20130919_194619

 

Dari beberapa kesempatan yang saya dapatkan untuk mengerjakan buku seri anak-anak [baik fiksi maupun nonfiksi], pelajaran pertama amat jelas: jangan kira menulis untuk anak itu mudah. Sepanjang penggarapan, saya tak henti-henti bertanya kepada teman dan saudara yang memiliki anak, atau mengamati keponakan yang usianya sama dengan kelompok yang disasar buku tersebut, apakah dia sudah mengerti kosakata tertentu.

Masih terngiang ucapan pemilik majalah anak tempat saya berkontribusi naskah 8 tahun silam, bahwa anak kecil [maksudnya kelas 1-2 SD] belum paham sejumlah istilah, antara lain soal jenjang S2. Sudah barang tentu, komunikasi yang sering dan diskusi dengan editor menjadi menu wajib.

Guna mempertajam naluri akan jenis pekerjaan ini, saya mau tidak mau harus membaca banyak buku anak-anak, baik yang lokal maupun terjemahan [syukur-syukur dapat yang impor, meskipun second]. Kebanyakan buku anak tidak terlampau tebal, namun memandang remeh tugas menerjemahkannya berdasarkan aspek tersebut sangat tidak bijaksana. Bila formatnya pictorial book, perlu diupayakan agar kalimat tidak terlalu panjang dan menabrak layout serta ilustrasi – misalnya yang berupa kotak-kotak dan lingkaran.

Apabila saya pernah menangani penerjemahan buku perdana dalam suatu seri, tentu sangat menyenangkan bila saya dipercayai mengerjakan buku-buku selanjutnya. Namun sependek pengetahuan saya, jarak terbit dan keputusan memproduksi sekuelnya adalah hak prerogatif penerbit, selain menilik potensi pasar [baca: memperhatikan respon pembaca atas buku pertamanya]. Belum lagi persoalan jadwal yang ada kalanya berbenturan.

Perkara memandang remeh yang sangat perlu dihindari tadi berlaku pula pada buku untuk dewasa, sekalipun bergenre komik. Dari suatu pengalaman beberapa waktu lalu, saya mengambil pelajaran bahwa gaya penulis belum tentu seragam kendati buku dalam satu seri yang sama ditulis oleh satu orang. Tema amat menentukan kesukarannya. Di satu buku, saya memerlukan waktu lebih lama untuk berpikir karena banyaknya kalimat yang harus dipadankan dengan konteks humor ala Indonesia, sedangkan di buku lain relatif lebih ringan.

Seperti yang pernah dikemukakan Mbak Poppy di salah satu postingan beliau, saya sempat dapat order menerjemahkan kelanjutan seri buku anak-anak yang awalnya ditangani penerjemah lain sehingga membuahkan pengalaman tersendiri. Aspek ringannya masih cukup terasa, karena penulisnya sama dan saya tinggal menyeragamkan penerjemahan beberapa istilah. Alhamdulillah, buku-buku sebelumnya mudah diperoleh di toko dekat rumah:)

Risiko menerjemahkan seri adalah ketika penerbit memutuskan untuk tidak membeli right terjemahan buku selanjutnya. Ini bukan kali pertama, dan sangat dimengerti, sebab bagaimanapun penerbitan adalah bisnis. Tidak peduli saya dan sejumlah pembaca (yang jauh dari kuota target konsumen untuk meludeskan cetakan pertama) menyatakan sangat menyukainya.

Saya sudah pernah iseng-iseng menawarkan sekuel buku tersebut kepada penerbit lain, dalam perbincangan ringan. Jawabannya lugas dan seketika, “Wah, kalau seperti itu, kami nggak berani. Berarti di pasaran tidak laku.”


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)