The courtier was advancing, his wooden baton raised to strike, when the other said in a dangerously low voice, “If you touch me with that toothpick, puppy, I’ll shove it down your throat and stop that nasty mouth of yours for good!”

Si opsir istana maju. Tongkat kayunya siap menyerang, saat lelaki kedua berkata dengan suara rendah yang ganas, “Kalau kau sentuh aku dengan tusuk gigi itu, Bajingan Kecil, akan kutancapkan ke tenggorokanmu dan kubungkam mulut busukmu itu selamanya!”

 

“We sort of collided at the corner, me being in a hurry, and him not looking where he was going. I said I was sorry, but the pretty boy threw a temper tantrum, called me names, and wanted to hit me with his toy.”

“Kami bertabrakan di pojok sana, saya sedang terburu-buru, dia tidak melihat jalan. Saya sudah minta maaf, tapi anak manis ini mengamuk, mengata-ngatai saya, dan ingin memukul saya dengan mainannya.”

 

“Is that uncouth savage your servant?” the stranger demanded in a voice trembling with fury.

“Jadi orang biadab ini pelayan Anda?” lelaki asing tadi bertanya dengan suara gemetar karena geram.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)