Tujuh tahun silam, saya belajar menulis ulasan dengan mengikuti Apresiasi Resensi di milis Apsas. Sungguh saya merindukan masa-masa itu karena atmosfer komunitasnya yang guyub dan nyaman, membuat semangat belajar dan tidak minder. Berikut saya copas resensi dari arsip blognya:

[sws_blue_box box_size=”100″]Judul : Nar’Kobar the Motivator

Penulis: Andhika Pramajaya

Cetakan: I (Januari 2006)

Penerbit: Akoer

Tebal: 603 halaman

Kemunculan novel yang sempat menarik perhatian sejumlah pengunjung Pameran Buku Bandung beberapa bulan silam ini cukup pas dengan momentum naik daunnya tayangan berbau mistik, termasuk yang berbalut kemasan religius, di layar kaca kita. Boleh jadi pembaca akan bertanya-tanya: apakah komedi jin itu? Apakah ada hubungan atau kemiripan dengan Dialog dengan Jin yang fenomenal? Apa perbedaan novel ini dengan novel-novel horor, khususnya yang ditulis berdasarkan skenario film? Nar’Kobar mungkin berasal dari kata narkoba, sebagai simbol bahwa sekali kita berurusan dengan alam gaib dan kroni-kroninya maka buntutnya akan panjang seperti halnya obat-obatan terlarang yang menimbulkan candu dan ketagihan.

Satu hal yang pasti, genre novel ini sama sekali bukan komedi seperti label yang dipopulerkan Akoer. Lebih tepat disebut fantasi yang satiris. Pembaca dapat terpancing senyumnya di bagian-bagian yang dengan jelas menunjukkan (bukan menyindir, tapi terang-terangan) bahwa jin motivator tidak berarti pendamping atau teman yang dapat membawa ke arah kebaikan, sebaliknya justru menyesatkan jalan orang yang ditempelinya. Tersenyum bukan berarti lucu, tapi salut dan membenarkan. Bahwa banyak dukun berkedok sebutan eufemisme paranormal, padahal mereka tak lebih dari penipu yang cabul pula (seperti tokoh Ki Jambrong yang ternyata dokter).

Dikisahkan jin menghembuskan pikiran-pikiran negatif di benak manusia hingga ia berbuat kejahatan, seperti serdadu Jepang yang kemudian melakukan pembantaian sadis. Semoga saja tahapan-tahapan siasat Ki Jambrong tidak mengilhami masyarakat untuk bertindak kriminal, baik yang serupa maupun melebihi kecurangannya. Di lain pihak, rincian tersebut memberi gambaran jelas kepada pembaca betapa licin tipu muslihat orang-orang yang mengaku berpengetahuan dan berpengalaman soal dunia gaib serta memanfaatkannya demi kepentingan dompet semata. Informasi umum yang disertakan mencakup jin terbuat dari api, jin pura-pura menyerupai manusia sehingga orang yang melihat menduga bertemu dengan arwah leluhur atau almarhum kerabatnya, jin berdiam di patung-patung, bila manusia lupa membaca doa tidur maka jin akan menyusup di telinga dan menciptakan mimpi-mimpi ngawur, kalau manusia tidak membaca doa makan maka jin bisa ikut makan, sangat jeli dan tepat.

Kalau nanti ada sequelnya, mungkin akan ada cerita tentang kamar kosong yang harus dibersihkan dulu sebelum ditiduri, Twilight Zone, dan larangan membuang air panas ke lubang pembuangan. Dengan berani penulisnya mengemukakan opini-opini seputar tayangan mistik yang sudah merajalela (contohnya reality show Tabir Dimensi Lain dengan Ari Candra sebagai hostnya, yang saya duga adalah plesetan Dunia Lain dengan host Harry Panca. Dikuatkan keterangan fisik Ari Candra serta pekerjaannya yang juga pemain film horor) Imajinasi Andhika memang mengagumkan. Nama-nama berbagai alam, istilah, peta, dan sejumlah pengetahuan lainnya entah darimana ia dapatkan (mudah-mudahan kelak ada informasi mengenai sumber yang ia gali). Alih-alih meramaikan halaman dengan catatan kaki, daftar istilah dipersiapkan di belakang demi kenyamanan pembaca meski terminologi yang cukup banyak dan dalam bahasa serba asing itu tetap berpotensi memusingkan mereka yang tidak begitu menyukai kisah fantasi. Kekurangan novel ini adalah tidak adanya biodata penulis. Apakah Andhika lulusan ITB? Tebakan itu dapat muncul karena nama materi-materi kuliah yang berbau teknik, lalu plesetan ITIK. Jarang orang yang berani menyamarkan kampus ternama itu dengan plesetan seperti ini..di dalam novel yang dibaca banyak orang pula. Plesetan-plesetan inilah yang terbilang lucu: Deana Sasro alias Dian Sastro, Arya Saputra alias Surya Saputra, Warisan alias Arisan, UNGAS alias UNPAS. Tentu semua ini tebakan saya saja. Benar-tidaknya hanya Andhika sendiri yang tahu. Tidak jelas benar mengapa dan bagaimana awalnya Andhika menulis novel ini. Alangkah baiknya latar belakang ini dikemukakan dalam Prakata (di sini disebut Prakisah) daripada terlalu asyik berkreasi dengan dialog bersama makhluk-makhluk gaib. Toh Andhika, yang kemungkinan besar warga Bandung , menyelipkan keunikan berupa sejumlah kalimat berbahasa Sunda disertai penjelasan maknanya. Namun Andhika perlu berhati-hati dalam tiga poin berikut: 1. Ilustrasi jin yang dapat memancing kontroversi, walaupun dapat dimaklumi sebagai bagian dari imajinasi 2. Istilah-istilah yang kedengaran seperti berbahasa Arab, dan menurut pengakuan Andhika dalam pengantar hanya karangan belaka, namun benar-benar seperti dari bahasa tersebut. Misalnya yang sangat menancap di ingatan: Ainuur. Jangan sampai pemilik nama itu, yang benar-benar ada di dunia nyata, tersinggung. 3. Endorsement yang mengatasnamakan J’Naar Masaya. Sempat muncul terkaan bahwa yang dimaksud adalah Djenar Mahesa Ayu. Tapi terlepas dari siapa sebenarnya dia, menurut saya endorsement tersebut kelewat berani. Padahal sebenarnya tanpa ini, Nar’Kobar sudah bernilai jual cukup tinggi. Poin lain yang layak diperhatikan adalah kelengkapan sisi gelap-terang karakter. Tidak ada yang sepenuhnya jahat atau seratus persen baik, seperti Lena yang awalnya terkesan bersih total. Lucu juga uraian seputar ciri-ciri cewek gampusan antara lain ditindik dan ditato, begitu pula akal bulus NarKobar untuk mengelabui Ratu Nagini yang memberinya tugas menyesatkan Lena.

