Sumber gambar: Wallpaper Pelho28

“Bencilah sesuatu sekadarnya, dan cintai juga sesuatu secukupnya saja,” kira-kira demikian kata bijak yang sering didengungkan dan sudah saya buktikan kebenarannya. Beberapa kali saya alami, bila terlalu tidak menyukai sesuatu, malah jadi bertemu terus. Agaknya benar suatu pernyataan di buku entah siapa, “Jika punya musuh, pastikan dia ada di dekatmu agar kau tahu pasti gerak-geriknya.” Ini sebenarnya musuh apa cinta ya?:D

“Musuh” yang saya benci itu Windows 7. Memusingkan sekali ketika beberapa waktu ke belakang saya mereparasi sendiri netbook ber-OS W7 kemudian terkena virus superparah bernama Sality. Usai format ulang, tak bisa install OS baru karena terhalang virus ganas itu. Apalagi yang mau di-install OS di bawahnya, yaitu XP. Setelah hampir sebulan, kami minta bantuan tetangga yang punya jasa reparasi. Entah diapakan, yang pasti bisa install XP-nya. Harus diakui, kerepotan itu dikarenakan netbook tak dilengkapi DVD Rom. Ada DVD eksternal, namun power-nya kurang kuat untuk mengangkat.

Apa boleh buat, dari pabriknya Toshi harus bergandengan dengan W7. Diganti XP, USB tak terdeteksi. Nahasnya, OS lama itu “tersisa” sehingga ada dua opsi muncul sewaktu booting. Begitu ada waktu senggang, saya cari tahu caranya. Menu W7 memang unik, butuh pembiasaan yang tidak sebentar. Ini langkah mudahnya.

W7 ribet, saya setuju. Penyebabnya satu: belum kenal. Untuk itu memang perlu diluangkan waktu, termasuk mengakrabi Word 2007 yang dulu saya hindari. Antara lain untuk mengubah default bahasanya yang bolak-balik kembali ke Inggris sehingga autocorrect-nya rajin inisiatif. Saya lupa persisnya kiat mana yang sukses mengubah itu, tapi saya lakukan semua langkah di sini.

Sejumlah program saya di Ceri, laptop lama, tidak kompatibel dengan W7. Khususnya kamus. Recent Places, menu Explorer yang di XP dikenal dengan sebutan “My Recent Documents”, juga lebih merepotkan. Tapi tidak semuanya begitu. Tetap ada yang menarik. Contohnya Paint. Saya semakin sering menggunakan program “jadul” yang dikenal pertama kali ketika menyentuh PC itu. Di W7, mudah saja crop dan resize gambar dengan Paint. Terutama hasil Printscreen. Tidak usah buka-buka ACDSee yang sering hang dan error itu.

sticky

Saya pun senang menemukan fitur Sticky Note, semacam post-it virtual sebagaimana gambar di atas. Sungguh mengasyikkan menjelajah menu-menu baru. Masih banyak yang belum saya pelajari.

Benar wejangan yang kerap saya temukan, “Boleh jadi apa yang kaukira buruk bagimu, ternyata baik untukmu.”


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Mengakrabi Windows 7 ”

  1. gravatar Femmy Reply
    March 31st, 2013

    Iya, aku juga suka Paint di W7. Dulu aku pakai IrfanView untuk crop gambar, sekarang ngga perlu instal lagi. Sticky Notes jarang kupakai karena jarang perlu. Snipping Tool yang kurasakan sangat bermanfaat kalau sedang dibutuhkan.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      March 31st, 2013

      Aku belum pernah nyoba Snipping Tool, tapi tampaknya menarik, Fem:D

Leave a Reply

  • (not be published)