Sudah diganti pelapisnya, dijahitkan sepupu.

Mungkin benar, tanda-tanda berumur adalah sering mengenang masa lalu. Alkisah ketika beberes rumah dan mengganti kasur lipat depan TV (digilir, tepatnya) dengan kasur yang lebih tebal di foto ini, kami jadi senyum-senyum. Ingat bahwa kasur itu sudah berumur 8 tahun, alhamdulillah awet. Masa itu kami masih numpang di rumah kakak di Bandung Selatan, belum mampu beli tempat tidur sendiri. Karena cuaca di sana tidak terlalu dingin, saya masih kuat tidur gelaran. Mas Agus membeli kasur lipat berdalaman busa ini di toko perabot yang lumayan banyak di sana, suatu malam Minggu karena lalu lintas pun masih jauh lebih ramah.

Sewaktu diboyong kemari, bagian bawahnya dialasi papan agak tinggi dan tikar. Lantai sudah dikarpeti. Tetap saja, hawa dingin lebih berkuasa di sini. Saya sering kesal karena slug pagi-pagi nekad naik dan meninggalkan jejak lendir di kasur. Namun ketika kami punya rezeki, Mas Agus memutuskan memesan tempat tidur karena saya mulai batuk-batuk tiap malam. Kalau tidak salah tahun kedua kami tinggal di lereng gunung ini, alias tahun kedelapan perkawinan kami. Tercapailah keinginan saya sejak lama, punya tempat tidur besi seperti semasa kecil:)

“Pikir-pikir, kita belum pernah beli selimut sendiri ya?” kata Mas Agus. Memang banyak barang kami yang merupakan lungsuran, warisan, atau pemberian keluarga. Paling banyak selimut, karena Mama sudah merasakan dinginnya hawa di sini tengah hari sekalipun. Bed cover lebih sering saya jadikan selimut, sekaligus penutup tempat tidur kalau malas berbenah:p. Selimut “asli” milik kami hanya satu, yang tipis tapi hangat. Belinya tahun 2008 ketika Bapak dan kakak-kakak nginap di sini. Bukannya tak mau beli lagi, tapi sekian kali ke toko belum lihat yang cocok. Kemarin saya lihat selimut bahan handuk, namun Mas Agus tidak berminat.

Maunya seprai hitam polos. Sebenarnya warna putih dan yang terang-terang tidak cocok untuk kami.

Seprai pun sama. Seprai pertama kami adalah hadiah pernikahan dari mendiang Ibu, dari batik warna merah hati yang sejuk. Sekarang sudah banyak sekali robeknya dan difungsikan sebagai penadah bocor di pojok ruangan. Kami beli seprai sendiri baru dua tahun yang lalu, karena nemu yang polos. Satunya lagi yang ada di foto atas, dan sudah cacat sedikit lantaran kesalahan teknis mencuci.

Omong-omong cuci, alhamdulillah tak lama setelah pindah ke rumah sendiri kami bisa beli mesin cuci. Tokonya lumayan jauh dari sini, tapi jadi semacam langganan dan toh mereka mau mengantar ke rumah. Ngantarnya masih sore, malu juga sih ketahuan tetangga habis belanja:D Waktu itu harganya satu juta kurang sedikit (sajuta kurang haneut kata orang Sunda), dari honor menerjemahkan. Itulah proyek Sangkuriang terakhir saya.

Nah, kalau setrikaan sudah beli sejak di Selatan. Enaknya di sana memang dekat ke supermarket, toko kelontong, dan pasar. Mungkin orang gengsi ke Soreang, inginnya belanja ke kota saja (begitu kami menyebut Bandung). Namun menurut saya, kalau ada yang dekat buat apa buang-buang ongkos? Apalagi sekarang macetnya bukan kepalang. Biar saja orang mencemooh karena di jalan-jalannya banyak kotoran kuda, tapi di Utara sana delman jadi semacam perangkat wisata. Para keponakan kecil senang sekali naik delman tiap berkunjung, karena di Jakarta nggak ada.

Kembali ke setrikaan, benda itu baru ganti tahun ini. Bukan karena rusak, tapi berat dan tangan saya lekas pegal. Belinya lagi-lagi di kota sebelah, sebab di malnya sudah ada toko elektronik. Sudah jelas, ada setrika baru tidak berbanding lurus dengan rajin menyetrika.

Kami memang pasangan santai (rasanya pernah nulis tentang Pengantin Santai, tapi lupa di buku mana). Sewaktu pindah 6 tahun lalu, satu buku nikah dan buku tabungan saya terselip. Kami yakin sekali dua benda itu tidak hilang, hanya keseringan diangkut-angkut (baca: pindahan) dan terlalu rapi mengepaknya. Yang diceritai sudah pada gemas menyarankan lapor atau diurus ke bank, tapi alamak… jauh nian kantor bank itu dari sini. Ketika beberes besar-besaran tiga tahun kemudian, barulah buku-buku tersebut ditemukan… di salah satu dus di bawah tempat tidur. Ternyata bersabar bisa dijalani secara menyenangkan, oleh dua orang cuek ini:D

Apakah barang paling awet? Salah duanya kursi rotan warisan almarhum Bapak dan TV pemberian Teteh ketika masih lajang. TV ini sudah bolak-balik ganti remote karena saya sadis kalau memencet. Belum lagi terinjak di karpet beberapa kali. Pernah terpikir membeli layar flat, tapi… lihat harganya saja sampai sekarang masih eman-eman. Kursi rotan sudah kami taruh di teras dan kena hujan segala macam, lantaran terasa sesak di dalam. Hendak dihibahkan, kata Mama, “Jangan! Itu bapakmu beli jauh-jauh ke Lembang, 400 ribu dulu itu susaaaah ngumpulinnya.” Memang tahan lama sih, pompa air kami saja sudah dua yang rusak.

Saya menghormati dan ikut senang mendengar pasangan-pasangan yang langsung berbelanja segenap isi rumah begitu menikah. Tapi untuk kami yang mudah berubah pikiran, perkawinan adalah penyesuaian. Begitu sudah ketemu titik tengah yang insya Allah ajek (tapi fleksibel), baru deh beli bertahap. Dari segi psikis dan sosial, ini banyak untungnya. Tidak menyesal karena buru-buru memutuskan, di antaranya.

Selain itu, buat kami menggunakan barang lungsuran bukan tabu. Alhamdulillah saya dan Mas Agus sama-sama dibesarkan dalam keluarga yang membiasakan berbagi dan sistem pakai jika masih berfungsi. Jauh sebelum kampanye ramah lingkungan dan sebagainya disebarluaskan.

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)