Menyelaraskan budaya dalam arti mencari titik tengah agar tidak janggal dalam budaya buku aslinya sekaligus terdengar ‘aneh’ untuk kultur masyarakat pembaca selalu menjadi perkara susah-susah gampang. Lebih banyak susahnya dan saya berusaha tidak terus-terusan mengganggu penyunting dalam urusan ini.

Saya pernah dikritik pembaca ketika menggunakan sapaan ‘Anda’ untuk Bibi Polly (Miss Polly Harrington) dalam Pollyanna. Yang melontarkannya tentu Pollyanna sendiri. Menurut pembaca tersebut, itu mengesankan Pollyanna takut pada sang bibi. Padahal saya hanya ingin menekankan bahwa hubungan mereka berjarak meski Pollyanna mencoba dekat dengan bibinya, sebab Polly tidak menginginkannya mula-mula.

Masukan pembaca tersebut, sebaiknya saya menggunakan sapaan ‘Bibi’ saja. Saya menerapkannya di sekuel buku itu, terlebih Pollyanna dan bibinya sudah sangat akrab.

Suatu ketika, dalam novel yang saya sunting, penerjemah memberikan catatan tambahan bahwa seorang tokoh perlu diganti ketika menyapa tokoh kedua. Semula mereka ber-aku-kau, tetapi tokoh yang lebih muda ternyata menyatakan rasa hormat dan utang budi kepada tokoh lebih tua yang berjasa besar serta menyayanginya seperti anak sendiri. Saran penerjemah untuk mengganti menjadi ‘saya-Anda’, sedangkan tokoh lebih tua itu tetap ‘aku-kau’, saya terima. Repotnya, catatan itu berada di bagian tengah naskah, sedangkan keseluruhan file setebal hampir 2000 halaman. Ditambah lagi, kedua tokoh tersebut tidak sering bertemu. Artinya saya benar-benar harus pakai Ctrl + F, bukan Ctrl + H yang berisiko menciptakan kesalahan.

Saat pada satu titik si muda ini berang bukan kepalang kepada si tua sehingga berkata kasar dan memutuskan hubungan mereka, saya berinisiatif mengubahnya menjadi ‘aku-kau’. Begitu saja? Tentu tidak. Saya bubuhkan comment di Word, menuturkan alasannya.

Perkara sapaan ini bertambah rumit ketika karakter dalam novel tersebut cukup banyak, hubungannya berubah-ubah, latar waktu zaman dulu, dan bukunya merupakan seri. Berikut ini beberapa poin yang saya petik dari pekerjaan sendiri:

1. ‘Saya-kamu’ ketika dua remaja/anak muda baru berkenalan -> keliru. Mengingat kultur, dalam konteks seperti ini, mereka akan langsung ber-aku-kau. Apalagi dalam kebanyakan cerita, pertemuannya terjadi secara kurang menyenangkan, misalnya bertubrukan di lorong atau perkenalan di sekolah antara seorang pelajar yang sombong dengan seorang anak baru.

2. ‘Aku-Mama/Mum/Mom/Dad’ -> tidak pas. Bandingkan saja contoh dialog langsung di bawah ini:

“Kau tidak usah menjemputku. Aku bisa pulang sendiri,” kata Lucy kepada ayahnya.

“Dad tidak usah menjemputku. Aku bisa pulang sendiri,” kata Lucy kepada ayahnya.

Mungkin di sini belum terasa, tapi bandingkan yang ini:

“Kau yakin aku tidak perlu menemanimu?” Dad memandangiku khawatir.

“Kau yakin Dad tidak perlu menemanimu?” Dad memandangiku khawatir. Kedengarannya seolah ia membicarakan ayah orang lain, bukan diri sendiri.

3. Sapaan ‘Anda’ selalu pada orang yang lebih tua. -> keliru.

Dalam When God was A Rabbit, Elly terus memanggil Ginger dan Arthur ‘kau’. Demikian pula Kim kepada gurunya, sang lama (Kim) dan Luciano kepada Rodolfo, Stravagante yang mendidiknya dan jelas jauh lebih tua darinya (City of Masks).

4. Hirarki jabatan atau gelar membuat seseorang terus ber-saya-Anda dengan lawan bicaranya -> tidak selalu.

Seorang ratu yang menjalin hubungan asmara dengan pembesar istananya akan terus menyebut ‘aku-kau’ di mana pun. Namun sang pembesar hanya bersopan-santun di muka umum, dan begitu mereka berdua saja menggunakan ‘aku-kau’. Sebaliknya, kendati menghadapi orang yang berkedudukan lebih tinggi/bangsawan, jika dikisahkan seorang rakyat jelata memang kasar dan kurang berbudi/pongah, ia akan ber-‘aku-Anda’ dalam pembicaraan, bukan ‘saya-Anda’.

Tingkat kedekatan pun memengaruhi. Rodolfo, dalam City of Masks, senantiasa menyapa William Dethridge ‘Dottore‘ namun memakai ‘kau’ karena mereka sudah seperti saudara kandung.

Jalan keluarnya, mau tak mau penerjemah/penyunting membuat catatan menyangkut ini agar tidak tertukar atau mondar-mandir mengecek lagi. Ketika menyunting, masalah yang muncul adalah konsistensi. Saya semakin merasa perlu memeriksa unsur tersebut setelah membaca sebuah milis yang aktif dan para anggotanya jeli. Mereka hafal ketika sapaan mendadak berubah, atau malah “kembali ke awal” secara ganjil.

Memang ketika suatu hubungan berubah akrab, yang kadang tidak bisa diprediksikan waktunya (bisa saja ketika belum lama berbincang-bincang tapi sudah saling “serang”), otomatis sapaan berganti pula. Saya sempat memeras otak ketika berhadapan dengan dialog empat orang yang hubungannya berbeda satu sama lain. Katakanlah tiga di antaranya sudah akrab dan saling ber-aku-kau, tetapi yang keempat orang baru, bawahan salah satu dari tiga orang itu sehingga saya harus ingat bahwa khusus orang keempat ini, ber-saya-Anda. Ruwet, bukan?

Tantangan lain tatkala menangani buku seri yang penerjemahnya berbeda. Karena digarap hampir bersamaan, otomatis penerjemah buku kedua tidak bisa mengacu buku pertama (yang belum terbit) guna menyelaraskan sapaan antartokoh ini. Penerjemah buku kedua konsisten menggunakan “aku-kau” tanpa memandang hirarki atau umur, sedangkan penerjemah buku pertama tidak. Mengingat buku pertama sudah masuk meja editor penanggung jawab, penyuntinglah yang harus mengubahsuaikan buku kedua. Syalala…


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

4 Responses to “ Menerjemahkan Sapaan Antartokoh dalam Novel ”

  1. gravatar Aini Reply
    November 1st, 2011

    Masalah satu ini juga sering bikin aku keriting, Mbak 😀

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      November 1st, 2011

      *Toss, Nui*:D

  2. gravatar Retnadi Reply
    November 3rd, 2011

    kemarin aku juga bingung, dgn cara orangtua menyebut diri mereka sendiri. kukira gpp kalo orangtua bilang “aku” ke anak 😀 tapi kupikir-pikir, aku juga nggak pernah bilang “aku” sih ke hana. mungkin karena itu ya terasa tak pas 🙂 makasih ya mb rin 🙂

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      November 3rd, 2011

      Iya No, menyebut diri ‘saya’ juga terasa janggal. Sama-sama, Dear:)

Leave a Reply

  • (not be published)