fireside

Dari segi cerita, sudut pandang Bo Crutcher selaku karakter sentral pria “merampok” minat saya. Secara jeli Susan Wiggs mengaitkannya dengan karakter lain di buku terdahulu tanpa mengundang protes. Saya pribadi tidak keberatan, misalnya, Daisy dan keluarga tidak memegang peran utama di sini namun kehadiran mereka tetap penting dalam membangun cerita. Sependek pengetahuan saya, tidak banyak pengarang buku seri yang mampu melakukan itu.

Tempat tenang seperti Avalon acap dijadikan pelarian, begitu pun dalam kisah ini. Susan Wiggs memilih bandara, termpat orang banyak berangkat dan kembali, menanti dan menimbang, sebagai poros awal drama yang memikat. Di tangannya, bandara jadi tidak biasa. Saya suka sekali kalimat-kalimat penutup Susan ketika akan berganti bab. Terasa filmis, semisal ini:

“Ini aku, Bo Crutcher. Ayahmu.”

Mudah saja tenggelam dalam uraian Fireside, ketika Bo kesulitan menghadapi putranya yang baru bertemu setelah sekian tahun. Saya teringat film Old Dogs yang menawan, juga Imagine That dan The Game Plan. Yang terakhir ini cukup mirip karena Bo seorang atlet dan Kim bertugas membenahi imej profesionalnya. Kembali unsur dunia kerja yang relatif jarang ini mengundang perhatian saya, dan sering kali menimbulkan gelak tawa.

Seperti buku-buku Susan Wiggs lainnya yang sudah saya baca, Fireside terasa “satu frekuensi”. Kim menyebut-nyebut Stephen King, Bo membicarakan Gabriela Sabatini, hei rupanya kami seumur:)) Makin berkaca-kacalah saya lantaran banyak hal yang mirip, antara lain:

[sws_blue_box box_size=”100″] Tidak peduli apa pun, hari pertama sekolah menakutkan. Aku tidak tahu adakah cara mempermudahnya. [/sws_blue_box]

Bukan hanya ihwal single father, ada juga single mother yang baru berusia dua puluhan dan berjuang merawat anaknya yang masih bayi.

Pengalaman tak kalah menariknya adalah ikut merumuskan kalimat pilihan untuk pembatas buku. Ini tidak mudah, mengingat selera sedemikian subjektif dan kadang tidak sepaham pula dengan desainer:) Tetap saja, seru. Saya berusaha mencari kalimat yang tidak terlalu panjang tapi “mengena”, berdasarkan pembatas buku-buku yang saya amati.

Usulan saya sbb:

Karena kau alasan utama untuk semua rencana besarku.

Mungkin kita sudah melakukan banyak kesalahan, tapi kita benar dalam satu hal yang penting.

Kutipan pertama yang terpilih, ditambah kalimat berikutnya, “Mencintaimu selama sisa hidupku.”


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)