good girls dont

Bermitra dengan pasangan memang menunjang kelancaran kerja. Apalagi Mas Agus lebih sering memegang historical romance, bukan harlequin yang cenderung modern dan pop. Dia masih terkesima oleh “keajaiban” dunia perbukuan. Misalnya seri yang ditulis Victoria Dahl ini.

Buku keduanya sudah lebih dulu selesai diterjemahkan, dan rampung pula diedit… saya [Bocoran: akan terbit awal bulan depan]. Mudah jadinya, ketika naskah ini datang ke meja suami. Tinggal tanya-tanya saya ini siapa, ini bagaimana karakternya, kemudian menunjukkan pada saya untuk menyeragamkan gaya penyuntingan dan lain-lain. Pasalnya, sudut pandang Good Girls Don’t ini didominasi wanita.

Namun seperti kata saya, gaya penulisannya lebih lincah dan plotnya relatif cepat dibanding genre sejenis. Ini kisah seorang wanita muda, anak perempuan satu-satunya sekaligus bungsu dari tiga bersaudara, yang berusaha keras agar dianggap dewasa. Paling tidak oleh abang tertuanya. Ada problematika bisnis keluarga, walaupun tak terlalu mendalam.

Seingat Mas Agus, penerjemahnya berhasil mengikuti ritme penulis. Wajarlah bila dia mengerjakan editannya cukup cepat. Tidak ingat berapa lama, tapi tidak sampai sebulan.

Menurut kami, covernya sangat mewakili kesegaran sampul asli dan terobosan gaya penulisan itu, yang kabarnya mulai menjadi tren. Wajah dan penampilan wanita di cover ini persis bayangan kami. Jempol untuk desainer, Mas Marcel A.W, dan Mei selaku PIC yang memilih gambarnya.


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)