Cukup sering saya ditanya rekan penerjemah mengenai cara memperoleh tenggat panjang atau bahkan menentukan sendiri tenggat tersebut. Memang ada yang memiliki hak istimewa menggarap buku bahkan sampai satu tahun, karena satu dan lain hal.

Jawaban singkat saya waktu itu: harus berpengalaman dulu. Menurut salah satu penerjemah senior, Femmy Syahrani pun demikian. Tidak semua penerbit memberlakukan ini. Tentu saja penerbit harus kenal dulu penerjemah bersangkutan sebelum memberikan hak tersebut.

Caranya? Riset lengkap, terjemahkan dengan sebaik mungkin, dan minim typo. Ini mirip kiat yang saya ketahui apabila hendak meminta perpanjangan waktu (untuk proyek bertenggat biasa). Tidak masalah menambah satu-dua minggu, atau bahkan lebih dalam keadaan darurat (force majeure), selama hasilnya saksama dan memuaskan. Jangan sampai sudah terlambat, pekerjaan berantakan.

Berdasarkan informasi dari kolega lain, kapasitas dan “nama” penerjemah bersangkutan tetap diperhitungkan. Kesibukan dan kondisi pribadi sang penerjemah, misalnya kegiatan mengajar yang padat, membuat penerbit harus menunggu relatif lama. Namun tidak jadi masalah apabila penerbit sudah memercayai kemampuan penerjemah yang dimaksud.

Sependek pengetahuan saya, buku-buku yang memakan waktu panjang itu memang rumit dan membutuhkan riset khusus. Jadi penerbit/editor memberikan persetujuan pun bukan tanpa menakar lebih dulu. Di samping itu, penerjemah yang menangani proyek panjang ini sadar konsekuensi bahwa dalam sekian bulan atau bahkan setahun, dia hanya menerjemahkan satu naskah dan bisa dikatakan tidak mengejar perkembangan CV.

Semoga cukup dimengerti.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.