Kelanjutan postingan ini.

Menyunting antologi perlu strategi khusus, misalnya ketika satu kontributor menulis lebih dari satu cerita. Sebisa mungkin saya memberinya jarak, bahkan dari ujung ke ujung apabila perlu. Lebih-lebih jika hanya satu kontributor itu yang lolos lebih banyak. Bukan isapan jempol bila saya mengatakan, kejadian seperti ini menimbulkan kecemburuan kontributor lain dan kadang penyunting kena getahnya sebab dikira tahu-menahu perihal seleksi kendati sudah diumumkan jauh-jauh hari bahwa pengumuman dan keputusan koordinator (alias yang empunya hajat) tidak bisa diganggu gugat. Lain halnya jika sang empunya hajat, yang biasanya mencantumkan nama paling depan, itulah yang terbanyak tulisannya. Ini dipandang sangat lumrah.

Masih soal biodata, seperti yang pernah saya bahas, suatu waktu saya sampai harus merepotkan editor lain yang menyunting antologi serupa. Saat itu beberapa kontributornya sama dengan yang berpartisipasi di naskah yang saya sunting. Guna mempersingkat waktu, editor tersebut mengirimi saya data yang sudah masuk dan jadilah saya tak perlu mengejar-ngejar kontributor yang belum menyerahkan profil singkat.

Pernah, tanpa sengaja terbentuk subtema yang memudahkan penataan urutan naskah. Sesuai arahan koordinator, saya mendahulukan tulisan-tulisan yang berbau kelahiran dan ditutup dengan cerita-cerita perihal kematian. Sebenarnya jika saya diberi keleluasaan, saya ingin mengurutkannya selang-seling supaya ada grafik yang dinamis.

Kali lain, saya mengurutkan tulisan paling bagus (dalam arti rapi dan enak dibaca sehingga sedikit pembenahannya) lebih dulu. Namun dasar saya masih keteteran belajar, saat ditengok lagi, sebenarnya tulisan itu masih perlu pembenahan juga. Banyak istilah dalam bahasa daerah yang, entah mengapa, tidak diberi catatan kaki atau sekadar terjemahan dalam tambahan kalimat oleh penulisnya.

Bagaimanapun juga, semua itu pengalaman menarik dan berharga yang saya camkan ketika sekali-sekali terlibat sebagai kontributor antologi. Berinisiatif merapikan sendiri itu penting untuk meringankan tugas editor serta koordinator.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

2 Responses to “ Menyunting Antologi Nonfiksi ”

  1. gravatar Desak Pusparini Reply
    February 26th, 2012

    Wah, pengin deh jadi kontributor di sebuah karya antologi. Dijamin saya pasti akan mengirimkan tulisan yang serapi mungkin sehingga tidak akan merepotkan penyunting 😀

    • gravatar admin rinurbad.com Reply
      February 26th, 2012

      Kan sudah Mbak Desak, di buku Bahtera:)

Leave a Reply

  • (not be published)