kantor

“Sudah berapa tahun ya kita saling kenal?” tanya seorang editor in house lewat YM. Kami terkekeh-kekeh mengenang kali pertama “bertemu” di FB. Ia mengaku ingat nama saya karena sebelumnya pernah membaca ulasan novel keluaran penerbit tempatnya bekerja di suatu situs. Menurutnya, itu salah satu buku pertama yang ia tangani di kantor.

Memang bukan berarti saya sampai di jalan tol untuk menjadi penerjemah di sana. Saya tetap melamar ketika penerbit tersebut membuka lowongan dan menempuh tes.

Tak ayal, untuk saya dan kawan-kawan segenerasi yang memulai sejak jejaring sosial belum ada, blog adalah salah satu perangkat promosi diri yang ampuh. Itulah wadah penyaluran hobi saya, menjadi penulis buku di kemudian hari merupakan bonus. Lewat fitur pesan di blog juga, seorang editor menghubungi saya. Isi pesannya kira-kira begini, “Saya sudah baca tulisan Mbak Rini di buku-buku terbitan X dan Y (satu bendera dengan kantor beliau). Mbak Rini punya kemampuan mengolah kalimat. Berminatkah menjadi editor?” Lalu obrolan pun berlanjut di email.

Dengan kemunculan sejumlah komentar editor in house di blog saya kala itu, saya menyadari bahwa pihak penerbit kerap blogwalking dan melihat potensi-potensi yang ada.

Sekarang musim jesos dan tidak sedikit orang merasa repot memperbarui blog karena satu dan lain hal. Penerbit sering kali menjadi pemantau pasif, sehingga apeslah kita bila tengah adu komentar atau menulis status yang kurang pantas saat “kebetulan” mereka punya waktu menjenguk jesos. Ini klise tapi nyata. Saya pernah mengalami, dihubungi langsung oleh beberapa relasi editor ketika ngomel-ngomel di Twitter.

Salah satu editor senior mengingatkan saya, “Hati-hati bergurau dengan akun lini A dan B di jesos, kadang yang pegang Bos.” Bos di sini maksudnya Manajer Redaksi, “kebetulan” saya pernah bertemu dan terus terang sungkan banget:D Bukan maksud “cari muka”, tapi nggak mau dong jika bertemu relasi kemudian beliau berpikir, “Oh ini yang tukang misuh-misuh di Twitter.” Apalagi kalau sudah doyan misuh-misuh, eh hasil kerja tidak memuaskan.

Toh, jesos tetap dapat digunakan untuk berjejaring sebagaimana mestinya. Utamanya dalam urusan profesional. Ada yang suka menjadikan para editor atau perwakilan penerbitan sebagai kontak FB. Saya tipe yang “pikir-pikir” karena bisa jadi postingan mereka bersifat personal sehingga hanya “berteman” dengan sedikit orang. Sebaliknya, postingan saya sendiri belum tentu menyenangkan untuk mereka. Jangan-jangan membanjiri feed kemudian di-hide:))

Yang terang, pengalaman di Twitter dulu mengingatkan saya untuk berhati-hati komentar. Termasuk tidak ikut “kompor” di postingan yang mengundang pro dan kontra. Kadang saya menjawab pertanyaan di suatu forum FB milik penerbit tertentu jika memang tahu dan tidak melanggar kerahasiaan. Di forum itu, beberapa anggota mendesak penerbit menerjemahkan satu buku yang naik daun. Saya jawab, “Sepertinya copyright buku itu mahal sekali, apalagi sekarang dolar tinggi.” Komentar itu di-like seorang editor. Selang sekian bulan, beliau menawari saya menyunting. Bisa jadi saya GR, tapi sepertinya ada kaitan dengan tanggapan di forum tadi:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)