gravatar Retnadi Reply
    December 15th, 2011

    wah jadi diingatkan, aku juga belum tanya pada mb editor 😀 ttg pekerjaan yg lalu. makasih mb rin 🙂

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 15th, 2011

      Sama-sama, No. Silakan ditanyakan:)

  2. gravatar Femmy Reply
    December 15th, 2011

    Salah satu cara yang kadang saya gunakan untuk memeriksa hasil suntingan editor adalah membaca buku atau artikel yang sudah terbit. Biasanya saya membuka file terjemahan saya, lalu “mengeditnya” menggunakan fitur Track Changes di Word agar sesuai dengan buku/artikel yang sudah terbit itu. Kenapa sampai menggunakan Track Changes, tidak sekadar membandingkan? Dengan fitur ini, editan kecil-kecil pun akan tercatat, sehingga saya bisa melihat hal apa saja yang dikoreksi editor. Lagi pula, hal-hal kecil juga penting untuk meluweskan terjemahan.

    • gravatar Retnadi Reply
      December 15th, 2011

      oh begitu. terima kasih, mb femmy 🙂

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      December 15th, 2011

      Terima kasih masukannya, Fem.
      Lupa menambahkan, kadang-kadang ada juga editor yang langsung saja kasih hasil koreksi di Word utuhnya. Jadi kita bisa menilai sendiri:)

      • gravatar Femmy Reply
        December 15th, 2011

        Wah, enak tuh kalau langsung dikasih kayak gitu. Aku juga mau dikasih, tapi selama ini belum pernah :-p

        • gravatar admin rinurbad.com Reply
          December 15th, 2011

          Hihihi, maksudnya langsung itu, setelah diminta ngasihnya file utuh. Nggak hanya berupa poin-poin:D

Leave a Reply

  • (not be published)