IMG_20130517_095018

Terdorong menulis ini setelah membaca itu. Saat internet sudah naik daun dan iklan baris gratis pun tersedia, saya tidak berani mempromosikan jasa di sana baik untuk menerjemahkan secara umum maupun buku. Semata insting yang mencegahnya. Saya lebih sering menelusuri kalau-kalau ada yang membutuhkan penerjemah dan bersedia mempekerjakan orang tanpa tatap muka/tidak sekota, sebab waktu itu belum familier dengan Google. Dengan kata lain, saya tidak tahu teknik pencarian yang tepat dan kata kunci yang tepat pula. Modal saya hanya e-mail yang untungnya tidak tergoda menggunakan nama aneh-aneh. Belum pula ada blog atau jejaring sosial yang dapat dijadikan media mempromosikan diri lebih luas.

Syukurlah insting itu tidak keliru. Saya pernah membaca di suatu blog yang sudah ditutup, penerbitan jarang sekali melirik penerjemah yang beriklan. Di kemudian hari saya mengamati riskannya mempromosikan jasa di situs iklan baris atau media sejenisnya di dunia maya, yakni dihampiri spam. Dengan begitu, beriklan relatif tidak efektif.

Entah naif atau kurang termotivasi, di masa-masa sepi order saya tidak terpikir “mengadu untung” di penerbitan luar Bandung. Saat itu yang saya tahu hanya dua penerbitan dalam kota. Pernah dikenalkan dengan seorang editor lewat e-mail oleh seorang teman baik, tapi saya tidak mengejar respons beliau. Belakangan, sekitar dua tahun lalu, saya bertemu editor ramah itu yang ternyata CEO penerbitan tersebut.

Jadi ngapain aja selama masa “surut” itu? Saya lebih banyak membaca buku, mengamati nama-nama penerjemah dan editor.

Otomatis ketika punya akun media sosial sekitar 6 tahun lalu, saya kembali jadi pemain baru dan tergagap-gagap. Tidak bisa saya mungkiri, itulah salah satu saluran order. Tawaran pertama berasal dari seorang editor in house yang mengontak japri bahwa kantornya membutuhkan penerjemah buku Prancis.

Berikut beberapa pengalaman konyol saya selaku penerjemah baru:

  1. Mengikuti tes tanpa bertanya dengan jelas. Ada kesalahan informasi, penerbit mensyaratkan hasil tes menggunakan Track Changes. Setahu saya, itu untuk editor. Tapi saya sok manut saja. Pasti editor geleng-geleng membacanya:))
  2. Ketika mengirim e-mail untuk melamar ke suatu penerbitan, tepatnya mengajukan permohonan tes, saya mengobrol dengan seseorang yang pernah bekerja sama dengan penerbit itu. Dia menyarankan saya menulis e-mail semeyakinkan mungkin, kalau perlu panjang dan menyebutkan buku-buku favorit terbitan mereka. Sungguh, saat membaca lagi akhir-akhir ini, saya malu banget. Berlebihan. Dhyan-lah yang mengajari saya menulis singkat saja dan lebih efektif:)
  3. Tidak merapikan CV online saat baru punya blog. Tataletaknya berantakan, ejaan belum disesuaikan, dan mencantumkan pengalaman yang kurang relevan. Boro-boro menyertakan gambar sampul buku. Saya belajar membenahinya dari Femmy.
  4. Salah mengirimkan sampel terjemahan. Memang sesuai dengan CV yang kebanyakan menyebutkan pengalaman menggarap buku klasik. Wajar saja kalau editor memberikan tes buku klasik juga, yang ternyata susah bukan buatan.
  5. Main “tembak”. Sungguh, ini tidak pantas ditiru. Waktu itu saya sedang semangat-semangatnya belajar menerjemahkan dan menemukan suatu yayasan yang mencari tenaga sukarela. E-mail balasan mereka manis sekaligus menohok, “Terima kasih atas minatnya, Mbak Rini. Tapi Anda ini siapa, kok misterius benar?”
  6. Malas back-up. Keterampilan saya memformat komputer sendiri memang meningkat karena kesabaran (dan omelan) kawan teknisi. Tapi kalau sudah menyadari pentingnya pengamanan data, saya tidak perlu panik atau mutung waktu laptop mendadak hang, blank, atau berwarna biru dengan bip-bip menyeramkan. Kecerobohan yang merugikan, padahal sudah terjadi berkali-kali ketika saya menjadi editor majalah. Psst… saya baru punya flashdisk tahun 2005, itu pun hadiah ulang tahun dari sahabat. Belum sadar pentingnya harddisk eksternal, belum kenal Google Drive juga.
  7. Gampang ngambek dan bad mood ketika membaca komentar “selintas” tentang karya terjemahan saya. Misalnya kalau ada yang bilang lebih suka baca buku aslinya, membandingkan terjemahan saya dengan mahapakar, tidak berniat beli karena tak suka sampulnya, dan lain-lain. Kalau saya “cuma” geram sekarang, dan tidak tergelitik untuk “melayani”, rasanya seperti kemenangan besar melawan diri sendiri:)
  8. Mengira editor PASTI membaca semua buku terbitan kantor. Dengan kesibukan mereka yang melimpah, tidak jarang apa yang dikerjakan tim divisi lain dan hanya bertetangga ruangan pun tidak sempat mereka ketahui. Apalagi bila buku yang diterbitkan sangat banyak.
  9. Menerjemahkan testimoni dan halaman hak cipta. Saya baru tahu belakangan setelah menjadi editor, sinopsis pun sering ditulis sendiri. Profil penulis tidak perlu ditambahkan jika tak tercantum. Karenanya, sinopsis yang sudah diterjemahkan dihapus oleh penyunting. Namun soal testimoni, kadang dicantumkan di buku nonfiksi.

 

Karena cemas tenggat tak terpenuhi, saya jadi “pertapa” selama menerjemahkan. Melangkah keluar rumah harus pikir-pikir seribu kali. Sekarang kecepatan saya menerjemahkan biasa-biasa saja, tidak seperti Ken Terate, namun bisa santai dan berani turun gunung sebentar ketika pekerjaan sudah setengahnya rampung. Yang belum berubah, jika menunggu lama, saya suka berhitung, “Kalau dipake kerja, udah dapat sekian halaman nih…”

Pelajarannya: walaupun pernah jadi pekerja lepas, saya ternyata tidak otomatis pintar membawa diri dan teliti ketika mulai lagi.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Menjadi Penerjemah Baru ”

    • gravatar Rini Nurul Reply
      March 17th, 2014

      Aamiin… Terima kasih, Mas. Salam kenal:)

Leave a Reply

  • (not be published)