monk2

Seperti yang pernah saya tulis di suatu tempat (lupa, mungkin juga di blog ini), motivasi buat saya tidak melulu berupa buku nonfiksi dengan genre spesifik. Motivasi bisa datang dari buku fiksi pula, dengan kemasan yang implisit. Ada yang mengaku “alergi” dengan genre ini, namun buat saya tidak masalah. Memang jadi PR dan keasyikan tersendiri untuk menggali serta mencari elemen inspiratif serta gaya tutur yang tidak menggurui di buku motivasi “murni”.

Lantaran merintis karier dari menangani buku nonfiksi, saya cukup kangen setelah sekian tahun berkutat dengan fiksi terus. Syukurlah Indra cukup mengerti saat saya menyampaikan minat mengedit terjemahan, sesudah berturut-turut menghadapi naskah lokal. Harus diakui, antrean yang menarik jadi pendorong tersendiri untuk menyelesaikan pekerjaan yang di depan mata.

Tadinya sih, saya hendak main “rahasia-rahasiaan” dari Lulu, penerjemah buku ini. Apalagi Lulu menerjemahkannya sudah cukup lama dan saya pikir, membetot ke “masa lalu” bisa membuyarkan konsentrasi Lulu dalam pekerjaannya waktu itu. Tapi tak ada salahnya mengabari, dengan harapan buku ini akan diterbitkan segera (“segera yang relatif tentunya”). Indra sudah mengatakan bahwa terjemahannya bagus sehingga saya tinggal bersenang-senang saja.

Kisah nyata seseorang yang banting setir drastis ketika tengah berada di puncak mungkin bukan hal baru, sehingga bukunya terbilang tipis. Robin Sharma memilih pemaparan dalam bentuk obrolan sang pengacara sukses dengan koleganya yang sama-sama merintis dari bawah, tengah menikmati posisi dan kesibukan duniawi, agar tidak terjerumus dalam kesalahan serupa. Tak ayal, ada sejumlah kutipan yang menohok dari buku ini. Di antaranya:

Menjadi lebih superior dibandingkan orang lain bukanlah kemuliaan. Kemuliaan sejati terletak pada menjadi lebih superior dibandingkan diri kita sebelumnya.

“Para orang bijak itu mengajarkan bahwa rata-rata manusia memikirkan sekitar enam puluh ribu pikiran dalam benak setiap hari. Tapi, yang membuatku terkejut, 95 persen pikiran tersebut berasal dari pikiran kita sehari sebelumnya!”

Yang bikin saya malu hati karena sering mengalami:

Beberapa dari mereka bahkan mencemaskan hal-hal yang lebih sepele: cara pegawai toko memperlakukan mereka atau komentar rekan kerja yang mencemooh.

Padahal saya sering melawan pikiran itu dengan bilang pada diri sendiri, “Kalau komentar itu harus bayar, pasti saya sudah tajir banjir.” Tapi rupanya usaha saya kurang keras.

Foto: Indradya

Saya paling suka deskripsi Julian tentang situasi desa Sivana yang menyejukkan, meski sulit membayangkan tidur di pondok dari rangkaian bunga (mungkin saya malah bersin-bersin). Yang terang, urusan kecemasan yang dibahas cukup panjang saya resapi benar, sangat membantu agar saya tidak menyerah mendukung terapi psikologis yang tengah dijalani ibu saya dan almarhum Bapak. Ibarat idiom/pepatah bahasa Inggris yang terjemahan harfiahnya “kita lewati jembatan kalau sudah di depannya saja”, saya bujuk beliau berdua untuk belajar “cuek” meski terkesan menipu diri. Dalam hal itu, sebenarnya Bapak juga yang mengajari saya. Ketika kami belum lama menikah dan Bapak tahu saya lagi kepikiran soal finansial, beliau bilang dengan santai, “Uang dicari kan untuk dipakai. Habis, ya cari lagi.” Atau ketika harga-harga naik, Bapak dan suami berkomentar, “Ada uangnya, ya beli. Nggak ada, ya jangan beli.”

Seperti dikatakan John dalam perbincangannya dengan Julian, mengubah kebiasaan sungguh jauh dari mudah. Saya sendiri masih belajar menangkis cemas seputar hal-hal konyol. Rupanya semakin detail saya berencana, semakin mudah kepanikan timbul. Pasalnya, saya lupa bahwa berencana juga harus menyertakan “siap mental kalau gagal atau berubah”. Tuhan sungguh baik memberikan kondisi yang melatih jiwa untuk fleksibel dan mempertemukan saya dengan orang-orang yang terampil mengelola emosi (bahkan belajar pura-pura tidak ada masalah). Saya sering nyengir sendiri ketika di musim kemarau yang lumayan panjang tahun ini, tetangga bilang, “Bu Agus dan Pak Agus kayaknya selalu punya air, ya.”

Nikmatilah momen istimewa yang diberikan setiap hari karena hari ini adalah hari yang kaumiliki.

Kembali ke pengerjaan buku The Monk, saya senang sekali dimintai masukan mengenai subjudul (yang akhirnya dipakai) dan sinopsis. Indra memberi gambaran jenis subjudul yang disukai, usulan saya sempat terkesan mirip buku agama atau kurang greget karena makna mendalamnya “nggak dapet”. Ini sinopsis yang saya tulis:

Bukan tanpa alasan, pepatah “Gantungkan cita-cita setinggi langit” dibarengi ungkapan “Pungguk merindukan bulan”. Ambisi dan impian besar tidak keliru, selama diimbangi kesadaran bahwa semua ada batasnya. Kisah pengacara tersohor yang meninggalkan gemilang karier dan kelimpahan materi ini membuktikan bahwa adakalanya kita perlu berhenti tancap gas.

Dengan bahasa yang menyentuh, Robin Sharma mengungkapkan pengalaman seseorang yang tersadar bahwa pencapaian besar bukan berarti mengesampingkan hal-hal yang tampak kecil. Justru yang sepele dan terlihat sederhana itu lebih sukar ditempuh, lebih sukar pula menyalakan kemauan untuk bergerak sedikit. Boleh jadi pesan-pesannya pernah kita temukan di suatu tempat, dari mulut orang lain. Namun perubahan tak berarti harus ekstrem, sebagaimana dipaparkan dalam beberapa contoh di buku ini.

“Jangan menjadi tahanan masa lalu, jadilah arsitek masa depan.”

Yang juga saya garisbawahi, uraian Julian yang tidak memaksa diet vegetarian seratus persen. Saya punya pendirian sendiri masalah pola makan dan di sini Julian Mantle mengatakan, yang penting tidak berlebihan. Kalau memang tidak bisa stop total, minimal seimbang. Saya bukan tidak mau hidup sehat, tapi setelah berhenti makan mi instan, minum soda, dan makan pedas… kalau harus menghentikan yang lain, rasanya hambar banget:p

Oh ya, penyuntingannya selesai dalam tiga hari saja dan catatan dari saya sedikit. Alhamdulillah disetujui pula dalam penyuntingan tahap akhir sehingga tak banyak yang diubah:)

 

Keterangan: semua foto jepretan Indra, di meja kerjanya


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)