Saya bukan ahli grafologi, walaupun suka memperhatikan tulisan tangan sekalipun di zaman serbakomputer ini. Itulah salah satu alasan saya menyimpan beberapa kartu ucapan dari teman dan kolega, termasuk surat-surat pribadi.

Sejak SD sampai SMA, saya selalu kebagian tugas jadi sekretaris kelas. Kata orang, ini tugas yang merugikan diri sendiri. Menuliskan bahan untuk dicatat teman sekelas di papan, tapi setelahnya harus meminjam catatan orang lain dan menyalin di rumah. Namun kalau tidak ambil bagian, saya sama sekali tidak punya pengalaman berorganisasi skala kecil dan tidak belajar bertanggung jawab. Bisa dikatakan, menulis sajalah yang saya mampu. Tidak seperti teman lain yang mahir merajut, menyulam, merangkai bunga, dan segala keterampilan sejenis.

Di SMA, saya dikerjai teman sebangku (cowok) ketika hendak meminjam catatan. “Sok we mun bisa macana mah (silakan aja kalau bisa bacanya),” katanya. Saya membaca beberapa kalimat dari tulisannya yang lumayan keriting (menurut dia) dan akhirnya dipinjami. Dalam hati sih cengar-cengir. Ada hasilnya juga suka membacakan surat untuk Emak (nenek) dan orangtua dengan ejaan lama serta tulisan sambung.

Semua latihan ini bermanfaat di kemudian hari. Sekitar 10 tahun silam, kami menerima order pengetikan seorang dosen yang menyusun sendiri buku pegangan untuk mahasiswanya. Dalam bahasa Inggris, namun untungnya topik masih terjangkau yaitu pelajaran tatabahasa berikut uraiannya. Tulisan tangan beliau (kini sudah almarhumah) khas “orang dulu”. Saya dan Mas Agus berusaha membacanya dengan bekal pengalaman bekerja di rental komputer semasa kuliah. Seperti kode misteri kadang-kadang, tapi menyenangkan.

Kali lain, pekerjaan yang datang berupa input data hasil angket beratus-ratus lembar. Poinnya banyak dan mendalam, lagi-lagi harus membaca tulisan tangan. Waktu itu kami masih tinggal di rumah orangtua dan Mas Ipar ke-2 datang dari Jateng menjenguk. Jadilah sambil mengobrol, beliau menyaksikan langsung bagaimana kami membaca sedikit demi sedikit dan mengisi kolom Excel di laptop tua.

Beberapa waktu lalu saya mengerjakan proyek semacam ini. Lebih ringkas dan tidak terlalu banyak, walaupun masih berbentuk tulisan tangan. Tapi itulah tantangan seru yang saya nikmati. Dari uraian yang disampaikan, saya dapat menerka latar belakang dan jabatan responden (perusahaan apa dan isinya bagaimana, rahasia tentu saja). Ada yang sangat panjang, ada yang langsung ke pokok masalah, kemudian ada yang… campur bahasa Jawa! Saya terhibur sekali, deh:D

Ternyata apa yang pernah kita kerjakan di suatu waktu bisa saja muncul kembali di saat yang tidak disangka-sangka. Waktu dan energi saya tidak sebesar dulu untuk menjadi asisten riset, namun alhamdulillah masih ada relasi yang percaya. Khususnya untuk membaca tulisan tangan tadi. Kadang-kadang topiknya sungguh di luar jangkauan saya, tapi saya jadi menambah wawasan dan membuka-buka referensi peristilahan yang menunjang agar dapat mempertajam dugaan paling mendekati. “Ini B, ini F, lihat P ujungnya seperti itu.” Asyiknya, saya merasa jadi Dr. Gillian Foster di Lie to Me. Maunya:p

Belakangan, saya menyimak obrolan para orangtua (yang anaknya sudah remaja dan/atau kuliah) mengenai jeleknya tulisan anak zaman sekarang. Kebanyakan sudah langsung “lompat” ke mengetik, itu pun tidak lancar. Terlepas dari seru dan asyiknya menjadi penerjemah tulisan tangan bahasa Indonesia dan daerah, saya prihatin juga kalau ada yang kesulitan membaca tulisan tangan sendiri kemudian berkilah, “Berarti punya bakat jadi dokter.” Mungkin, mengutip naskah yang pernah saya sunting, masyarakat kita dilanda puber ketik padahal tulisan tangannya belum ajek dan sempat mengakar sebagai tradisi.

Miliaran terima kasih pada guru menulis halus semasa SD, yang sering dibikin pusing karena kebandelan saya.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)