IMG_20130521_085625

Ini pengalaman Mas Agus, yang barangkali berguna untuk Anda yang hanya ingin menerjuni bidang penyuntingan. Pencantuman “saja”, artinya bukan merangkap penulis atau penerjemah.

Sejatinya, menyunting sudah mencakup dua hal itu. Ketika menggarap naskah terjemahan, misalnya, otomatis harus bisa menerjemahkan sedikit-sedikit dibantu insting menemukan kekeliruan/kemelesetan. Mas Agus memilih tidak menjadi penerjemah baik dari bahasa Arab maupun bahasa Inggris karena lebih mampu menyunting. Di samping itu, saat harus menerjemahkan pun temponya cukup lambat.

Sebagaimana yang saya ceritakan di situ, Mas Agus memulai dari nol sebagai juru ketik. Tentu saja bermodal minat baca yang lumayan, bertahap menjadi ghostwriter dan editor di luar penerbitan.

Bagaimana ceritanya sampai dipercaya menjadi editor lepas di penerbit?

Dites, proses paling lazim.

  1. Sekitar akhir tahun 90-an-awal tahun 2000, Mas Agus membaca pengumuman tes editor di sebuah penerbit ternama yang kini sudah berganti nama (merger dengan penerbit besar lainnya). Tesnya berupa menyunting terjemahan dan dibuat ala kompetisi, pemenang akan dijadikan penyunting lepas di penerbit yang terkenal “susah ditembus” itu. Materinya novel sastra, lalu dia tidak lulus. Lebih dari 10 tahun kemudian, dia ikut tes lagi di penerbit yang sama sebagai proofreader dan lulus. Satu kali mengoreksi naskah, lalu diorder menyunting. Keduanya buku lokal.
  2. Tahun 2010, saya menginformasikan padanya ada tes online penyunting terjemahan bahasa Arab khusus buku agama Islam di suatu penerbit. Kalau tidak salah, di FB. Mas Agus berminat, mengirim CV dan lamaran via e-mail, lalu dibalas materi tes. Dia mengerjakan serius meski mengaku ragu mengubah. Ini problem khas editor mana pun. Karena tidak dikabari, kami mengira Mas Agus gugur. Ternyata editor penerbit itu mengontak saya setahun kemudian via PM, menanyakan hubungan saya dengan Mas Agus dan membahas tes tersebut. Intinya, baru ada naskah yang cocok dan kembalilah Mas Agus ke “jalan lurus”.
  3. Dia baru berani mencoba jadi editor terjemahan bahasa Inggris di awal tahun 2012. Saat itu penanggung jawab lini romance sebuah penerbitan yang sudah bekerja sama dengan saya membutuhkan bantuan editor lepas lebih banyak. Dia ragu-ragu mengontak beberapa kolega karena kebanyakan enggan bersentuhan dengan genre ini. Saya mengajukan Mas Agus yang bersedia asalkan dites dulu. Seminggu kemudian, editor tersebut menghubungi lagi dengan e-mail sbb:

[sws_blockquote_endquote align=”” cite=”” quotestyle=”style01″] Seperti janji minggu kemarin, hari ini saya akan umumkan hasil tesnya ya. Dan naskah Mas Agus lolos ujian ๐Ÿ™‚ Selamat ya. Saya sudah selesai baca editan Mas Agus dan hasilnya cukup rapi. Meski begitu ada beberapa hal yang mungkin perlu dicermati:… [/sws_blockquote_endquote]

Lalu dia langsung diorder. Buku yang jadi bahan teslah materinya.

 

Ditawari. Karena Mas Agus tidak (mau) memiliki akun media sosial, tawaran datang ketika dia bertemu muka dengan relasi. Sewaktu mengantar saya ke kantor penerbitan, dia berkenalan dengan editor suatu lini buku anak yang berbincang-bincang dengan saya. Karena banyak yang harus dikerjakan sedangkan waktu relatif singkat, sang editor melimpahkan juga sebagian tugas pada Mas Agus selaku proofreader.

Rekomendasi kolega. Dari temu muka, ngobrol-ngobrol, dan beberapa kali kerja sama, ada editor yang merekomendasikan Mas Agus pada penulis kenalan beliau. Setelah melihat suntingan Mas Agus yang sudah terbit, penulis merasa cocok dan menghubunginya.

 

Ihwal kesulitan menerjemahkan yang saya ceritakan di atas, Mas Agus berterus terang bahwa koreksi terjemahan yang relatif berat diserahkan pada saya. Tentu tidak banyak. Bila keseluruhan atau hampir senaskah itu butuh rombak bahkan nyaris diterjemahkan ulang, dia memilih mengembalikan saja dan diganti tugas lain.

Umumnya penerbit/klien yang menggunakan jasa kami tahu, seperti kelakar Mas Agus, “order 2 in 1”. Acap kali jika mengontak pun, editor bertanya, “Mbak Rini minat, ada waktu nggak? Atau mungkin Mas Agus?”

 

 


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Menjadi Penyunting Lepas (Saja) ”

  1. gravatar lulu Reply
    February 16th, 2014

    Salut dengan mas Agus (dan Rini juga sih) yang lebih memilih sebagai penyunting (saja). Kalau aku, setiap kali habis mengedit, pasti kangen menerjemahkan, demikian pula sebaliknya. Dua-duanya ngangenin ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

  • (not be published)