Seorang pelancong tersohor menyatakan bahwa kiat satu-satunya agar dapat berlibur (baca: ke luar negeri) adalah menabung. Untuk kami yang sama-sama pekerja lepas, sekadar jalan-jalan ke luar kota sambil menjenguk orangtua menjadi tantangan tersendiri. Ketika itu tercapai di tahun kesembilan perkawinan kami, rasanya seperti “bonus istimewa”.

Mengakali waktu sangat berkaitan dengan strategi keuangan ini. Daripada membuat saudara-saudara menunggu dan berharap, kami membiasakan mereka mendengar jawaban, “Lihat sikon.” Sedapat mungkin kami tidak memaksakan diri (baca: sampai meminjam) untuk pulang kampung, apalagi jalan-jalan. Kalau diingat suatu kesempatan delapan tahun ke belakang, kami nekad juga karena mudik dengan uang relatif “sedikit”. Tidak sampai lima ratus ribu rupiah. Tapi masa-masa itu memang aneka harga belum semelonjak sekarang, apalagi di kota kecil Jawa Tengah masih sangat bersahabat untuk kondisi kantong kami.

Waktu paling ideal adalah berangkat setelah pekerjaan disetorkan. Hati tenang, tinggal menunggu honor masuk rekening. Jumlahnya sudah bisa diperkirakan sendiri, apalagi jika klien adalah penerbit langganan. Sebaiknya ada bekal yang mencukupi, dalam arti tidak terlalu ngepas. Inilah enaknya pergi ke kota kecil. Terus terang kalau sudah masuk Jawa Tengah, saya bisa sangat santai. Harga makanan terjangkau, tempat menginap yang sederhana pun banyak. Hanya saja agak repot mencari ATM di titik-titik tertentu. Berhubung tinggal di daerah terpencil, kami menyiasatinya jauh-jauh hari dengan membuka rekening lain di bank yang lebih dekat dan lebih mudah ditemukan ATM-nya.

Kami pernah menempuh perjalanan di masa paling ideal itu. Hari keberangkatan bertepatan dengan hari pembayaran. Sewaktu istirahat di tengah perjalanan, saya bisa mengecek mobile banking dan alhamdulillah honor masuk. Lebih menyenangkannya lagi, di perjalanan pulang ada uang masuk lagi dari pekerjaan lain yang lebih dulu dirampungkan. Tetap saja, bukan berarti boleh foya-foya lupa daratan. Jangan sampai sepulang “liburan” yang biasanya membutuhkan pemulihan, kami khawatir karena kantong bolong dan ada tagihan belum dibayar. Kondisi di atas semakin ideal apabila ada pekerjaan lain yang mengantre, benar-benar bisa pulang dengan tenang:)

Namun di suatu waktu, kami mengalami juga kondisi yang sekadar mencukupi tapi pas. Artinya tidak ada agenda main sembarang mampir, atau masuk penginapan dengan percaya diri:p Tapi jalan-jalan ini memang tidak wajib, yang penting bisa istirahat enak. Saat itu pekerjaan di depan mata belum selesai, bahkan masih banyak. Kami berani pergi karena tenggatnya masih lama. Ada tanggal ancer-ancer cair honor yang tidak bisa ditunggu lantaran kami sudah harus berangkat. Di perjalanan pulang, saya cek rekening dan… jreng jreng… Honor itu belum masuk karena petugas yang berwenang tengah cuti. Aah, sebalnya saya pada cuti bersama dan kroni-kroninya:p Tapi tidak sampai kesal berkepanjangan, lantaran kami sudah sedia payung sebelum hujan dengan berhemat pengeluaran selama di luar kota:))


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)