Saya pernah dengar, “diksi adalah selera penerjemah”. Menurut saya, tidak selalu. Kadang kita harus setia betul pada makna kalimat dan tujuan-tujuan lainnya. Seperti beberapa contoh di bawah ini.

A: He decided that this was going to be a terrible day, one of those days when it’s best to stay in bed because everything is going to turn out bad.

T: Ia merasa bahwa ini akan menjadi hari yang buruk, salah satu dari hari-hari dimana kau sebaiknya tetap di tempat tidur saja karena segalanya akan berakhir kacau.

E: Ia berfirasat bahwa hari ini tidak akan lancar, salah satu hari ketika kau sebaiknya tetap di tempat tidur saja karena segalanya akan kacau.

K: Masalah pilihan kata/diksi, selain itu ‘dari’ setelah ‘salah satu’ menghambat kelancaran kalimat.

 

A: Alex was convinced that he had the dumbest dog in history, the only eighty-pound Labrador ever bitten by a deer.

T: Alex merasa yakin bahwa ia memiliki anjing terbodoh sepanjang sejarah, satu-satunya anjing Labrador seberat empat puluh kilogram yang pernah digigit oleh seekor rusa.

E: Alex merasa yakin bahwa ia memiliki anjing terbodoh sepanjang sejarah, satu-satunya anjing Labrador seberat empat puluh kilogram yang pernah digigit rusa.

K: Sebisa mungkin kata penghubung dihindari demi kelancaran dan keterbacaan kalimat. Demikian pula ‘seekor’.

 

A: In the four years of his life, Poncho had been attacked by raccoons, the neighbor’s cat, and now a deer — not counting the times he had been sprayed by the skunks and they’d had to bathe him in tomato juice to get rid of the smell.

T: Dalam masa kehidupannya selama empat tahun, Poncho pernah beberapa kali diserang raccoon, kucing tetangga, dan sekarang seekor rusa—tanpa menghitung kejadian-kejadian saat anjing itu disemprot oleh sigung dan mereka harus memandikan Poncho dengan jus tomat untuk menghilangkan baunya.

E: Dalam usianya yang baru empat tahun, Poncho sudah beberapa kali diserang rakun, kucing tetangga, dan sekarang rusa—belum lagi saat anjing itu disemprot oleh sigung dan mereka harus memandikan Poncho dengan jus tomat untuk menghilangkan baunya.

 

A: Louis got out of bed without disturbing Peter and got dressed, shivering.

T: Louis turun dari tempat tidur tanpa mengganggu Peter dan berpakaian, sambil bergidik

E: Louis turun dari tempat tidur tanpa mengganggu Peter dan berpakaian, sambil menggigil.

K: ‘Bergidik’ berkonotasi takut, sehingga yang pas adalah ‘menggigil’ untuk konotasi kedinginan.

 

A: Dad was not exactly a good cook; the only thing he knew how to do was pancakes, and they always turned out like rubber-tire tortillas.

T: Dad bukanlah tukang masak yang handal; satu-satunya yang bisa ia buat adalah panekuk, dan masakan itu selalu berakhir seperti tortilla rasa ban karet.

E: Dad bukanlah tukang masak yang andal; satu-satunya yang bisa ia buat adalah panekuk, dan hasilnya selalu seperti tortilla rasa ban karet.

K: Pilihan kata agar kalimatnya tidak terlalu berasa terjemahan.

 

A: That did nothing to help his relationship with his teacher, whom Bobby considered to be a pathetic little worm whose goal was to make his life miserable.

T: Hal itu tidak akan memperbaiki hubungannya dengan gurunya, yang menurut Bobby adalah seekor cacing menyedihkan yang tujuan hidupnya hanya untuk membuat hidup Bobby menderita.

E: Hal itu memperburuk hubungannya dengan gurunya, yang menurut Bobby adalah seekor cacing menyedihkan yang tujuan hidupnya hanya membuat Bobby menderita.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)