Ini semata berbagi pengalaman, bukan kiat sebab saya masih sering salah menaksir

estimasi waktu yang dibutuhkan untuk menggarap satu proyek terjemahan.

Dua aspek yang sudah pasti penting dalam perkiraan ini adalah tingkat kesulitan dan

tebal halaman buku/materi asli. Namun ternyata bertanya pada penyunting tidak

selalu menjamin. Pasalnya, tipis-tebal itu relatif.  Tiga ratusan halaman bisa jadi

ringan (baca: standar) apabila font-nya besar-besar dan jarang. Ini berarti jatuhnya

sama saja dengan 200-an halaman tapi rapat dan font-nya relatif kecil.

Ini belum selesai. Jika bahasanya rumit atau banyak elemen yang memerlukan riset,

perlu diperhitungkan pula. Sayangnya, ini baru kita ketahui setelah bahan ada di

tangan. Untuk menyiasatinya, saya berusaha mencari excerpt di internet,

syukur-syukur penulis berbaik hati memajang lebih dari satu bab di web resminya.

Ada kalanya penulis tidak menyertakan itu, bahkan di Google Books pun tak ada

secuil pun.

Hati-hati juga dengan genre/tema yang baru Anda garap. Beralih, meski jauh

sebelumnya kita pernah mengerjakan topik sejenis atau banyak membaca buku

tentangnya, bahkan menekuni itu di bangku kuliah/profesi terdahulu tidak membuat

kita mengerjakan selancar air. Ini pernah saya alami ketika tahu-tahu bertemu

nonfiksi setelah berbulan-bulan menerjemahkan fiksi.

Jadi bagaimana kesimpulannya? Buat saya, rata-rata tenggat yang aman adalah dua

bulan per buku (lebih dari itu, alangkah baiknya:)). Satu setengah bulan kalau ‘terpaksa’, kecuali tentu saja buku anak

yang tipis, komik, atau banyak gambarnya. Kelapangan waktu merupakan keuntungan

tersendiri guna mencermati pembacaan ulang. Usahakan negosiasi sebelum

menandatangani perjanjian/SPK, dan jangan sungkan menolak bila terlalu mepet.

Semoga tulisan ini berguna.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)