Sayang, percintaan Ipung dan Ainuur terkesan biasa dan membosankan. Jika bagian ini dihilangkan, keseluruhan jalan cerita tidak akan terpengaruh. Atau barangkali kehadiran Ainuur dimaksudkan Andhika untuk “melipur” Ipung yang sedang renggang lahir batin dengan Lena . Syukurlah impresi Raksa Geni dan jin-jin yang seolah merupakan teman baik manusia, yang dapat memburamkan pesan tersirat penulis serta membingungkan pembaca untuk menentukan sikap, dipatahkan lewat dialog Ipung dengan Abah Entum. Nilai tambah lain, novel ini tidak membuat bulu roma berdiri tapi memperkaya wawasan. Juga tidak membuat pembaca berkhayal seperti sinetron mistik. [/sws_blue_box]

 

Menurut juri pertama, Mbak Ana Mustamin:

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style01″] Sekilas membaca naskah resensi anggota Apsas, kelemahan pertama yang saya jumpai adalah tidak dicantumkannya judul. Kecuali Mas Sigit, Mas Wawan, Mas Dam, Pakcik Ahmad, Mas Adi Toha, dan Mas ATG, peresensi yang lain mungkin menganggap bahwa judul tidak penting. Padahal, jika ingin resensi kita dimuat di media, judul yang menarik merupakan hal mutlak.

Beberapa peresensi memilih untuk menyimpan deskripsi singkat atau rangkuman buku yang diresensinya. Mungkin maksudnya agar pembaca penasaran. Padahal, tanpa deskripsi, pembaca kehilangan jejak untuk mengikuti alur pemikiran peresensi. Mbak Rini mengulik novel yang dinilainya bergenre fantasi-satiris. Ia banyak mermberikan penilaian. Tapi sebagai pembaca, saya tetap bertanya-tanya, emang buku ini ceritanya apa sih? Mengapa Mbak Rini menilainya bukan komedi? Mengapa fantasi-satiris?

Hasil penilaian: 8 [/sws_blockquote_endquote]

 

Komentar juri kedua, Feby Indirani

 

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style01″]Komentar : resensi ini cukup asyik dibaca. Langsung pada pokok permasalahan yang ingin disampaikan, tidak berlarat-larat. Rini juga tak canggung memberikan penilaian meskipun untuk argumentasi mungkin mesti ditambah. Misalnya, kenapa sih penting bagi Rini mesti ada biodata Andhika? Apakah sekedar penasaran karena dia berani memplesetkan ITB (yang tidak ada jaminan orang non alumni pun berani melakukannya). Rini bisa memberikan argumentasi lebih kuat mengapa baginya biodata seorang penulis itu penting. Selain itu hati-hati dengan kata sifat. Misalnya dalam kalimat : ‘..menurut saya endorsement tersebut kelewat berani ‘ dan ‘Dengan berani penulisnya mengemukakan opini-opini seputar tayangan mistik yang sudah merajalela’ Lebih baik Rini menyertakan contoh, apa yang dia maksudkan dengan berani.

Nilai : 6,5 [/sws_blockquote_endquote]

 

Sebenarnya ada juri lain, Mbak Endah Sulwesi, namun komentarnya tidak tercatat di arsip tersebut. Mungkin saya harus menyelam ke milis kapan-kapan.

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)