Setelah sekian lama, akhirnya saya bisa nonton film incaran ini.

 

Tak bisa dimungkiri, ceritanya sungguh inspiratif dan mengetuk perasaan. Pesannya bukan hal baru, tapi memang perlu disampaikan berulang kali. Meskipun tengah merawat orang sakit (yang berat dan berjangka panjang), jangan lupa melanjutkan hidup.

Selama empat tahun belakangan menjalani proses itu sebagai caregiver, rasanya “mustahil” memperhatikan diri sendiri dan meluangkan waktu untuk kepentingan pribadi. Padahal sebagian kalangan yang benar-benar peduli kerap mengingatkan, alangkah pentingnya merawat diri (terutama batin) sebab merawat pasien yang lansia, yang emosional, yang mood-nya naik turun acap kali berpengaruh pada kewarasan sendiri. Atau berdampak seperti yang dikatakan orang, “Bisa-bisa ikut sakit.” Walaupun capek memang sudah pasti (saya takkan berpura-pura mengenai ini), jika ikut sakit rasanya memang “rugi”.

CM160730-10493416

Baru terbukalah mata saya, mengingat sesama caregiver baik kenalan maupun handai tolan. Pantaslah bila mereka tampak “ringan” jalan-jalan sepulang dari rumah sakit, mampir ke suatu tempat seusai pemakaman atau menjenguk kerabat lain yang juga sakit, tetap kuliah, bekerja, piknik, dan macam-macam lagi selama masih dalam kategori “sewajarnya”, Tentu saja, ukuran wajar ini amat subjektif. Namun terus menjalankan hidup sangat mungkin mendekati taraf ikhlas atau berdamai dengan keadaan.

CM160729-15581201-1-1

Karena itu saya putuskan, mudah-mudahan bisa konsisten, untuk tidak lagi merasa bersalah. Berhenti sejenak di sela prosedur pengobatan dan rumah sakit yang panjang untuk melakukan kegiatan lain, lebih baik daripada misuh-misuh karena petugas kesehatan belum datang, misalnya. Lagi jemu ke dokter, ya saatnya menyiapkan registrasi bocah kuliah, membantu PR (sambil banyak mainnya), makan buah yang disukai, memperbaiki laptop sambil jajan keperluan kerja, minum teh, tidur siang, cuci piring, main dengan kucing, foto-foto pemandangan… semoga saya bisa lebih sabar karenanya.

Seperti kata anak muda sekarang, “Jangan lupa bahagia.” Kata Pak Sekretaris sih, “Aja klalen ngguyu.”


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)