papan

Kerap saya berpikir, dunia pekerja lepas ini luas. Bukan hanya pegiat buku di dalamnya, yang sudah beragam dan kelihatan wira-wiri di media sosial. Bergaul atau mencomot inspirasi dari sesama pekerja nonkantoran ada baiknya juga, dengan dasar pemikiran tidak melulu orang dunia perbukuan tadi. Pedagang pun saya kategorikan freelancer dan ada jurus-jurus yang dapat dipraktikkan dalam pekerjaan kami. Memetik pelajaran dari mereka juga tergolong menghargai.

Tentu saja yang diobrolkan bukan melulu pekerjaan, alangkah menjemukannya:))  Lebih seru lagi ketika pekerja lepas yang saya amati (karena saya lebih banyak mendengarkan dan menyimak) benar-benar menekuni bidang berbeda, bahkan tidak bersentuhan dengan komputer dan semacamnya.

Pekerja bangunan, misalnya. Salah satu yang paling dekat adalah suami sendiri, meski sekarang lebih kerap dijadikan hobi atau penyegar fisik yang kebanyakan duduk. Bidang ini juga menyangkut kerja tim dan kepekaan membaca bahasa tubuh. Apabila tukang tidak klop dengan tukang satunya, bisa-bisa “hatinya tidak sampai”, begitu istilah Mas Agus. Pekerjaan jadi terhambat, lambat, bisa saja dikarenakan tukang yang satu berlagak bos dan suka memerintah (padahal yang punya rumah biasa-biasa saja). Saya sepakat bahwa bertukang itu seni, ada batasan-batasan yang perlu diperhatikan sekaligus jadi ruang berkreasi.

Pelajaran yang saya ambil: mengenali karakter itu perlu. Mas Agus bercerita, ada orang tertentu yang diam saja kalau kesal, tapi jika pamit pulang kampung kemudian tidak kembali.

Karena kecenderungan manusia memang suka (dan butuh) berbagi, sangat dimaklumi jika ada yang gemar bercerita begini dan begitu. Namun saya garisbawahi betapa baiknya menjadi pendengar yang tidak “kompor”. Misalnya tidak berkata, “Enya ih meni dadaekanan gawe garingan.” (Iya ih, mau-maunya kerja nggak dapat makan/ngopi doang).

Terus terang, saya tidak senang mendengar omongan, “Jangan samakan editor dengan tukang,” atau “Jangan perlakukan penerjemah seperti tukang ketik.” Hei, kenapa memangnya dengan tukang dan juru ketik? Itu kerja halal. Tidak ringan pula, kalau mau dirunut detailnya. Semasa saya bekerja di rental komputer departemen pencetakan (alias berdiri di sebelah printer), mata saya terlatih mengecek hasil print yang tintanya menipis pertanda harus segera diisi ulang dan di-print ulang. Juga memeriksa salah ketik. Jadi bidang yang tampak remeh itu bekal penting untuk seorang korektor naskah sekian tahun kemudian.

Ini sama saja dengan komentar Mbak Esti saat kami tandem menerjemahkan TCV dan umpatan yang saya tulis dinilai kelewat halus. Gimana lagi ya, saya pernah mengonversi makian ke buah-buahan dalam pergaulan sehari-hari (bukan dalam buku)… katanya aneh. Sedangkan binatang jadi objek serapah, tidak tega juga. Ayo kalau mau adil, jangan selalu mengumpat, “Buaya! Monyet! Badak! Kuda nil!” Pakai juga, “Kucing! Kelinci! Marmot! Belalang! Ikan sapu-sapu!” Sungguh hobi perbandingan yang kepinginnya dihindari, tapi sulit dielakkan.

Bila sudah berkecimpung sekian waktu selaku pekerja lepas, tentu Anda amat familier dengan keluh-kesah seputar kompensasi. Ketik kata kunci “freelance” di Google, pasti ada barang satu-dua hasil pencarian menyangkut urusan honor dan kroni-kroninya. Acap kali ini membuat saya termenung.

Katakanlah saya berharap dibayar sepantasnya. Sudahkah saya menawar dengan santun ketika membeli sesuatu dari pedagang keliling atau di pasar? Masihkah saya mengomel sewaktu membayar tinggi seorang pekerja bangunan berjam terbang banyak dan hasilnya memang sepadan? Tepat waktukah saya membayar iuran penarik sampah? Sudah bisakah saya mengerti risiko kerja pengojek langganan atau menganggapnya, “Gitu doang kok”? Sudah lebih berempatikah saya pada petugas lapangan PLN atau berkeras menyebutnya “Kan sudah tugasnya”?

Dari seorang tetangga yang hidup sangat sederhana, saya belajar banyak. Beliau mengandalkan pohon pisang yang hanya dua dan sepetak lahan yang ditanami singkong untuk sehari-hari. Setiap kali panen, minimal tetangga terdekat dapat pisang itu. Kalau ada yang butuh daun singkong, selalu dipersilakan mengambil yang terbagus. Ini mengingatkan pada seorang penerjemah lepas yang berkata, “Sesungguhnya bekerja semacam ini mendorong kita belajar sekaligus memberi.” Tetap ada benang birunya bagi saya (bosan benang merah).

Contoh lain, juru pijat langganan kami yang laris bukan kepalang. Tiap akhir pekan, apalagi long weekend, kliennya berderet sampai dinihari. Orangnya halus sekali, sampai saya tidak berani berbahasa Jawa Tarzan seperti biasa jika Mas B (nama juru pijat itu) datang. Buku kami yang berserakan jadi pemandangan rutin yang memperjelas profesi, tentu saja. Mas B mengamati, lalu belum lama ini bertanya lewat SMS kepada Mas Agus, “Punya buku sejarah Jawa di masa pendudukan Belanda? Kalau boleh, saya ingin pinjam.”

Entah kenapa, saya terharu 24 karat.

 

 

 

 

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)