… bahkan trennya seolah tak mengenal akhir?

Liburan adalah kebutuhan manusia, kendati liburan tak identik dengan bepergian jauh. Banyak aspek yang memungkinkan hal ini terjadi, katakanlah, ke luar negeri di akhir pekan. Bandung-Jakarta saja bisa ditempuh dalam satu hari jika berniat pergi-pulang, asalkan tahan macet wiken dan antrean keluar tol yang mengular. Walau saya tidak tahu pasti, apakah di mata para pejalan (atau petualang?), Bandung-Jakarta yang katanya hanya 3 jam itu termasuk traveling atau tidak.

Perjalanan memuaskan kebutuhan manusia, selain menyegarkan diri dan pandangan/pikiran, yaitu mengetahui hal-hal baru. Setiap sudut bisa digali, sebab apa yang menarik bagi seseorang bisa jadi membosankan bagi orang lain. Karena itulah buku traveling tidak lagi memotret wisata glamor atau yang sudah terkenal saja kemudian didatangi ramai-ramai. Bisa berupa perjalanan kontemplatif ke daerah konflik dan menantang bahaya, bisa merupakan bagian kegiatan lain seperti peziarahan atau menimba ilmu di negeri orang.

Traveling menyentuh unsur-unsur yang digemari banyak orang: makanan, foto-foto, pengalaman berkeliling yang acap kali membanggakan. Satu lagi: belanja tanda mata.

Jadilah genre ini ruang yang amat luas untuk dieksplorasi. Karena tidak pandang umur pula, buku traveling bisa menyentuh berbagai lapisan asalkan suka liburan/jalan-jalan. Bagi pasangan yang menikah, contohnya, dapat bercerita ihwal bulan madu, bulan madu kesekian, atau bahkan ketika pindah mukim sekian tahun lantaran mengikuti pasangan bertugas/menempuh pendidikan lanjutan. Buku anak-anak sudah ada, walau saya belum pernah melihat/membaca yang non terjemahan. Genre traveling pun lahan menjanjikan untuk menyusun buku kompilasi atau antologi, mengingat pengalaman beberapa orang berpeluang menawan pembaca sebagai satu paket. Apalagi jika para penulisnya itu sudah punya fans “fanatik”. Atau tak kalah seru, jika mereka tidak melulu penulis buku traveling.

Taktik efektif adalah salah satu materi yang cukup dicari. Bukan melulu strategi hemat, namun jurus bepergian bagi yang berkeluarga dan punya anak masih kecil. Yang anaknya lebih dari satu, barangkali ada tips menyelaraskan minat karena dari segi makanan saja bisa berbeda jauh. Belum lagi apabila anak sudah remaja, yang relatif sibuk dengan aktivitas dan teman sebaya sehingga mungkin butuh kiat tersendiri untuk mengajaknya bepergian sekeluarga.

Lebih dari itu, apa yang heboh-heboh (dalam arti positif) bisa menghasilkan antitesis sebab kontroversi sering kali punya daya jual. Ada tidak ya yang menulis Bukan Diari Pejalan atau It Itches Me So Much To Leave Home Even Just A Sec?


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)