Mendapat catatan koreksi beberapa kali dari editor dan proofreader akan kegagalan saya mengenali idiom sungguh memalukan. Saya membaca sana-sini dan mencari karakteristik idiom. Rasanya sudah diterapkan semua, tapi kok masih ada yang terlewat.

Ternyata kesalahan terbesar saya selama ini adalah menyamakan idiom dengan peribahasa dan pepatah, atau setidaknya mirip-mirip. Kadang saya keliru juga dengan perumpamaan dan metafora. Padahal setelah diteliti lagi, di antaranya sewaktu membaca Kamus Ungkapan Inggris Indonesia, idiom lebih pas disebut “ungkapan”. Tidak selalu berupa frasa panjang, break even dan in luck pun termasuk idiom.

Lalu timbul dilema mengenai pemadanan yang pas. Menurut saya, kadang-kadang ungkapan bisa diterjemahkan apa adanya dan mudah diterka tanpa melihat kamus. Contohnya:

  • bring home the bacon = “mencari nafkah” dalam konteks tertentu
  • brush aside = mengabaikan
  • every dog has his day = tunggu giliranmu
  • every single … = tiap …

Tapi dalam kasus lain, tidak semua editor suka padanan yang tampak literal. Saya sempat ragu-ragu menerjemahkan at breakneck speed. Pikir saya, “secepat leher patah” masih pas. Paling tepat memang diartikan “secepat kilat”, tapi agar terkesan lebih idiomatis tanpa menghilangkan rasa bahasa asalnya, saya coba “secepat tolehan” yang masih dekat-dekat leher. Di naskah, saya bubuhkan komentar berupa alasannya dan menyerahkan keputusan akhir pada penyunting.

Ketika menyunting terjemahan penuh idiom, konteks bisa menjebak. Karena ingatan saya akan idiom cukup terbatas, terlebih jika ungkapannya tergolong slang, satu-satunya cara hanya menjenguk kamus. Dengan berkali-kali “penasaran” itulah saya baru tahu bahwa tear a strip off someone berarti “mengamuk”, sedangkan best bet bisa diartikan “paling banter” atau “paling-paling”.

Satu poin dalam kiat mengenali idiom adalah “terasa janggal jika diterjemahkan kata per kata”. Masalahnya, saya masih harus mengasah kepekaan ihwal yang janggal itu. Jadi jurusnya hanya ngecek langsung, habis perkara. Seperti kata beberapa editor kolega saya, “jadi penerjemah dan editor itu harus banyak curiga.” Makin banyaklah terduga dan tercuriga idiom dalam kalimat yang saya hadapi. Bantuan lain yang menambah koleksi ungkapan adalah dialog film.

Omong-omong, saya ingin sekali menerjemahkan compare apple to apple menjadi bandingkanlah kesemek dengan kesemek. Biar lebih ngindonesia, gitu:))

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Mengenali Idiom ”

  1. gravatar Femmy Syahrani Reply
    May 13th, 2014

    Untuk “breakneck speed”, aku memahaminya bukan sebagai “kecepatan yang secepat leher patah”, melainkan “kecepatan yang bisa bikin leher patah” (saking cepatnya). Kalau lihat kamus, maknanya

    1. Dangerously fast: a breakneck pace.
    2. Likely to cause an accident: a breakneck curve.

    Terjemahannya bisa “kecepatan yang membahayakan jiwa” atau yang lain, tergantung konteksnya.

    • gravatar Rini Nurul Reply
      May 13th, 2014

      Makasih, Fem. Berarti “secepat kilat” yang lebih pas ya… dulu konteksnya mengenai sukses instan kalau nggak salah.

Leave a Reply

  • (not be published)