Bentang Pustaka

Sekian tahun silam, saya ditawari menerjemahkan beberapa halaman memoar Gandhi dalam bahasa Prancis oleh suatu penerbit. Itu dalam rangka tugas selaku reviewer/pembaca awal, di kemudian hari penerbit tersebut urung membeli hak ciptanya. Toh rasa cinta saya pada buku-buku Asia dalam format berlainan tidak dapat disangkal. Ketika dalam kurun waktu beberapa bulan yang berdekatan saya terus memperoleh tugas menyunting buku bernapas Asia, itu seperti doa. Saya mengira akan menjadi “spesialis” bidang itu. Nyatanya, hal tersebut adalah kejelian para editor membaca minat saya:)

Lalu bertemulah saya dengan novel yang amat mengesankan terbitan Bentang, Six Suspects. Salah satu cerita yang tak bisa saya lupakan adalah pembesar yang kerasukan Gandhi. Seiring dengan masih sukanya saya nonton film India (meski bukan penggemar kelas kakap yang sampai hafal semua nama aktor masa kini), hati kecil saya yakin akan menggarap cerita Gandhi suatu hari nanti. Mungkin sebagai penyunting, proofreader, siapa tahu?

Ketika tawaran editor B-First datang lewat YM (ini mungkin saluran jadul, tapi masih membuka pintu rezeki), saya langsung mengiyakan. Bagaikan bonus istimewa setelah lama menanti. Bukunya novel grafis nonfiksi, paduan orang-orang Asia hebat yakni Gandhi sendiri dengan sang komikus yang orang Jepang menghasilkan karya menawan dari kacamata saya selaku pembaca.

Penggarapan kali ini berbeda dengan cara menerjemahkan komik yang sudah-sudah. Bukan lagi menomori balon kemudian menyamakannya dengan di naskah hasil, melainkan mengisi tabel. Contohnya diberikan langsung oleh editor dari komik yang sudah selesai, nomor halaman disamakan dengan karya aslinya yang dikirim berupa PDF.

Kocaknya, saya mengalami gegar selingkung. Sederhana saja kesalahan paling sering itu, yakni perbedaan titik tiga. Penerbit lain tidak menerapkan spasi sebelum titik tiga, sedangkan di sini harus. Saya sempat mengintip materi tes proofreader yang ditempuh Mas Agus dulu, berkonsultasi dengan Dita yang menjelaskan poin-poin lengkap selingkung Bentang dan berbaik hati mengirimkan panduan tertulisnya. Alhamdulillah, Dita juga termasuk proofreader buku ini:)

Ceritanya “melenakan”, saya seperti pembaca belaka. Tapi tunggu… ada syairnya. Cukup lama saya mencari yang pas, mencari inspirasi dengan mendengarkan rekaman Bhagawadgita (dalam bahasa India, sungguh saya tak paham satu kata pun). Rasanya bagai dikejar-kejar, sewaktu ada teman mengutip Gandhi di Twitter dan berbincang dengan penulis satu ini yang memasukkan “Ahimsa” di nama putranya.

Saya tidak tahu apakah Kazuki Ebine menulis novel grafis ini langsung dalam bahasa Inggris. Sepertinya begitu, hingga terasa sentuhan unik di kalimat-kalimatnya. Menyitir kesan sang komikus di bagian Penutup,

[sws_blue_box box_size=”100″] Menariknya, semakin dalam kupelajari hidupnya, semakin jelas sosoknya bagiku, seperti kita semua, bimbang, cemas, dan sekali-sekali gagal, ketika memimpin orang banyak serta meyakini pendirian dan prinsipnya. Kukerjakan biografi Gandhi selama setahun dan setelah menemuinya dalam imajinasiku setiap hari, kata-katanya sefamilier dan semeyakinkan ucapan orangtuaku yang lansia. [/sws_blue_box]

Segi impresifnya, usai melakukan aksi, Gandhi senantiasa sadar konsekuensi.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Menerjemahkan Novel Grafis Sejarah ”

  1. gravatar idpramudita Reply
    September 27th, 2013

    Ihiyyy … suit suittt. Alhamdulillah 🙂

    • gravatar Rini Nurul Reply
      September 28th, 2013

      Suit suiit juga, kemarin aku sudah lihat di Togamas:)

Leave a Reply

  • (not be published)