Beberapa hari yang lalu, saya membaca postingan Mbak Yovita Siswati, seorang penulis. Beliau mencantumkan poin yang saya kutip sebagai berikut:

Ketiga, crosscek alamat dan nama editor yang didapat dari hasil survey ke toko buku

Biasanya yang saya crosscheck adalah penerbit-penerbit yang kurang familiar namanya, untuk memastikan penerbit yang bersangkutan masih exist hehe 🙂 Crosscheck bisa lewat browsing internet, cek website penerbit atau lewat account socmed penerbit. Sekalian mematikan sekali lagi jenis-jenis buku apa saja yang diterbitkan penerbit tersebut.

Ini pun berlaku untuk penerjemah dan editor. Upayanya bisa memantau media sosial, bisa juga dari ngobrol-ngobrol dengan rekan seprofesi. Tergantung mana yang lebih nyaman dan sesuai dengan waktu luang kita.

Misalnya dari obrolan dengan seorang teman penerjemah, saya baru tahu bahwa editor fiksi kenalan kami di sebuah penerbitan sudah resign sejak tahun lalu. Risikonya memang kehilangan kontak atau mulai dari nol lagi. Menurut cerita editor di penerbitan lain yang pindah divisi, editor baru belum tentu “diwarisi peninggalan” daftar relasi. Tidak jarang mereka punya daftar sendiri. Bila para kolega freelancer di daftar itu sibuk semua, barulah editor baru ini mencari tahu ke kolega sekantornya kalau-kalau ada relasi yang dapat direkomendasikan.

Ada juga editor yang rajin memberi kabar lewat media sosialnya. Contohnya, ketika editor nonfiksi yang saya kenal dipindah ke buku anak. Saya sudah diperkenalkan dengan editor “baru” (pindahan dari genre lain juga) yang menanggungjawabi buku-buku nonfiksi sekarang, namun untuk etisnya saya dites lagi apabila hendak menggarap proyek bersama editor tersebut. Wajar-wajar saja, sebab kerja terjemahan dan menyunting memang seni yang subjektif. Gaya saya disukai editor A, belum tentu cocok dengan editor B.
Belum lagi jika penerbit tersebut diakuisisi, berganti nama imprint, atau berganti pimpinan/manajemen. Biasanya produk atau jenis buku yang diterbitkan pun berbeda, walau tidak sampai “drastis”. Dengan sendirinya, kita sebagai pekerja lepas ikut “terseleksi” apakah bisa beradaptasi untuk menggarap genre dan tema yang lain atau memutuskan “pindah haluan” saja ke klien lain.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

PREVIOUS ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)