Zemanta Related Posts Thumbnail

[sws_yellow_box box_size=”100″] ana·lo·gi n 1 persamaan atau persesuaian antara dua benda atau hal yg berlainan; kias: 2 Ling kesepadanan antara bentuk bahasa yg menjadi dasar terjadinya bentuk lain; 3 Mik sesuatu yg sama dl bentuk, susunan, atau fungsi, tetapi berlainan asal-usulnya sehingga tidak ada hubungan kekerabatan; 4 Sas kesamaan sebagian ciri antara dua benda atau hal yg dapat dipakai untuk dasar perbandingan [/sws_yellow_box]

[sws_blue_box box_size=”100″] per·um·pa·ma·an n 1 perbandingan; ibarat: masak ibumu kauumpamakan parasit, keterlaluan ~ mu itu; 2 peribahasa yg berupa perbandingan: ~ nya adalah bagai anak ayam kehilangan induk; [/sws_blue_box]

Sumber: KBBI Offline 1.5.1

 

Salah satu keuntungan menerjemahkan dan menyunting bagi saya adalah mengasah penulisan analogi dan perumpamaan tanpa disadari. Memang otomatis menerjemahkan dan menyunting menambah pengetahuan menulis. Semisal di satu novel fantasi ada perumpamaan “warnanya pink seperti (maaf) muntahan kucing”. Menurut saya itu kreatif sekali, minimal belum terpikir oleh saya. Jadi ingat dalam kuliah Pengantar Teori Terjemahan, dosen menerangkan bahwa keakraban budaya memengaruhi pemilihan kata dalam perumpamaan sekalipun.
Contohnya “seputih salju”. Dulu masih jarang sekali orang Indonesia bepergian ke luar negeri atau mendapat informasi dari media. Akibatnya, perumpamaan ini tidak sering digunakan. Tentu saja lain dengan sekarang. Makin banyaklah varian putih ini ada “seputih kapas”, “seputih susu”, “seputih cat tembok rumah sakit”, “seputih telur” dan sebagainya.
Lagi-lagi masalah budaya dan sejauh mana masyarakat (pembaca) familier terhadap istilah masih jadi pertimbangan. Bila hendak menggunakan “seputih bunga sedap malam” di naskah terjemahan, contohnya. Menilik konteks buku asli, perlu dicek lokasi ceritanya, adakah bunga sedap malam di sana? Kadang-kadang terpaksa dijatuhkan pilihan pada bunga yang relatif asing dengan tambahan keterangan atau catatan kaki demi kepentingan orisinalitas tadi.

[sws_blue_box box_size=”100″]Omong-omong, baca wiki di atas saya baru tahu bahasa Melayu “sedap malam” adalah “sundal malam”. [/sws_blue_box]

Kreativitas semacam ini pun diperlukan ketika menyunting naskah lokal, yang sewaktu-waktu membutuhkan penulisan ulang atau penggantian ungkapan/diksi agar pesan lebih tersampaikan dan suasananya lebih terasa. Contoh: untuk menggambarkan hubungan yang sebisa mungkin dijaga agar tidak kelewat akrab demi menghindari konflik namun sulit karena harus bertemu sering-sering. Saya memakai perumpamaan “ibarat kendaraan di jalan raya, jaga jarak aman”. Usulan Nur Aini “seperti landak, kalau jauh tak bisa berkomunikasi, tapi bila berdekatan, saling menyakiti”.

Apa yang kita lihat dan ada di sekitar dapat menjadi inspirasi analogi baru. Pagarnya, terutama di buku terjemahan, adalah ketidakleluasaan agar tidak bablas memadankan. Tetap diusahakan sedekat mungkin dengan naskah sumbernya.

Salah satu pengibaratan yang cukup sering saya temui di cerpen-cerpen remaja tahun 90-an adalah deskripsi ketampanan seseorang. Semisal, “cowok mirip Chris Cuevas itu”. Bagi generasi sekarang, tentu saja Chris Cuevas amat asing. Lebih pas diganti Justin Timberlake atau Jason Mraz, tergantung usia dan profil karakternya. Keterangan perihal ini diuraikan dalam buku Menjadi Penerbit, kalau tidak salah dalam tulisan Ibu Widya Kirana. Jelas subjektivitas ketampanan tokoh pilihan ini menjadi hak penulis, meskipun penyunting berpendapat lain.

Repotnya jika penerbitan naskah tertunda cukup lama sehingga tren sudah bergeser. Namun bila suasana dan konteks sangat kuat, pembaca biasanya mengerti bahwa orang, merek, atau produk tersebutlah yang naik daun kala itu.

[sws_yellow_box box_size=”100″] Pikir-pikir, rasanya yang diibaratkan sama tampan/cantik itu selalu artis mancanegara. Asia pun jarang. Mungkin di sinilah sisi baik hebohnya K-pop dan teman-teman, walau saya pribadi sulit membedakan paras anggota boyband yang satu dengan lainnya:p [/sws_yellow_box]


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Mengolah Perumpamaan ”

  1. gravatar Aini Reply
    October 18th, 2013

    Yang landak itu aku dapet dari manga dan anime, Mbak 🙂 Pernah liat penjelasan panjangnya, tapi lupa lagi di mana 😀

    • gravatar Rini Nurul Reply
      October 18th, 2013

      Ooh kirain karena kuliah Nui berkaitan dengan biologi dan hewan, jadi otomatis koneknya ke sana, hihihi…

Leave a Reply

  • (not be published)