Ini bukan iklan, sekadar berbagi pengalaman.

Alkisah, hampir sebulan lalu kartu ATM saya tertelan dan terblokir otomatis di mesin BCA di salah satu minimarket cabang sekitar rumah. Tertelan bukan karena lupa/salah PIN, melainkan telat mengeluarkan kartu seusai bertransaksi. Jadi itulah kali pertama saya menelepon Halo BCA dari ponsel, menyiapkan segala data berikut struk transaksi terakhir sehingga dapat menyebutkan nominal dan tujuan rekening berikut jamnya ketika ditanya CS.

Dari informasi tersebut (waktu itu hari Minggu siang), saya diberitahu harus mengurus kartu baru di cabang tempat saya buka rekening. Selain data sudah berubah karena waktu buka rekening saya masih tinggal bersama ortu, kartunya juga tertelan di mesin yang bukan ATM kantor BCA. Andaikata di kantor cabang terjadinya, pengurusan mungkin akan lebih singkat. Pikir punya pikir dan karena tiga-empat hal, saya baru mengurus beberapa hari yang lalu. Bukan apa-apa, cabang tersebut sekitar 20 km dari rumah dan harus berangkat pagi-pagi tentunya.

Alhamdulillah, setelah “nyubuh” (baca: jam 7 pagi berangkat), sesampai di sana saya tidak perlu antre. Langsung ke meja CS yang sangat ramah dan kooperatif, seusai ambil nomor dan ditanya keperluan rinci oleh satpam yang santun sekali. Dari CS tersebut kami (suami saya duduk di sebelah) jadi tahu bahwa cabang terdekat dari rumah hanya terdiri atas dua loket sehingga pastinya penuh dan nasabah harus menunggu lama.

Setelah memberikan KTP dan buku tabungan {yang tinggal 2 lembar), saya dipersilakan mengisi ulang formulir data nasabah. Karena sudah lama sekali, saya sempat menulis agak lama. Untungnya sebelum ini kami baru didatangi petugas sensus ekonomi, jadi tidak terlalu kaget dengan pertanyaan “Penghasilan Kotor Tahunan”, “Pekerjaan”, dan seterusnya. Saya dan Mas CS sepakat mencantumkan “editor freelance” di kolom pekerjaan.
Rupanya menurut aturan baru, nasabah lama dan baru harus difoto di bank. Ini memudahkan nasabah sendiri, jika kali lain kartu tertelan lagi dan amit-amit, saya sedang di luar kota sehingga tidak bawa buku tabungan. Cukup bilang pernah difoto, data sudah tersimpan dan bisa diproses segera. CS sendiri yang memfoto saya dengan kamera mungil, saya tinggal copot kacamata saja.

Oh ya, dari isi-mengisi formulir ini saya jadi sadar kemungkinan besar mata saya sudah plus.
Pembuatan kartu baru berlangsung cepat, tidak ditanya “Mau pakai nama di kartu?” seperti dugaan saya. Sembari menunggu, Mas CS menceritakan beberapa kejadian penipuan dengan hipnosis di suatu cabang sekitar rumah saya, mengingatkan kami supaya hati-hati dan kalau bisa menghindari tempat itu. Saya pernah ke sana beberapa kali untuk urusan di ATM bank lain dan memang suasananya agak rawan meski di pinggir jalan besar.

Mas CS menginformasikan bahwa akan ada cabang baru yang lebih dekat tempat tinggal kami, sehingga tak perlu jauh-jauh dari timur ke selatan sana. Saya iseng berkata, “Jatinangor juga dong, Mas. Masa di Jatos aja nggak ada ATM BCA.” Ia mengangguk-angguk responsif.

Untungnya tandatangan saya tidak berubah, faktor yang cukup penting di bank ini. Kalau sampai berubah, saya harus tutup rekening dan buka baru.

Mas CS berkomentar, “Wah, datanya dari dulu belum pernah diperbarui ya, Bu? Dulu buka rekening bersama kantor atau sendiri?” Memang sudah waktunya kartu saya diganti karena sebelum tertelan pun, salah satu ujungnya sudah retak. Saya cengar-cengir saja sebab selama 16 tahun jadi nasabah, tak pernah lupa PIN, masih ingat alamat lengkap rumah lama, dan sudah 10 tahun tidak ngeprint buku tabungan. Lumayan jugalah untuk tante-tante menjelang usia 40:))


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)