“Gimana kalau lanjut saja ke buku kedua?” demikian balasan e-mail editor in charge ketika saya menyetorkan hasil suntingan Wolf of the Plains. Saya langsung mengiyakan, meski berdebar-debar karena khawatir dikejar jadwal terbit kendati buku kedua ini lebih tipis daripada yang pertama. Sungguh gembira ketika mengetahui bukunya hardcover sehingga tidak tertekuk-tekuk, font-nya pun tidak membuat mata saya harus bekerja keras.

Take the orders you are given, but keep your dignity

All great men have enemies, emperor

When you are tired, never speak of it and others will think you are made of iron.

When you are frightened, hide it. No one else will know and whatever causes it will pass.

.. but there was no point looking back at bad decisions.

Knowledge is not dangerous. Only the man is dangerous

What I have begun cannot be given up

“Do not call a man “friend” as you leave him to be killed.”

Berkat penerjemahnya yang kampiun, cerita bagus yang dituturkan amat piawai oleh Conn Iggulden ini membuat saya kangen terus. Ibarat membaca, saya ingin membalik halaman demi halaman tanpa kenal waktu. Bahkan ketika membeli jaket yang lebih tahan udara dingin menusuk saat cuaca ekstrem melanda, saya memilih yang dilengkapi tudung ¬†berbulu. Tidak sengaja sebenarnya, tapi kata Mas Agus, “Kamu kayak Temujin.”:D

Pada hari-hari itu juga kami menyempatkan nonton tayangan sebuah TV lokal Bandung mengenai musim dingin dan perburuan di daerah Mongol, selain membaca referensi yang ada.

Kendati jarang membuka buku aslinya, saya berani simpulkan bahwa gaya tulis Conn Iggulden amat efisien, maskulin, sekaligus menciptakan warna kisah historis yang dramatis dan kadang-kadang filosofis. Gurauan sarkastik abang-adik seperti dialog Kachiun dan Temuge, adik bungsu Genghis yang dianggap paling lemah karena tidak mampu bertarung, misalnya, membuat saya tergelak-gelak. Suasana penaklukan yang kental, penuh darah, lama-kelamaan menjadikan saya kian terbiasa dengan hal-hal yang baru pertama kali ditemui dalam penyuntingan dan pembacaan. Contohnya memakan daging manusia yang dijadikan sup dan bunuh diri massal di sebuah kota.

Dua kali saja saya harus membaca ulang keseluruhan naskah untuk menilik konsistensi beberapa kata. Secara garis besar, menyunting novel istimewa ini menjadikan saya editor yang berbahagia:)


Istri, penggemar thriller psikologis, menulis untuk bersenang-senang.  Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.


Author: Rini Nurul

Ngeblog bukan "guilty pleasure". Blog-lah rumah, sedangkan jejaring sosial hanya pos ronda.

Leave a Reply

  • (not be published)