fools rush in.indd

Setelah All I Ever Wanted yang padat dan manis, hati saya makin tercuri oleh karya Kristan Higgins. Sebagaimana tergambar di sampulnya, romantisme yang disuguhkan mengandung warna berbeda. Di buku terdahulu cenderung lembut dan penuh drama keluarga, Fools Rush In relatif lebih bikin tergelak-gelak.

Begitu piawainya sang pengarang sehingga menorehkan kesan berlainan di hati tiga orang yang terlibat langsung dengan naskah ini: Dhyan selaku penerjemah, saya selaku editor, dan Mei selaku penanggung jawab sekaligus pembaca akhir (lapis kedua, lapis pertamanya seorang rendah hati yang enggan disebut namanya). Dhyan ingat suatu adegan yang sempat membuat saya tertawa cukup lama, karena itu pernah saya khayalkan secara iseng sewaktu nonton film-film romantis. Tidak sangka Kristan Higgins menuliskannya. Apa adegannya? Silakan baca sendiri:))

Mei teringat saat Millie, wanita muda yang menjadi tokoh utama novel ini, mengendap-endap mencari kesempatan untuk berpapasan dengan Joe. Mungkin tidak salah seorang wanita berpengharapan dan menaruh hati sedemikian lama pada seorang lelaki, selama dua-duanya lajang dan bukan milik siapa pun. Tapi saya tak ayal geli melulu. Itu seperti cermin semasa remaja, masa-masa yang kata teman saya, “Pas naksir cowok, lihat genteng rumahnya aja udah girang banget.” Sibuklah saya mengingat-ingat, “Dulu kayak gitu nggak ya?”

Selain adegan yang sama dengan kenangan Dhyan di atas, favorit saya adalah persaingan antarsaudara perempuan (sibling rivalry). Tepatnya antara Millie dan Trish, kakaknya. Lagi-lagi pengarang memperlihatkan kejelian bahwa dalam perkara ini, banyak bahan yang bisa diolah. Berikut yang membuat saya tersenyum sekaligus terhanyut,

“Sama-sama,” Trish menyahut. Ia menyapu kursi sebelum duduk.

Berusaha tidak mengertakkan gigi, kuambil dua cangkir keramik terakhir peninggalan Nenek, hadiah pernikahannya, meletakkannya di cawan yang transparan dan mencemplungkan beberapa kantong teh. Bukan untuk membuat Trish terkesan, tentu saja, karena itu tidak mungkin terjadi. Tidak, hanya menunjukkan kepadanya penduduk Cape Codder masih sedikit berkelas.

 

“Kita tidak perlu mencemaskan biaya kuliah Danny kalau saja Gran membagi rumahnya untukku juga,” Trish berkata sambil membetulkan gelang emas di pergelangan tangannya yang ramping.

 

Aku tidak tahan lagi. Aku mengentakkan kaki yang mengenakan sepatu Nike. “Trish, demi Tuhan! Kau sudah setengah jam di sini dan belum juga sadar berat badanku sudah turun sepuluh kilo sejak Natal. Rambutku dua puluh senti lebih pendek dan tiga kali lebih terang. Aku bukan adik itik buruk rupamu lagi! Mungkin Joe meneleponku karena dia pacarku!”

 

Hanya cinta yang membuat Millie konyol, selebihnya dia cukup dewasa dan berkarakter. Seperti biasa Kristan Higgins menghadirkan hewan piaraan dan profesi dokter, yang sama sekali bukan tempelan belaka. Kembali pada Joe dan Millie, pesannya sangat jelas:

Mungkin pria idamanmu ganteng. Tapi siap-siaplah terkejut. Atau barangkali… itu ganjaran menguntit?:))


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)