Telah berulang kali film yang diangkat dari kisah nyata Master Chief Carl
Brashear, penyelam kulit hitam pertama di Angkatan Laut Amerika, ini diputar di
televisi. Tetapi saya selalu menyerah di 45 menit pertama karena larut malam dan
panjangnya film [ditambah sekeranjang iklan sekian menit sekali].

Carl Brashear telah berjanji kepada ayahnya untuk tidak memikul nasib serupa,
selaku penggarap ladang yang harus jungkir balik dan deg-deg plas menuju musim
panen. Ia membulatkan tekad masuk Angkatan Laut dan meninggalkan kampung
halamannya walau sempat ‘terjerembap’ sebagai koki kapal Hoist. Di sanalah Carl
menunjukkan kemampuan sekaligus kenekatannya. Ia terjun ke air laut pada hari
berenang yang tidak diperuntukkan bagi awak kulit hitam. Kecepatannya dalam air
membuat Carl dipindahkan ke unit penyelam dan penyelamat yang membuat
teman-teman sesama pekerja dapur bangga, meski ia tetap harus sekamar dengan
mereka.

Sosok yang menyita atensi Carl adalah Master Chief Billy Sunday (Robert de
Niro). Lelaki keras yang berani melawan atasan untuk menyelamatkan rekan sesama
penyelam dan mempertaruhkan karirnya sehingga kemudian dialihkan sebagai
pelatih. Carl terinspirasi mengejar cita-cita dan terus menulis surat agar dapat
bergabung dengan sekolah menyelam, tak peduli harus berdiri berjam-jam di
gerbang karena tidak diizinkan masuk dan mengalami pelecehan bernada rasisme.
Hanya satu orang yang bersedia satu barak dengannya.

Film tentang penggapaian impian hampir selalu menarik. Poin plus plus di sini
adalah dunia selam yang penuh tantangan, ketegangan, dan nyaris bermain-main
dengan maut. Cuba Gooding Jr. menampilkan performa cemerlang sebagai lelaki
berhati baja yang tak mau menyerah tatkala pihak AL berupaya menggagalkan ujian
terakhirnya, sampai-sampai ia berada di bawah air selama 9 jam lebih. Ia juga
berani adu tahan napas dengan Billy untuk menunjukkan potensinya. Tak peduli
penghargaan disematkan kepada penyelam yang justru melarikan diri saat sesama
rekan sekarat, tak peduli sebelah kakinya rusak parah tatkala mengangkat bom
nuklir.

Duet akting Cuba dan Robert de Niro menjadikan Men of Honor kian memukau.
Seperti biasa, aktor watak yang disebut belakangan ini lebur dalam perannya.
Seorang Master Chief yang dilanda post-power syndrome dan larut dalam jurang
alkohol. Toh, kedekatan emosi yang terbangun antara dirinya dan Carl yang
sama-sama berkomitmen kendati terpaksa mengesampingkan istri tercinta membuat
mata sukar mengalihkan pandangan dari adegan ke adegan. Inilah satu dialog yang
menggetarkan saat Carl ingin membuktikan bahwa dirinya masih mampu mengejar
karir dengan kaki satu:

Carl Brashear: Forgive me sir, but to me, the Navy isn’t a business.

It’s an organization of people who represent the finest aspects of our nation.

We have many traditions. In my career, I have encountered most of them.

Some are good,some not so good. I would, however not be here today

were it not for our greatest tradition of all.

Captain Hanks: And what would that be, Chief Brashear?

Carl Brashear: Honor, sir

Sudut lain film beralur cepat ini yang juga tergarap baik adalah karakter ayah
Carl. Sosok yang muncul sejenak dan menampakkan darah di tangan karena kerja
keras di ladang garapannya ini merupakan orang tua yang menanamkan semangat.
“Jangan kembali, untuk waktu yang lama,” pesannya. Kalimat yang tergurat di
radio tua sang ayah pun amat menyentuh batin. ASNF: A Son Never Forgets.

[rating=5]


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)