Sejak puluhan tahun silam, buku-buku klasik sudah dilirik untuk dialihbahasakan. Guna memudahkan pembaca, sekaligus memperluas target pasar agar semua kalangan (diharapkan) bisa menikmatinya, fiksi klasik tersebut ‘dikompresi’ dalam bentuk saduran. Salah satunya Great Expectations, karya Charles Dickens yang sudah diangkat ke layar perak. Pada tahun 1977, PT Gramedia (kini Gramedia Pustaka Utama) mengindonesiakannya. Naskah asli sepanjang 59 bab dirampingkan menjadi 31 bab saja.

Berikut ini nukilannya:

My father’s family name being Pirrip, and my Christian name Philip, my infant tongue could make of both names nothing longer or more explicit than Pip. So, I called myself Pip, and came to be called Pip.

I give Pirrip as my father’s family name, on the authority of his tombstone and my sister – Mrs. Joe Gargery, who married the blacksmith. As I never saw my father or my mother, and never saw any likeness of either of them (for their days were long before the days of photographs), my first fancies regarding what they were like, were unreasonably derived from their tombstones. The shape of the letters on my father’s, gave me an odd idea that he was a square, stout, dark man, with curly black hair. From the character and turn of the inscription, “Also Georgiana Wife of the Above,” I drew a childish conclusion that my mother was freckled and sickly.

Sumber dari sana

Nama keluargaku Pirrip. Nama pertamaku Philip. Tetapi aku tidak senang dipanggil Pirrip atau Philip. Maka aku memilih nama sendiri, yaitu Pip. Itulah nama panggilanku sehari-hari. Ayah dan ibuku sudah meninggal dunia sejak aku kecil. Mereka dimakamkan di sebuah kuburan di halaman gereja. Kuburan di negara Inggris memang biasanya di halaman gereja.

Kuburan itu gelap penuh dengan rerumputan yang tinggi-tinggi dan tidak teratur. Aku mengamat-amati batu-batu nisan di situ. Dari tulisan yang terdapat pada batu nisan ayahku, bisa kusimpulkan bahwa mungkin ayahku gemuk, dempal, kuat, serta berambut ikal. Sedangkan, kalau kulihat tulisan pada batu nisan ibuku, aku menduga bahwa kulit ibuku pasti berbintik-bintik. Dan mungkin ibuku adalah orang yang sakit-sakitan. Semuanya ini kuselidiki atas dasar bentuk tulisan yang terdapat pada batu nisan. Tulisan itu berbunyi: “Georgiana juga isteri orang tersebut di atas.”

Harapan Besar, hal. 3 Penyadur: Yulia Sri Haryani

 

Ada juga seri saduran Penerbit Elex pada tahun 2001, yang benar-benar bersumber dari buku saduran pula. Seperti Daddy Long-Legs (Jean Webster) dari Kodomo Sekai Meisaku Dowa 20 Ashinaga Ojisan. Mari membandingkan dengan teks aslinya, sebab andai ada akses ke yang Jepang pun, saya tidak mengerti bahasanya.

The first Wednesday in every month was a Perfectly Awful Day–a day
to be awaited with dread, endured with courage and forgotten with haste.
Every floor must be spotless, every chair dustless, and every bed
without a wrinkle. Ninety-seven squirming little orphans must be
scrubbed and combed and buttoned into freshly starched ginghams;
and all ninety-seven reminded of their manners, and told to say,
`Yes, sir,’ `No, sir,’ whenever a Trustee spoke.

dari sana

Namaku Jerusha Abbott. Nama yang aneh, kan? Aku juga tidak begitu menyukainya. Tapi apa boleh buat. Nama itu bukan pemberian kedua orangtuaku. Tapi nama yang diambil begitu saja dari buku telepon oleh pengurus Panti Asuhan John Grier. Benar!Rumah yang kutinggali adalah sebuah panti asuhan untuk anak-anak yatim piatu.

Story of the World 6: Ayah Berkaki Panjang, hal. 2-4. Alih bahasa: Nalti Kikuchi.

 

“Christmas won’t be Christmas without any presents,” grumbled
Jo, lying on the rug.

“It’s so dreadful to be poor!” sighed Meg, looking down at
her old dress.

Little Women karya Louisa May Alcott. Sumber

 

“Sebentar lagi hari Natal. Huh, kalau tak ada hadiah, mana bisa disebut hari Natal,” kata Jo sambil berbaring di atas karpet.

“Aku betul-betul tidak suka menjadi orang miskin!” Meg menambahkan sambil memandang gaunnya dari atas ke bawah.

Story of the World 5: Little Women, hal. 2. Penerbit: Elex Media. Alih bahasa: Nalti Kikuchi

 

Cedric himself knew nothing whatever about it. It had never been even mentioned to him. He knew that his papa had been an Englishman, because his mamma had told him so; but then his papa had died when he was so little a boy that he could not remember very much about him, except that he was big, and had blue eyes and a long mustache, and that it was a splendid thing to be carried around the room on his shoulder.

Little Lord Fauntleroy karya Frances Hodgson Burnett. Sumber

 

Cedric tidak begitu ingat wajah ayahnya, karena sewaktu Ayah meninggal, Cedric masih terlalu kecil. Cedric hanya ingat, ayahnya bermata biru, berkumis lebat dan Ayah kadang menggendongnya di pundak.

Story of the World 7: Little Lord Fauntleroy, hal. 4. Penerbit: Elex. Alih bahasa: Nalti Kikuchi.

 

Saya juga pernah menyadur buku ini untuk format novel komik, sebagai berikut:

Kalau kamu bertanya kepada Ceddie, “Seperti apakah papamu?”, maka dia akan berpikir sejenak dan mencoba mengingat-ingat wajah Kapten Errol. Terbayang olehnya seorang lelaki rama yang bermata biru.

Ceddie, hal. 6. Penerbit: Read!

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)