virginwayDua tahun silam (mungkin juga tiga, saya lupa), saya menerjemahkan buku memoar bisnis yang amat kreatif. Bisnis dan manajemen termasuk yang saya minati, sebagai mantan pembaca tabloid berbau dua topik itu dan pernah menggemari suatu saluran televisi yang fokus di berita bisnis meski usianya sangat pendek. Tentang Richard Branson sendiri, suamilah yang lebih tahu sebab pernah menonton liputan/wawancara mengenainya. Sependek yang saya tangkap setelah membaca-baca bahan dan referensi, sosoknya cukup nyentrik dan terkadang kontroversial. 

Meski tidak menampik buku panduan/how to, memoar terasa tidak terlalu jauh sebagai lompatan dari fiksi. Bahasa yang cenderung naratif, seperti mengobrol, dan mengalir ketika dibaca… tentu saja bikin peras keringat untuk menerjemahkannya. Apalagi ini bahasa Inggris British (di masa SMP, saya pernah menyebutnya “Inggris-Inggris”). Judul bab saja sering kali berima, rasanya seperti kembali ke dunia copywriter yang sempat saya terjuni:D Berikut beberapa contohnya:

Don’t enjoy it? Don’t do it!

Supaya berima, saya terjemahkan “Tidak Menikmati? Jangan Jalani!”

Life is not a dress rehearsal

Setelah saya pikir-pikir, supaya lebih mendekati aslinya, saya terjemahkan “Hidup bukan pengepasan baju.” Toh maknanya sama, dalam hidup tidak ada gladi resik. Harus siap dengan apa yang ada.

hell-raisers = biang kerok

‘serious fun’ = kesenangan serius

calculated risks = risiko terpetakan

Don’t try this at home = Jangan ditiru

Old blocks and young chips = Tua bangka dan daun muda

Human whirlwind = angin puyuh versi manusia

Well done, Mum = Dahsyat, Mum

Some wag = Seorang tukang ngoceh

Speak no evil = Bicara yang baik-baik saja

The dying art of listening = Punahnya seni mendengarkan

Listen – it makes you sound smarter = Dengarkanlah, kau akan kedengaran lebih cerdas

You’re short on ears and long on mouth = Kau pelit mendengar dan boros bicara. Di sini saya perhatikan dua kata sifat yang berlawanan, supaya hasilnya jadi antonim juga.

listening gets a bit of a ‘bum rap’ = mendengarkan jadi agak “terpinggirkan”

 

Call me old-fashioned if you will = Sebut aku kuno kalau kau mau

Salah satu segi menarik Richard Branson bagi saya adalah kebiasaannya mencatat. Dia mengaku kesal melihat eksekutif yang sering menggunakan perangkat canggih, sudah membuktikan banyak manfaat mencatat secara manual di buku notes, sekaligus sebagai latihan mempersering mendengarkan (dan menyimak keterangan orang lain) sembari memperjarang bicara. Branson punya analogi yang unik untuk banyak hal, semisal:

When you start trying to become a better listener the first difference
you’ll notice is similar to how you see things aft er you’ve lost some
weight.

Semoga terjemahan saya cukup mendekati karakter sang pengusaha.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)