Konsekuensi menerjemahkan thriller atau horor adalah sekali-sekali bertemu adegan kekerasan, bisa penganiayaan atau pembunuhan. Bukan berarti saya tidak ngeri, tapi lambat laun terbiasa juga. Apalagi jika penulisnya menggambarkan dengan amat filmis.

 

Kalimat 1

[sws_blue_box box_size=”100″] My brother slaughtered my family when I was seven. My mom, two sisters, gone: bang bang, chop chop, choke choke. [/sws_blue_box]

 

[sws_green_box box_size=”100″] Abangku membantai keluarga kami sewaktu aku berusia tujuh tahun. Ibuku, dua kakak perempuanku, menemui ajal: dor dor, crak crak, hek hek. [/sws_green_box]

 

Kalimat 2

[sws_blue_box box_size=”100″] She’d had part of her face burned off in a fire her dad set that killed everyone else in her family. [/sws_blue_box]

 

[sws_green_box box_size=”100″] Separuh wajahnya dilalap api dalam kebakaran yang dipicu ayahnya sehingga anggota lain dalam keluarganya tewas. [/sws_green_box]

 

Kalimat 3

[sws_blue_box box_size=”100″] Outside the closed door, where I couldn’t see, my mother was wailing and Ben was bellowing at her. There were other voices too; Debby was sobbing, screaming Mommymommymom¬mymichelle and then there was the sound of an axe. I knew even then what it was. Metal on air—that was the sound—and after the sound of the swing came the sound of a soft thunk and a gurgle and Debby made a grunt and a sound like sucking for air. [/sws_blue_box]

 

[sws_green_box box_size=”100″] Di luar pintu yang tertutup, tempat yang tidak dapat kulihat, Mom melolong dan Ben melenguh padanya. Ada suara-suara lain juga; Debby tersedu-sedu, meneriakkan Mommymommymom-mymichelle kemudian terdengar suara kapak. Bahkan saat itu aku tahu suara benda tersebut. Logam di udara—begitulah suaranya—dan setelah bunyi ayunan, terdengar suara benturan lembut dan degukan dan Debby mengerang dan kedengaran kehabisan napas. [/sws_green_box]

 

Kalimat 4

[sws_blue_box box_size=”100″]Mom screaming Run! Run! Don’t Don’t. And a shotgun blast and my mom still yelling but no longer able to make words, just a screeching sound like a bird banging into the walls at the end of the hallway. [/sws_blue_box]

 

[sws_green_box box_size=”100″] Mom menjerit Lari! Lari! Jangan Jangan. Lalu ledakan pistol dan ibuku masih menjerit tetapi tidak lagi mampu mengucapkan sesuatu yang jelas, hanya suara menciut-ciut bagaikan burung yang membentur tembok di ujung lorong. [/sws_green_box]

 

Kalimat 5

[sws_blue_box box_size=”100″] Everything else was red—sprays on the walls, puddles in the carpet, a bloody axe left upright on the arm of the sofa. 1 found my mom lying on the floor in front of her daughters’ room, the top of her head shot off in a triangular slice, axe gashes through her bulky sleeping clothes, one breast exposed. Above her, long strings of red hair were stuck to the walls with blood and brain matter. [/sws_blue_box]

[sws_green_box box_size=”100″] Segalanya berwarna merah—semburan di tembok, genangan air di karpet, kapak berlumuran darah yang ditinggalkan berdiri di lengan sofa. Kutemukan Mom terkapar di depan kamar anak-anak perempuannya, bagian atas kepalanya terbelah segitiga, kapak mencabik pakaian tidurnya yang berlapis-lapis, sebelah dada menyembul. Di atasnya, helaian panjang rambut merah ditempelkan ke dinding dengan darah dan ceceran otak. [/sws_green_box]

 

Keterangan foto: buku-buku di atas tidak semua saya yang terjemahkan. Ada yang editan, ada juga hasil proofread kami.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)